Desty Sri Lestari

  • Home
  • Resensi Buku
  • Puisi
  • Cerita
    • Opini
    • Jejak
      • Episode Baru Bagian Pertama
      • Ia Bernama Ranah Mengaki
      • Drama Magang, dari ICC loncat Kemenag JakSel
      • Sosok Bapak

hi, little one. this will be my firts journal that i written about you, yeay!

hari ini, selasa 21 Januari 2025 sekitar pukul 02.00 dini hari, the first time i know that you were in my belly. Rasanya campur aduk banget sampe gatau harus berekspresi seperti apa. I felt so happy and very moved and blassed at the same time. Malem ini ibu belum berani kasih tau papah kalo kamu ternyata udah ada di perut ibu karena ibu kepikiran kasih surprise ala-ala buat papah di pagi hari sekalian make sure tespek ulang lagi. Akhirnya setelah melewati perasaan haru biru sendirian di jam 2 dini hari, ibu  memutuskan untuk melanjutkan tidur meskipun nyatanya tetep susah tidur karena masih campur aduk hihi.

rencana kasih surprise ala ala untuk papa akhirnya ga terealisasi dengan mulus karena ibu gasabaran haha, pagi itu setelah tespek ulang rasanya pengen cepet-cepet kasih tau papa aja haha, padahal dianya juga masih tidur 👻

akhirnya dengan gasabarnya ibu, ibu bangunkan papa yang masih tidur ibu dan nunjukin hasil tespek semalem dan pagi hari ini di depan matanya, hahah tau ga sayang gimana reaksi papa? xixi

haha reaksinya ya kaya orang bangun tidur pada umumnya karena belum connect tapi pas engeuh sama apa yang ibu pegang dia langsung takbir, bilang gini 'Allahu akbar, astagfirullah, alhamdulillah sambil kenyep kenyepin mata dan bilang apa ini sayang? beneran? xixixixix terus ibu ga jawab apa apa cuma peluk papah deh, yang ibu tangkep dari raut muka papah dia ngeblank sekaligus don't know how to express his feeling si, sama kaya ibu semalem huhuhu.

makasi ya sayang udah ngasih rasa syukur dan kebahagiaan untuk kami di pagi ini, sehat terus ya kamu sampe nanti kita ketemu. we love you, little one, our sweet heart 🥹💖




      Malam tadi selepas tarawih, aku bergegas merapihkan tempat tidur, membersihkan sela-sela kasur dan bantal dengan sapu lidi, sedikit dipukul-pukul dengan harapan debu-debu yang menempel di atasnya bisa hengkang dan tidak mengganggu tidurku malam ini. Selepas merapihkan beberapa sudut ruang kamar dan beberapa barang yang setiap ingin beranjak tidur tak bisa ku abaikan berserakan bukan pada tempatnya, ku lanjut membawa diri menuruni setiap anak tangga rumah menuju lantai satu dan berhenti persis di depan kamar mandi. Ya, rutinitas sebelum tidur, harus bersih-bersih. 

Rasa kantuk yang tadinya sudah di ujung sadar saat melaksanakan tarawih, tiba-tiba hilang seketika saat air dingin mulai merembas ke tiap permukaan kulit wajahku, membangunkan saraf-saraf di area mata dan sekitarnya, memulihkan setengah kesadaranku yang hampir hilang karena kantuk. Ah segar. 

Hal ini tentu berbeda dengan saat-saat aku bergegas merapihkan tempat tidur agar bisa segera terlelap dengan harapan dibuai mimpi indah sesegera mungkin. Air dingin khas malam hari membawa kembali kesadaranku. Kesadaran yang membawaku pada barisan buku di sudut kamar, tergoda menghampirinya, mungkin sedikit membaca bisa kembali membawa rasa kantukku, gumamku dalam hati.

Akhirnya ku putuskan memilih buku bergenree novel dengan tebal halaman sekitar 130 halaman. Lumayan untuk sekedar jadi alasan menunggu rasa kantuk menyerang, alasan lain memilih buku ini sudah pasti karena ‘sepertinya” ringan di baca, setidaknya tubuhku yang sejujurnya sudah merasa sedikit lelah bisa sedikit lebih santai menerima bahasan sederhana dan tidak terlalu menguras otak berlebih untuk memahaminya. 

Ipung judulnya. Buku ini dulu aku dapatkan sekitar tahun 2013, bertepatan saat menghadiri sebuah acara seminar bedah buku. Buku yang aku dapat sebagai hadiah selepas mengajukan sebuah pertanyaan di acara tersebut, entah pertanyaan macam apa pula yang ku ajaukan saat itu, lupa. 

Di halaman pertama ku tulis namaku sebagai pemilik buku tersebut, lengkap beserta tanggal saat mendapatkannya dan dibumbui dengan sedikit goresan kata “Kenangan seminar kang Abik” yang dicap dengan tanda tangan rumit, terkekeh geli melihatnya, melihat tanda tanganku di sana tentunya, panjang dan ribet.  

Buku Ipung menceritakan tentang seorang murid sekolah bergengsi di Semarang. Ia yang memiliki popularitas di sekolahnya karena keberaniannya. Keberanian yang sepadan dengan kecerdasan bakatnya, bakan mengolah kata-kata, bakat menyelesaikan persoalan, bakat yang pesonanya menyihir setiap mata dari berbagai kalangan, muda, dewasa, hingga yang lanjut usia. Ia yang memiliki bakat untuk di cintai, ya kecuali wajahnya. Wajahnya, yang sebenarnya tidak terlalu buruk tapi jika dibandingkan dengan anak-anak murid di sekolah itu yang mayoritas adalah anak-anak orang kaya dengan penghasilan yang menggila, tentu ia yang hanya berasal dari sebuah desa kecil di sebrang sana nyaris tidak ada apa-apanya. Namun hanya itu kekurangan yang terlihat di kehidupannya. Bukan Ipung namanya jika ia yang terkenal seantero Budi Luhur karena ketidaklaziman keberadaannya justru tidak disenangi oleh para gadis, para guru hingga kepala sekolah, bahkan sampai pada Douglas, sahabat besarnya yang berprofesi sebagai satpam sekolah. Yang paling membuat iri para teman kaya nya adalah sosok para gadis yang terang-terangan menyukainya, tak terkecuali Paulin. Paulin si bintang paling terang di sekolahnya. 

Laju jam menunjukan pukul 23. 00 WIB, kantukku belum kunjung tiba, sepertinya aku bisa membabat habis buku ini dalam semalam, pikirku. Akhirnya dengan sedikit pertimbangan ku putuskan untuk menyelesaikannya malam ini saja. Sepanjang ini, bagian seru versiku dalam buku ini belum kunjung terlihat, hal itu membuatku penasaran tentunya karena jika melihat sekilas beberapa pujian untuk Mas Prie di novel ini seperti menyimpan satu ledakan tentang sosok Ipung. Ledakan yang sepertinya sederhana, namun dalam.

Menurutku, kisah cinta Ipung dan Paulin hanya sebatas latar pelengkap kisah cinta romantis  ala-ala remaja di novel ini. Alur ceritanya biasa saja. Sederhana dan ringan. Jauh dari kisah cinta sejati khas tokoh-tokoh besar. Meski dibalut kisah cinta yang sedikit menoreh kepahitan, jauh di dalam cerita ini ada kesederhanaan yang penulis sampaikan tentang pembelajaran hidup. Ya, lewat tokoh Ipung. Keberanian yang menjadi modal utama untuk melangkah sedikit lebih maju. Mengelola bakat yang nyatanya turut andil menjadi penghantar manusia menghadapi persoalan hidup. Menjelma sosok Ipung, manusia dengan segala keterbatasan sosialnya namun tetap digemari banyak orang. 

Bagian 11 dalam kisah ini sedikit menyihir naluri perempuanku yang mengharapkan bisa bertemu dengan sosok Ipung di kehidupan nyata. Ipung yang ditulis mas Prie dengan pola pikirnya yang sedikit tidak wajar dari kebanyakan orang. Namun siapa sangka itulah daya tariknya. Misterius dan penuh tanda tanya, dilengkapi bakat kata-kata yang ia punya. Bakat negosiasi yang menjadi nilai tambah kecerdasan berpikirnya dalam menyelesaikan setiap persoalan sederha. Perempuan manapun pasti akan lemah dengan tutur kata ajaibnya. Sederhana tapi dalam. 

Sayangnya, Ipung harus berpisah dengan Paulin di halaman terakhir buku ini. Ipung yang kerap menyadari bahwa Paulin ternyata ikut andil dalam segala ketidakladziman yang terjadi dalam kisah hidupnya. Ipung yang baru menyadari bahwa Paulin memang alasan dari nyali besar dalam dirinya. Ipung, seperti judulnya, cerita ini syarat makna melalui pemeran utamanya.

Ipung #2, April 2021.




    Huaa akhirnya setelah sebulan penuh ga nengok laman blog, finally I’m back…

Berhubung waktu sudah menunjukan pukul 01.14 pagi, dan pastinya sudah memasuki tanggal 23 April yang sekaligus diperingati sebagai hari buku sedunia, kayanya aku mau sedikit cerita tentang buku yang baru saja rampung ku baca deh

Terhitung sekitar hari ke 3 di bulan Ramadhan tahun ini atau sekitar tanggal 15 April, aku berencana menyortir beberapa buku yang ada di bagian atas lemari bajuku. Biasanya buku yang aku taruh disana masuk ke dalam jenis buku pelajaran beberapa mata kuliahku. Tapi sepertinya aku ingin menggantinya dengan beberapa koleksi buku jenis novel atau jenis buku-buku memoir, puisi, dan beberapa buku bergenree self-help yang belum ku baca tapi belinya dari zaman kapan tau hehe. Akhirnya hari itupun aku mulai memilah milih. 

Singkat cerita, saat memilah-milih mataku tertuju dengan salah satu buku karya guruku semasa di pondok dulu, Namanya Ust. Saiful Falah. Aku mengingat-ingat, kapan ya aku beli buku beliau yang diberi judul 0km ini. Ah, rupanya aku ingat buku ini diberikannya secara gratis sebagai bentuk cendera mata dari beliau karena dulu sempat diberi amanah mengisi sebuah acara di pondok. 

Saraya pikiran melayang ke masa-masa di pondok, matakupun kembali menuai rasa penasaran setelah membaca tagline di bawah judul singkat itu dengan tulisan “perjalanan 3 benua 9 negara”. Sepertinya aku tertarik baca buku ini deh, berhubung aku juga lagi pengen banget baca tulisan motivasi gitu, pikirku.

Selepas merapikan buku-buku yang ku susun di bagian atas lemariku, akupun mulai membuka halaman pertama buku tersebut. Alhamdulillah tadi siang baru rampung ku baca secara keseluruhan.

Menurutku, buku tersebut sangat ringan dengan gaya bahasa yang sangat mudah dipahami, ceritanya pun beragam dengan latar belakang tempat yang juga demikian. 

Di bagian pertama, kisah tersebut di mulai dari negeri Upin Ipin, ya Malaysia. Ada sekitar 5 kisah yang penulis paparkan di negeri ini. Bercerita seputar perjalanan beliau saat masih berumur 25 tahun. Di bagian ini menurut pendapatku masih belum terlalu asyik memang, karena hanya menjelaskan seputar kegiatan beliau saat diundang untuk ikut pelatihan kepemimpinan madrasah di sana, meski begitu tak dapat dipungki banyak pelajaran yang bisa kuambil dari perjalanan beliau di Malaysia ini. 

Di bagian kedua aku dibawa loncat ke negeri Australia, ada sekitar 8 delapan kisah yang disuguhkan dengan latar tempat di negeri ini. Di bagian ini aku mulai sedikit tertarik dengan beberapa budaya Australia, meski di sini penggambaran tentang Australia itu sendiri, masih kurang detail dijelaskan. Tapi jangan salah, setelah membaca buku ini aku jadi sedikit tahu bagaimana usaha seorang muslim mencari makanan halal di Australia, meski ujungnya pilihan terakhir hanya memasak indomie hihi. Mudah-mudahan ada rezeki dan kesempatan ya untuk bisa terbang kesana (amin yang kenceng)

Lanjut ke bagian tiga, buku ini membawaku ke negeri Thailand. Sayangnya di bagian, tak banyak yang bisa ku jelaskan, entah saat membaca bagian ini aku sedikit mengantuk atau benar-benar sedang tidak fokus, yang jelas di negeri ini kesan yang ku dapatkan hanyalah sebatas gambaran besar saat penulis naik angot thai dan beberapa jamuan khas Patani yang diterima penulis. Kalo kalian kepo, bisa baca aja ya bukunya (hehe)

Selanjutnya ada negeri Singapore, Qatar, Saudi Arabia. Dari ketiga tempat ini yang menarik perhatianku adalah saat di Green Library Singapore dan Taj Mahal Jeddah Saudi Arabia. Aku memang selalu penasaran dengan penyediaan fasilitas perpustakaan di negara-negara maju. Green Library ini sebenarnya ada di dalam gedung National Library  yang memiliki jumlah lantai sebanyak 16 tingkat dengan luas sekitar 103 M, sedang Green Library ini terdapat di lantai basement 1. Dari namanyanya saja sudah bisa di tebak konsep yang diterapkan di Green Library ini didominasi dengan warna hijau dengan hamparan menyerupai taman. Rak bukunya-pun unik karena di bentuk menyerupai batang pohon yang cabangnya mencakar atap. Dan pastinya di kisah ini masih banyak sekali hal unik lainnya. Bikin pengen kesana deh. Lain halnya saat di Jeddah, di kisah ini aku dibawa tenggelam dalam sejarah sepasang kekasih. Seorang suami yang teramat mencintai istrinya dan seorang istri solehah yang tidak serakah. 

Selanjutnya penulis membawaku menjelajahi negeri Sakura, Jepang. Dan bagian ini adalah bagian paling menyenangkan versiku hihi. Setiap cerita di bagian ini mempunyai kesan tersendiri di kepalaku. Entah saat membaca kisah tentang nenek Noriko Matsuda yang usianya hampir kepala delapan tapi masih gesit dan semangat untuk bekerja sebagai tukang kebun, atau saat berbicara tentang sosok Mr. Ammar yang bekerja sebagai pemilik restoran Halal Food di Osaka sekaligus ketua Asosiasi halal di sana. Mr. Ammar ini mengedukasi orang Jepang terutama tentang penyembelihan hewan. Menurutnya banyak daging yang diklaim halal tapi cara penyembelihannya tidak sesuai dengan syariat Islam. Jadi masih banyak yang belum mengerti sepenuhnya tentang esensi halal itu sendiri. Menarik si menurutku. Intinya setiap cerita di Jepang berhasil membawa imajinasiku ikut terbang dan merasakannya langsung. 

Negara kedua yang sangat melekat dikepalaku adalah Turki. Bagian dari cerita ini juga menyenangkan. Membaca setiap perjalanan di sana mengingatkakku pada impian 5 tahun silam, ketika impian menimba ilmu di negeri ini masih membara. Mendengar namanya saja seperti sudah terlitas keindahan kotanya, belum lagi jejak sejarahnya. Ah, ingin sekali menginjakan kaki di negeri ini. Bermain salju, berkunjung ke tiap sudut jejak- jejak sejarah Islam yang pada akhirnya bisa berjaya di sana berkat panglima terhebat, sultan Muhammad Al-fatih. Kisah di neberi ini mengajarkankku untuk lebih berani memperjuangkan impian. 

Negeri terakhir adalah Indonesia, cerita di sini tentu sangat beragam. Ada sekitar 11 cerita, kalo pembaca  penasaran silahkan di order ya bukunya hihi.

Selamat hari buku sedunia, mari sama-sama tingkatnya minat baca :)






   Sabtu pagi di akhir februari tahun ini, sekitar pukul 10.00 WIB bus yang akan menemani perjalananku dan keluargaku kali ini rupanya sudah terlihat di area parkir yang menjadi meeting point kami. Selepas menyempatkan diri berziarah ke makam mamah di pagi hari, aku bersama kedua adik perempuanku mulai bergegas memasuki bus, memilih kursi kemudian menata barang bawaan kami. Semua sanak keluargaku sudah mulai memadati bus, kamipun mulai berangkat dan membuka perjalanan ini dengan membaca doa bersama-sama, memohon agar selama perjalanan ini diberi kemudahan dan selamat sampai tujuan. Perjalanan kali ini akan kami tempuh sekitar  -+12 jam menggunakan bus dari Cianjur menuju kabupaten Tasikmalaya yang terkenal dengan salah satu situs peninggalan sejarah berupa goa alam dan makam waliyullah Syeikh Abdul Muhyi.  Makam ini terletak di daerah Pamijahan, Bantarkalong, Tasikmalaya. Untuk menempuh perjalanan sekitar 12 jam ini sudah dipastikan bahwa setibanya disana hari sudah gelap. Hal ini sengaja direncanakan agar saat berziarah nanti tidak terlalu sesak dengan pengunjung, terlebih karena kondisi pandemi saat ini yang mengharuskan kami (dan kita semua) untuk terus menerapkan protokol kesehatan. Sesampainnya di Bandung, kami berhenti untuk menunaikan shalat dzuhur  yang dijama taqdim dengan ashar, sekaligus mengisi perut yang sudah mulai meminta jatahnya, padahal saat dalam perjalanan segala macam makanan ringan masuk ke mulut dan dilahap dengan nikmat (wk). Sapanjang ini, jalanan masih terbilang lancar dan nyaman, paling hanya macet barang 15-20 menit di area rawan macet seperti saat memasuki tol Padalarang dan beberapa pusat perbelanjaan. Selepas menunaikan shalat kamipun melanjutkan kembali perjalanan menuju Tasik, sayangnya saat itu tak banyak yang bisa kuceritakan karena rupanya kantuk mulai menyerang kedua mataku, ditambah keadaan dalam bus yang terasa agak sedikit  hening karena hampir semua kursi dipenuhi oleh lautan mimpi anak adam (wk), maklum habis makan. Daah bobo dulu. 

Waktu menunjukan pukul 17.00 WIB, aku terbangun dari tidurku dikarenakan sebuah insiden kecil yang mengharuskan kami semua untuk turun. Saat kulihat sekeliling rupanya sudah memasuki daerah Tasik, seingatku namanya  daerah Ciawi. 10 menit sudah berlalu, kamipun melanjutkan perjalanan dan berhenti di masjid daerah Raja Polah untuk menunaikan sholat Magrib dan bersiap untuk menyantap makan malam. Langit sudah gelap, setengah jam sudah berlalu, kamipun bergegas menaiki bus dan kembali duduk dikursi masing-masing. Di dalam bus,  beberapa dari kami bercengkrama sambil sesekali menertawakan film lucu yang sedang diputar, sebagian lainnya adapula yang tertidur. Biasanya, saat melihat jalanan malam terasa menyenangkan bagiku tapi karena kondisi sekitar jalan yang sangat minim lampu dan terasa sedikit berliuk-liuk, hal ini justru membuatku sedikit bosan dan kembali merasakan kantuk. Akhirnya kuputuskan untuk kembali memejamkan mata. Pukul 10 malam lewat beberapa menit akhirnya sampai, beberapa sanak saudara mulai saling mengingatkan agar bersiap-siap untuk turun, memeriksa kembali barang-barang berharga seperti dompet, hp, atau sejenisnya yang baiknya dimasukan kedalam tas yang akan dibawa.  Kamipun turun, dimulai dengan bismillah memulai berjalan kaki menuju makam terlebih dahulu yang dikepalai oleh paman kami selaku pemandu wisata rohani kali ini hihi. Untuk sampai ke makam Syekh Abdul Muhyi, kami menempuh sekitar kurang lebih 600-700 meter dengan berjalan kaki. Meski begitu, berjalan disana sangat tidak terasa karena disamping kanan kiri kami, banyak sekali pusat perbelanjaan yang siap memanjakan mata juga bisa dijadikan oleh-oleh khas setempat. 

Waktu menunjukan pukul 23.00 atau sekitar pukul 11 malam, sampailah kami di depan gapura yang yang bertuliskan “Selamat Datang di Makam Waliyullah Syekh Haji Abdul Muhyi Safarwadi di Pamijahan”  di ujung jembatan berwarna putih hijau. Setalah melalui gapura tersebut, kami masih harus melewati beberapa anak tangga untuk sampai ke bangunan persegi panjang menyerupai rumah. Oh iya sebelum memasuki kawasan makam, alangkah lebih baiknya mengambil air wudhu terlebih dahulu.  Di sekeliling tangga menuju bangunan terdapat kurang lebih 24 makam keluarga yang tidak terlalu menonjol. Terlebih saat itu kondisi agak sedikit gelap, membuat makam-makam di sekeliling tangga tidak terlalu terlihat. Setibanya di muka bangunan, di semua sudut dan ruang bangunan terdapat makam-makam yang berjumlah 11 makam dan tepat di bagian tengah bangun itu terdapat satu makam yang ditutupi oleh dinding dan beberapa gerbang yang digembok yang menjadi makam utama. Ada sekitar 6-7 peziarah lainnya yang terlihat di dalam bangunan saat itu, syukurlah tidak terlalu ramai saat kami sampai. Ziarah kali ini dipimpin oleh Om ada, salah satu paman kami. Sambil mengikuti tiap lapadz yang dilafalkan, kamipun hanyut dalam kekhusyuan. Oiya, perlu ditekankan ya, niat berziarah itu bukan untuk berdoa kepada yang wafat dalam artian ini Syekh Abdul Muhyi, tetapi berdoa hanya kepada Allah dengan wasilah Sang Waliyullah. 

Sekilas mengenai Syeikh Abdul Muhyi beliau adalah putra keluarga bangsawan melalui seorang ibu yang bernama  Ny. R. Ajeng Tanganjiah yang merupakan keturunan dari Raja Galuh (Pajajaran). Syeikh Abdul Muhyi lahir di Mattaram sekitar tahun 1650 M/1071 H. Beliau dibesarkan di Ampel/Gresik dan hidup dengan kedua orangtuanya sekaligus berguru kepada para ulama-ulama yang berada di Ampel. Dengan niat menimba ilmu lebih luas lagi, merantaulah beliau dari Ampel menuju Aceh diusianya yang masih 19 tahun untuk berguru kepada Syekh Abdul Rauf bin Abdul Jabar, seorang sufi dan guru tarekat Shattariyyah. 8 tahun mempelajari ilmu agama di Acah, saat menginjak usia 27 tahun, beliau beserta teman satu pesantrennya dibawa berziarah ke makam Syekh Abdul Qodir Jaelani di Bagdad oleh gurunya dan bermukim selama kurang lebih 2 tahun untuk menerima ijazah ilmu agama Islam. 2 tahun sudah mereka bermukim di sana, dan dibawalah mereka ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Selepas kepulangannya dari Mekkah, Syekh Abdul Rauf yang menjadi guru beliau menyampaikan pesan dan meminta Syekh Abdul Muhyi segera pulang dan mencari sebuah gua di bagian barat pulau Jawa untuk menetap dan bermukim. Menurut pemaparan AA Khaerussalam dalam bukunya Sejarah Perjuangan Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan, Syekh Abdul Rauf pada saat menunaikan ibdah haji di Mekkah mendapatkan ilham yang  konon diantara para santrinya akan ada yang mendapat pangkat kewalian. Pada ilham itu, dinyatakan bahwa tetika tanda-tanda itu telah tampak segeralah ia sampaikan untuk memintanya pulang dan mencari sebuah gua di daerah jawa bagian barat untuk menetap. Tanda-tanda tersebut rupanya tertuju pada Syekh Abdul Muhyi bahkan saat masih berada di Mekkah. Begitulah sedikit kisah tentang Syeikh Abdul Muhyi yang akhirnya mulai menyebarkan agama Islam di daerah Garut Selatan yang pada saat itu mayoritas penduduknya masih memeluk agama Hindu. Perjalanan beliau dalam menyebarkan ajaran Islam tak hanya sebatas di daerah Jawa Barat saja, tapi juga sampai ke pelosok-pelosok kampung halaman beliau. Tak heran, saat ia wafat di usia 80 tahun, para pengikutnya baik yang dekat maupun jauh saling berdatangan untuk mengunjungi makam beliau di Pamijahan dengan penuh rasa duka.


to be continue yaaa





Sewaktu fajar nyaris tiba

Ku nanti kamu

Sepasang mata yang hilang

Menebus janji pulang

Menghitung hari 

Mengulang lakon diri

Memecah sunyi

Di bait-bait puisi ini

Pertemuan bagai bahasa kebohongan

Rindu bagiku hanyalah kecurangan

Tentang bagaimana jarak terhalang signal

Waktu di dalam celengan

Seperti mabuk yang membuat pengar

Sedang rinduku hampir tanggal

Tapi kau tak kunjung tinggal


( Cianjur, 16 Oktober 2020)


Pagi ini kau ada 

Di sekelebat benda-benda

Sesaat sedang ku cari sisir—sisirku dikepala

Sisir berwarna biru kesayangan

Mengatur halus rambut yang awut-awutan

Helai demi helainya bak berisi kenangan

Seperti kau tengah menyimak kesedihan

Di ujung hati yang keruntang-pungkang

Mengenang kau yang pergi tanpa kabar

Sedang burung pelatuk raba-rubu 

Memecah hening di subuh nan dingin 

Pagi ini kau ada

Sesaat sedang ku cari gelas—gelasku di meja

Kepulan kopi panas menari diudara

Di seduh dengan sedikit sedih yang tak kunjung sudah 

Beriring rindu yang hendak tumpah

Ku intip bumantara

Langit malu-malu wajahnya 

Perlahan dilahap pendar baskara

Biru bergurat orange di pelupuk mata

Pecah, kerinduan anak adam ini muskil terasa

Pagi ini kau ada

Ku pungut kepingan rindu—Rinduku di kaca-kaca jendela

Sesaknya tetap di dada

Ia juga mengudara

Nyaris tak kenal rehat rupanya

Malam ini, kembali harap di kening seorang gadis yang hendak menarik selimutnya

Saban katanya riang menakhlilkan untaian kalimat yang genap diselimuti shyam

Ah, seperti malam-malam sebelumnya, ini masih sangat sama seperti biasanya, dingin bukan kepalang

Sedang jiwanya menunu bagai anala yang berkobar menuai percikan

Gelora yang nyaris tampak jelas lewat pesonanya disela-sela malam, lampu dan cahaya bulan

Hari ini, mungkin ia lalui dengan berlega hati dan rasa riang

Ah ya, sepanjang ini sudah banyak pengaduan yang diam-diam ia mohonkan dengan menadahkan kedua tangan ditiap malam

Tentu, saat hendak menarik selimut

Aku hampir lupa siapa diriku, setelah beberapa hari kubaringkan tubuh diatas ranjang sembari melamuni beberapa benda-benda berdebu yang tinggal, berikut impian yang hampir tanggal 

Aku hampir lupa siapa diriku, saat udara dingin tetap bersikeras menyelinap disela-sela selimut dan malamku, namun tak kunjung juga kutemui kosa kata baru

Aku hampir lupa siapa diriku, saat kebisuan serupa penyakit yang menyerang sebagian isi kepalaku 

Aku hampir lupa siapa diriku, saat beberapa langkah tetap keras kepala kujajaki, terseok tersungkur, terbentur, terbentuk lagi

Aku hampir lupa siapa diriku, saat alfa dalam do'a yang kupanjatkan teruntuk tubuh yang harus tetap ku kasihi dengan segala lebih dan kurangnya ini

Kini aku harus ingat kembali siapa diriku, bahwa perempuan harus lihai menyayangi diri sendiri, Ia harus pandai memeluk diri sendiri, cerdas memaafkan kealfaan diri, berbaiksangka pada setiap sulit yang nanti akan ia arungi kembali





Derita gadis menyanyat mengiris

Elokan nasib bagai tak digubris

Sorakan cita-cita hanya ilusi semata

Tanah jawa, toleh adat belaka


Kartini kecewa

Gadis-gadis dipenjara terlalu lama

Dunianya hanya sebatas tembok rumah 

sempit nan gelap pula

Kebodohan merajalela

Gadis-gadis tak punya kuasa

Dipingit dimadu mengais pasrah jiwa


Kartini mengaduh

mengayuh harapan untuk puan-puan jawa

Merongrong cahaya di fajar mendatang

Agar puan tetap jadi manusia yang 

dimanusiakan


Kau srikandi

Ayu bertopeng berani

Priayi bertopeng mandiri

Wanita inspirasi yang sejati


Terhitung 5 hari sudah, pikiran lagi ganentu banget arahnya kemana. Drama hati sama pikiran yang kadang ga sinkron rasanya makin ramai (ckck). Biasanya jika sedang diposisi mumet seperti ini, aku lebih sering di kamar, ngerjain beberapa kerjaan di kamar, alih-alih jika ada yang mengajak keluar untuk sekedar cari angin atau ngelakuin kegiatan di luar barulah mau ikut, jika tidak, aku bukan termasuk orang nekat yang bisa pergi dan enjoy kemana aja sendirian tanpa tujuan (ckck).

Well, Sekitar pukul 7 malam yang lebihnya entah berapa menit, Ridwan ngetuk pintu kamar. Dengan tidak ada tujuan lain selain bilang "mau ikut naik gunung ga?", Selain kaget, aku juga sedikit antusias dengan menanyakan beberapa pertanyaan seperti kapan, kemana, perempuanya siapa saja dan bagaimana teknisnya.
Ia menjawab singkat, besok lusa, ke Gunung Baud sambil sesekali menunjukan foto dan lokasinya, adapun dengan siapanya ia menjawab "kalo jadi kita berangkat 12 orang, 4 perempuan, 8 laki-laki" yang kesemua itu tak lain dari teman adikku. Pikirku waktunya sangat mepet, akhirnya aku hanya bilang nanti ku kabari lagi.
 Setelah memikirkan banyak hal, aku memutuskan untuk ikut dengan syarat adik perempuanku juga ikut, melihat yang justru lebih antusias dengan perjalanan ini dia, bukan aku, dan rasanya aku sedikit kasihan jika tidak mengajak, lagipula pikirku dia terhitung bukan anak kecil lagi setelah genap 17 tahun di bulan Juli ini, jadi rasanya dia juga bisa paham kondisi dan gambaran naik gunung seperti apa. Selain itu aku yakin bapak juga tidak akan begitu saja memberi izin, terlepas dulu aku pernah memberanikan diri minta izin naik gunung bersama teman-teman dan hasilnya malah dinasehatin bukan kepalang, bukan tidak nantinya saat adik perempuanku penasaran dilain waktiu dan diapun meminta izin untuk itu, hasilnya akan sama sepertiku, jadi kupikir kesempatan ini bisa jadi pengalaman untuk dia nantinya, mengingat alasan paling kuat bapak akan mengizinkan kami sepertinya karena adanya ridwan, saudara laki-laki kami. Dan benar saja, bapak mengizinkan meskipun harus sedikit memohon.

 Keesokan harinya, aku mengecek beberapa hal yang semestinya disiapkan, sedikit me-list beberapa perlengkapan lagi. Beberapa baju, camilan ringan, mie dan bihun instan, jaket tebal, kain, sikat gigi, dll tak lupa kumasukan. Terlepas dari secarik kertas yang berisi list keperluan, rupanya point penting yang juga harus kubenahi adalah mental. Agak sedikit drama si di bagian ini, tapi jujur perihal beberapa tantangan di gunung—yang kalian taukan itu gunung asing banget di kuping (ck), bahkan sampai ajang menginap di alam terbuka masih jadi hal yang aga sedikit horor dikepalaku. Pikiran-pikiran aneh tak jarang muncul, contohnya " kalo ketemu hewan buas harus gimana ya, bahkan sampai terlintas kalo aku gabisa tidur dan pasti sepi banget di gunung gimana ya ckck?" padahal berangkat saja belum lohh (dasar aku).
Kami berkumpul di point meeting selepas sholat dzuhur, ada info baru bahwa yang jadi ikut hanya 10 orang. Aga sedikit sedih si, karena jumlahnya berkurang. Rencana awal kami mulai mendaki sekitar pukul 13.00 WIB, tapi sayangnya ada beberapa kendala yang akhirnya pemberangkatanpun terpaksa tertunda sampai pukul 15.00 WIB. Sudah bisa dipastikan, kami masih dalam perjalanan saat gelap sudah tiba.
 Cuaca saat itu sangat terik sekali, sedikit menyengat dikulit meskipun sudah memakai baju berlapis, tak jarang debu jalanan juga ikut membuat mata sedikit menahan rasa perih. Meski begitu, syukurlah angin sepoy-sepoy masih bisa kami nikmati, masih lumayan dibanding harus bercucuran keringat. Aku dan adik perempuanku menunggu di warung kecil, tempat orang-orang melepas lelah setelah turun atau bagi mereka yang sedang bersiap-siap untuk naik, seperti kami. Disamping itu, anggota lainnya masih sibuk mengecek beberapa perlengkapan. Waktu sudah menunjukam pukul 3 sore, kamipun memutuskan untuk berangkat. Langit nampak teduh, perkiraan kami sepertinya tidak akan hujan. Doa bersamapun kami panjatkan, semoga senantiasa selalu dalam lindungan Tuhan dimanapun kami berada. Langkah mulai kami awali, suasana hutan mulai kami nikmati.


Aku lanjut nanti ya (hehe)


Dengan sedikit memberanikan diri aku memutuskan menulis cerita ini. Meskipun merasa sedikit kebingungan harus kumulai dari mana. Jadi jika dipertengahan cerita ini dirasa aga sedikit loncat-loncat alurnya, tolong dimaklum. Menulis tentang sosok bapak apalagi mamah selalu membuatku merasa cacat karena sulit sekali mendeskripsikan cinta kasih keduanya, rasanya tidak ada kata apapun yang mampu menggambarkan perjuangan dan kasih mereka yang begitu damai, cinta mereka yang begitu besar, keringat mereka yang tak hentinya bercucuran, dan ahh lagi-lagi sungguh tidak ada kata apapun yang mampu mendeskripsikan peluh dan dekap mereka. Tapi dengan segala kurang ini, aku ingin sekali menemukan cerita mereka di sisa waktu yang entah sampai kapan akan utuh seperti ini. Kali ini tentang Bapak.
 Semua orang yang mengenal bapakku pasti sudah tau tabiat dan sifat beliau seperti apa. Meskipun sedikit sekali kata-kata yang keluar dari lisannya, tapi aku tau betul banyak kasih yang beliau pendam dan lebih ia tunjukan lewat perbuatan dan kerja kerasnya selama ini. Iya, adalah orang pertama yang tak pernah kuragukan akan kerja kerasnya. Lain halnya dengan yang orang yang belum pernah bertemu dengan beliau, jika mereka melihat bapak lewat secarik foto, kebayakan pasti mengatakan bapak seram karena punya kumis yang lumayan tebal, perawakan yang terbilang cukup tinggi dengan badan besar dan kulit sawo matang. Teman-teman sd-ku dulu selalu bilang pak raden, karena mirip sekali dengan salah satu tokoh di serial "si uyil ini", katanya. Ciri khas yang paling melekat di bapak ialah selalu menggunakan jaket kulit,  jika tidak sudah dipastikan yang ia pakai adalah jaket loreng army. Beliau senang sekali mengoleksi berbagai macam jaket—selain mengoleksi barang² antik semacam batu giok (tapi ini dulu sekali). Oia selain jaket ciri khas lain yang melekat dibapak juga sering dipanggil pak haji padahal belum haji 😂, Pak haji misbah mau kemana? begitu biasanya.
  Bapak terbilang orang yang tegas meskipun sesekali keras, tapi perlu digaris bawahi tegas dan keras bukan berarti kasar ya. Bapak tegas dan keras hanya pada prinsip dan omongannya. Meskipun demikian aku tau bapak berhati lembut, hanya saja beliau sangat pandai menyembunyikan perasaaanya dihadapan kami. Beliau jarang sekali menangis, kecuali beberapa kali ketika aku pergoki sesaat setelah selesai menunaikan sholat, atau saat-saat kepergiaan mamah, itupun hanya sebentar karena tau jika ia menangis bukan tidak mungkin kami sebagai anaknya akan mencontoh yang demikian. Moment bapak menangispun jadi kejadian yang sangat langka terlihat. Aku hanya akan bercerita tentang bapak yang sekarang, bapak yang selepas kehilangan mamah.
  Sekitar awal 2014 lalu, mamah wafat karena penyakit yang diidapnya. Saat itu aku benar-benar terpukul karena harus kehilangan sosok mamah diusia sekitar 17-an itu. Bapakpun pasti demikian, apalagi jika mengingat adik terakhirku yang masih sangat kecil, baru sekali menginjak usia 3 tahun. 4 tahun sudah aku menjalani hari-hari di pondok pesantren dan jarang bertemu mamah karena setiap dijenguki mamah jarang sekali ikut. Kata bapak, kasian pasti akan capek sekali karena mamah tipikal istri yang jarang sekali keluar rumah dan melakukan berbagai macam aktivitas diluar rumah. Bapak memang perhatian. Keseharian mamah hanya mengurus anak-anak atas keinginan bapak. Sesekali juga mengurusi administrasi pengeluaran dan pemasukan usaha bapak. Sempat juga beberapa kali mencoba berjualan aneka kue dan cemilan ringan dari rumah, tapi itupun dibuat ketika memang ada pesanan saja—kebetulan saat itu bapak punya pegawai yang biasa membantu urusan transportasi barang dagangan. Bapak bekerja sebagai distributor sayuran dari petani yang kemudian disalurkan ke kota-kota seperti Bogor Jakarta Bekasi, sayuran tersebut ada yang masuk ke restoran-restoran ada juga yang masuk ke pasar-pasar. Selain distributor, bapak juga membuka satu toko sayuran dipasar, sayangnya selepas mamah wafat, bapak menutup toko sayurannya dengan satu dan lain alasan, alih-alih toko tersebut sekarang dikelola oleh saudara mamah. Memasuki tahun ke 7 pasca mamah wafat, banyak sekali kejadian-kejadian yang benar-benar membuat bapak jungkir balik bukan kepalang. Disitu juga mulailah kesan dengan sikapku terhadap bapak tumbuh. Aku bukanlah anak perempuan yang akrab dengan sosok bapak karena dari dulu menempel sekali dengan mamah, sehingga selepas mamah wafat aku aga kesusahan dalam setiap hal saat harus mengutarakan apapun pada bapak. Cerita-cerita tentang bapak jarang sekali aku dengar langsung dari beliau—sudah kubilang bapak tipikal orang yang sedikit bicara. Kebanyakan orang disekelilingku bilang bapakku hebat, bertahan seorang diri selama 7 tahun terakhir dengan mengurusi 4 orang anak—iyaa bapak belum ingin menikah lagi, katanya. Aku tau betul, yang dipikiran bapak selama ini hanya kebahagian anak-anaknya saja, meskipun tak jarang kami justru malah lalai mengurusi bapak. Bapak itu punya keyakinan yang kuat, pernah ketika aku sedang kebingungan saat di perantauan bapak mensehati 'jika belum sampai pada waktunya, manusia hanya bisa berikhtiar dan bertawakal terus dan terus', katanya. Meski tak banyak bicara dia mengajarkan kami bagaimana sikap gigih pada setiap apa yang sudah kami pilih, tangguh agar tidak melulu mengeluh, sabar, dan yang paling penting rasa tanggungjawab. Ini pelajaran paling mahal yang kutemukan dari bapak dan tak hanya ia tuturkan lewat perkataan malah justru aku temukan lewat perbuatan. Aku sungguh melihat bapak sebagai sosok yang penuh dengan rasa tanggungjawab.
  Selama quarantine day dan himbauan pemerintah untuk tetap #dirumahaja berjalan, aku semakin paham banyak kekeliruan yang selama ini salah kuartikan. Banyak ego yang seharusnya kudobrak duluan. Kalian hanya perlu memaklumi, aku bukanlah anak yang sering menghabiskan banyak waktu dirumah untuk waktu yang terbilang lama. Setelah lulus aliyah yang juga aku tempuh dengan merantau, kuliahpun juga aku tempuh demikian. Bapak juga  jarang sekali menginzinkan aku untuk pulang dengan alasan akan memakan banyak waktu dan menghabiskan jam belajar—sedikit banyak aku selalu menyempatkan laporan  jika sedang ingin mengikuti berbagai kegiatan kampus, jadi bapak paham kuliah tak melulu tentang belajar di kelas. Waktu paling lama yang kuhabiskan dirumah hanya berkisar 1-2 bulan kurang saat liburan semester. Untuk itulah selama hampir 4 bulan dirumah dan menjadi rekor paling lama dirumah bikin aku sadar akan banyak hal. Khususnya sikapku yang cenderung kurang terbuka terhadap bapak.
  Meskipun bapak bukan tipikal ayah humoris seperti yang aku idam-idamkan selama ini, atau romatis seperti kebanyakan orang yang kukenal, kami sebagai anak merasa beruntung sekali masih memiliki luasnya hati beliau. Apalagi saat aku mendengar cerita teman-teman terkait ayah mereka yang tak jauh beda kisahnya seperti ayahku—ditinggal sosok istri, Aahh jika aku ingin sudah berapa puluh pujian dari mereka aku sampaikan untuk bapak. Semoga sehat selalu menyertai beliau, sabar menjadi teman setianya, dan semoga panjang dan berkah umurmu pak.
Semenjak quarantine day yang terhitung sudah memasuki bulan ke empat ini, memang gabisa dipungkiri beberapa pola hidup aga sedikit bergeser karena banyak aktivitas yang aku—dan kita lakuin hanya #dirumahaja. Selain pola makan yang jadinya gakaruan, pola tidur juga rasanya malah makin ga kekontrol menurutku. Entah ada management waktu yang ketuker gitu aja karena dilakukan terus menerus dan tanpa kerasa malah jadi kebiasaan, atau memang akibat dari terlalu banyak gabut mau ngapain lagi setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah dan akhirnya dijadikan waktu untuk sekedar makan, rebahan, dan leha-leha aja selama dirumah karena gaboleh keluar rumah. Dari kesemua waktu yang bergeser itu, yang paling membuatku risau adalah jam tidurku yang malah jadi point penting yang harus sesegera mungkin kuatasi tapi sudah diujung bingung, malah sempet terbesit apa harus minun suplemen yang efek sampingnya bikin rasa kantuk menyerang ya agar bisa tidur pules.
Perihal insomnia ini sebenernya udah aku rasain saat masuk semester 5 masa kuliahku. Sebelumnya jam tidurku tak pernah lebih dari jam 9 malam—kecuali memang ada pekerjaan yang harus aku selesaikan dengan segera, alih-alih bisa bangun dengan mata segar sekitar pukul 4 pagi atau setengah jam sebelumnya. Selain kebiasaan ini aku bawa dari pondok, selepas tamat pesantren di rumahku juga selalu menerapkan sistem bangun tidur pukul 4 pagi, karena semua orang di rumah harus siap-siap pergi kerja. Terutama nenek dan kakekku, mereka biasa pergi ke pasar selepas subuh karena harus membuka toko dan berjualan hingga pukul 3 sore. Sementara dua pamanku pergi pukul 6-7 pagi untuk menyusul kakek dan nenekku berjualan. Oia, selepas tamat sekolah aliyah dan sempat kuliah sambil mengajar selama kurang lebih setahun, aku memang lebih sering pulang kerumah nenek. Tidak ada alasan kuat saat itu, hanya ingin saja karena selepas mamah gaada, di rumah bapak jarang sekali ada orang selain bapak dan adik lelakiku, sementara adik perempuanku juga masih sekolah di pondok pesantren. Itulah kenapa aku lebih sering berada dirumah nenek saat pulang dari kesibukan kuliah dan mengajarku. Setelah satu tahun berlangsung, rupanya tipikal diriku yang memang senang mencoba hal baru memaksaku berhenti mengajar dan akhirnya mencoba kembali merantau. Kebetulan saat itu rasanya ingin sekali merasakan dunia pendidikan yang baru, akhirnya aku putuskan untuk mencoba daftar kuliah di Jakarta dan alhamdulilah hasilnya baik. Disinilah pola hidup baru dan kebiasaan baru juga tumbuh yang mengharuskanku untuk hidup lebih mandiri lagi di tempat baru yang kusebut kosan.
Kuliah di swasta dan negeri itu benar-benar beda menurutku, tanpa niat membeda-bedakannya dari segi baik dan kurang baiknya, yang ingin kusampaikan di sinilah hanyalah perihal kuliah di negeri ini membuatku harus berjuang lebih extra dari sebelumnya. Hal ini sudah dipastikan sangat mempengaruhi jam makan dan juga istirahatku. Karena menyelesaikan setumpuk tugas yang setiap minggunya pasti ada saja yang harus dikumpulkan, akhirnya gajarang malah jadinya sering begadang. Apalagi saat awal-awal masuk kuliah, aku sangat semangat mengikuti berbagai macam kegiatan intra kampus, seminar-seminar, ikut serta dalam rumpun kepanitian, himpunan mahasiswa jurusan, dan organisasi seni di kampus seperti training paduan suara PSM UIN Jakarta yang berlangsung kurang lebih 7 bulan dan lainnya. Tapi kesemua itu memang kembali pada pilihanku, jadi aku tidak pernah sama sekali menyalahkan atau menyesal pernah melalui itu semua, meskipun jam makan dan istirahatku jadi korbannya. Aku sungguh sangat menikmatinya.
 Kembali ke jam tidurku. Meskipun melakukan berbagai macam kegiatan di luar ruangan, gajarang aku mengantuk di sela-sela aktivitas (hehe) untuk hal ini, bagiku jadi nikmat tersendiri, apalagi saat aktivitas di luar sudah rampung lalu pulang ke kosan dengan badan yang lumayan letih dan mata sudah berair karena keseringan nguap—issssssh bikin bobok jadi pules tau :))).
  Dulu, jam bergadangku hanya kuat sampai pukul 12 malam—itupun pasti udah sepet banget mata, jarang sekali bisa lebih dari itu. Paling jika sangat mepet harus segera rampung, aku harus tidur dulu sebentar, barulah bangun dan bisa bergadang lagi sampai pagi, tapi ini sangat jarang terjadi si. Saat memasuki semester 5 aku jadi orang yang sering sekali bergadang. Sayangnya hal ini malah jadi kebiasaan sampai saat ini. Ada atau tidak ada tugas, aku hanya bisa tidur di jam-jam tengah malam. Tapi untungnya, aku masih bisa bangun pagi, sholat, siap siap, lalu berangkat kuliah. Paling siangnya aga sedikit mengantuk tapi masih bisa kuatasi.
  Seiring jam kuliahku makin sedikit, tugas-tugas makin sedikit—welcome skripsweet, sayangnya jam tidurku masih belum berubah. Sedihnya saat masa pandemi seperti ini yang mengharuskan aku—dan kita, semua, untuk #stayathome—kebetulan sekali kondisi rumahku masih sangat sepiiiii banget, apalagi kalo malem, suara jangkrik di mana-mana. Hal ini malah jadi mimpi buruk buat aku pribadi. Aku penakut akut, makanya paling males kalo keinget atau denger cerita horor dan mistis mistis gitu. Parahnya selepas Ramadhan kemarin, aku baru bisa tidur di jam dua atau tigaa pagi, selalu—yaAllah aku risau banget bobok jam segini mulu. Mudah-mudahan setelah new normal ini, aku bener-bener bisa memperbaiki jam tidurku, kadang suka mikir kasian banget badanku cuma tidur 2-3 jam perhari—karena disiangnya aku gamau tidur takut malah seger malemnya :(((, sampai pernah di tahap googling kiat kiat agar pola tidur teratur 😌

Barangkali saya pernah gagal mengenali,
membaca yang sesungguhnya tidak ada kesanggupan diri untuk memahami,
sehinga banyak tanya yang keluar dan memaksa meminta jawab
Bahkan sempat terbesit ragu ditahap yang sudah sejauh ini
Maaf jika memang diri lalai kemudian perlahan jengah menerjang
Semoga kita masih dalam frekuensi yang sama,
dengan keyakinan bahwa saya sedalam itu melihat harapan padamu, mengukir jejak bersama
Aaminkan,
Semoga kita masih tetap berada dalam kasih yang saling mendamaikan
Rindu yang saling menguatkan
Harap dan doa yang tak putus dipanjatkan
Pun bila kita temui rasa sakit dipersimpangan Moga syukur masih berdaya terucap lisan
Lekas pulang
"jangan menghidar lagi, jangan lari lagi, terkadang amarah seringkali membuat kita kesulitan berpikir apalagi bertindak, tapi kesemua itu harus terus dihadapi" begitulah kira-kira rentetan kata yang baru saja kudengar lagi selepas nonton serial drama korea di tv lokal Indonesia (aku juga ngerasain bedanya ko nonton drakor di lepi sama di tv wkw gaboleh protes ya). Sebenernya aku udah pernah nonton drakor ini si, sekitar 2017 kalo ga salah, alurnya memang tergolong ga masuk akal karena emang genreenya fantasi, tapi masih banyak pelajaran yang bisa diambil ko, apalagi drama ini berlatar belakang polemik dunia hukum dan dunia pengadilan, lumayan bisa mempresentasikan juga memberikan sedikit gambaran bagi orang² yang ingin tau gimanasi dunia hukum dan pengadilan bekerja. Oiya, hal yang paling berkesan setelah nonton drama ini menurut versiku adalah mengingatkan kita untuk selalu berpikir kritis, mencari tahu informasi sedetail mungkin, gaboleh sembarang berhipotesis kalo gaada bukti apalagi kalo menyangkut hidup seseorang (suudzon itu ndak baik), dan yang menjadi point pentingnya harus jujur!

Oke kita balik lagi ke paragraf awal. Kalimat jangan menghindar dan hadapi masalah yang ada emang udah bukan bahasa yang baru lagi, bukan juga kalimat atau nasehat yang asing ditelinga. Aku yakin, kita semua pasti sudah mendengar puluhan bahkan ratusan kali selama hidup sampai detik ini (uwu banget ga tu) tapi kadang kita sering lupa, bahkan terkadang hanya lewat saja ditelinga, jadi maknanya ga sampe meresap ke otak apalagi ke hati hehe. Akujuga seringnya begitu ko. Kebetulan tadi selepas nonton, berasa kaya diingetin lagi, terlebih beberapa minggu ini aku ngerasa lagi menyayangkan beberapa kejadian yang ujungnya gajarang bikin kecewa sendiri, bahkan sesekali merasa kesal. Tapi aku yakini aja, setiap kejadian pasti ada hikmah yang bisa aku pelajari, lagi pula kesal dan marah terlalu lama malah bikin pusing sendiri, serba salah sendiri, gatenang sendiri, dan aku gasuka banget kalo lagi diposisi kaya gitu, asli. Dari beberapa hal yang rupanya sedikit aku sayangkan ini bikin aku aga sedikit mogok buat terus jalan. Tapi yaitu tadi, apapun masalahnya serumit apapun rintangannya baiknya harus segera dihadapi, meskipun gajarang akujuga stuck dulu dan ngumpulin keberanian buat terus jalan. Karena kapanpun waktunya, entah hari ini, besok atau tahun-tahun berikutnya, apa yang ada didepan kita memang sudah seharusnya sesegera mungkin dihadapi, meskipun nantinya akan bertemu dengan rintangan-rintangan lainnya. Aku kasih sedikit contoh, kemarin judul proposalku di tolak lagi, setelah sebelumnya mengajukan beberapa judul dengan tema berbeda, pasalnya judulku tertolak karena ada tahun yang belum memenuhi kriteria. Setelah penolakan itu gabisa dipungkiri pasti sedih dong (sedih banget malah :)), bikin pikiran kemana-mana, apalagi kalo liat temen sekelas udah bisa seminar proposal, sehari dua hari biasanya aku aga sedikit stuck, syukurnya waktu itu aku masih punya orang deket yang bisa aku jadiin tempat buat cerita, gajarang dia juga ngasih solusi, atau paling tidak dia bisa bikin aku sedikit lebih tenang. Akhirnya setelah itu aku mikir, kalo aku malah jadi stuck gini gimana aku mau beresin proposalku, distulah mulai kucoba lagi, apapun itu memang baiknya harus segera dihadapi ketimbang ditunda terlalu lama yang resikonya bahkan bisa lebih besar dari hari ini.
Akhirnya, puji syukur aku nemu judul baru yang aga sedikit berbeda dari tema kemarin, meskipun masih dalam tahap pencarian baru tapi setidaknya pikiran tenang dan sikap berani menghadapi ini membuahkan hasil meski sedikit, aku mohon doanya, semoga yang ini bisa di acc dan semoga jalan kalian juga dipermudah :). Ini note buat diri aku sendiri dan bagi siapapun yang hatinya terbuka saat baca tulisan ini 💢



 Drama perkuliahan emang ada aja ya. Suka dukanya nikmat banget kalo dijalanin, tapi puyeng banget kalo cuma dipikirin haha.
Istilah magang bukan hal yang asing bagi mahasiswa pastinya. Magang menjadi salah satu ajang yang mungkin paling dinanti-nantikan karena pengalamannya. Pun bagiku, pernah dititik seperti itu. Dinanti-nantikan dengan harapan menjadi pembuka relasi saat masuk ke dunia kerja nantinya, dinanti-nantikan sebagai pemuas rasa penasaran tentang dunia kerja yang jadi salah satu incaran—oh dunia kantor tuh kerjanya gini ya, ohh kalo kerja di penerbitan modelnya gini ya, ohh kalo kerja harus gini yaa, dan segala macam hal baru lainnya.
Semacam jenis pekerjaan untuk menambah pengalaman  selain untuk diri sendiri, nama instansi seperti jadi taruhanya jika tidak melakukan pekerjaan dengan baik. Waktu itu aku duduk di semester 5, Selesai melaksanakan setumpuk tugas dan ujian akhir semester, ketua prodi beserta beberapa jajarannya menghimbau adanya perkumpulan yang dikhususkan untuk angakatan kami karena akan ada pembacaan SK wajib magang di liburan menuju semester 6. Terhitung dari Desember akhir, kami harus sudah menentukan pilihan dimana akan melangsungkan magang yang akan berakhir di bulan februari nanti.
Bayangan magangku waktu itu, ingin sekali magang ditempat-tempat bersejarah yang tak hanya berkutat dengan perihal administrasinya saja, syukur-syukur bisa sambil jadi guide wisata tempat sejarah. Sayangnya, tempat dimana aku dan teman teman lain melaksanakan magang memang murni kita yang menentukan jadi harus mempertimbangkan jarak, jauh dekatnya jadi pilihan kami tentunya. Di plan awalku saat itu, dengan rekomendasi dari salah satu dosen, aku akan mulai apply surat permohonan izin magang di Bogor, yakni Museum Balai Kirti, semacam museum yang dipersembahkan khusus untuk mengenang para mantan presiden Indonesia, tak jarang juga kebanyakan orang menyebutnya Museum Kepresidenan. Museum ini terletak di Jl. Ir. H. Juanda No.1 RT 04 RW 01, Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat, 16122. Rencana awalku dimagang ini aku akan melaksanakannya dengan salah satu teman dekatku. Karena syarat magang diperbolehkan melakukan magang dengan format kelompok atau perorangan, pikirku jika bisa dilakukan bersama rasanya akan lebih ringan saat melaksanakan laporan wajib diakhir, dan lebih berkesan saat proses magang berlangsung tentunya.
  Sesampainya kami di pintu gerbang museum ini, dengan membawa sepucuk surat kami meminta izin satpam untuk bertemu dengan bagian administrasi, namun saat itu satpam bersikeras memberitahu kami bahwa museum ini tidak diperuntukan untuk khalayak umum dan sepertinya lowongan magang sedang kosong. Akhirnya kami memberitahu bahwa kami datang kesini atas rekomendasi dosen kami, sayangnya kami memang belum sempat bertukar kabar dengan salah satu staf yang dimaksud oleh dosenku tersebut—karena belum meminta kontak beliau, kebetulan saat dipersilahkan datang kami diberitahu boleh apply surat izin magang lewat screenshoot chat whatsApp. Satpam hanya menyarankan, untuk menaruh surat apply tersebut di kantor satpam, katanya biar nanti satpam yang membawa surat tersebut ke bagian administrasi. Jujur, perasaanku saat ini aga sedikit menyayangkan sikap daripada satpam tersebut, tapi apa boleh buat kami tidak bisa berbuat banyak setelah mencoba mengabari dosen kami dan sepertinya beliau juga sedang sibuk jadi tak sempat membalas dengan cepat, dan aku sangat mafhum akan hal itu. Singkat cerita, akhirnya kami mempercayakan surat apply kami di satpam, untungnya saat malam tiba kami akhirnya mendapat kabar dari dosenku, intinya akan segera dikomunikasikan dengan staf yang beliau kenal, bahwasanya ada mahasiswa beliau yang menitipkan surat apply di kantor satpam.
  Entah kenapa, saat itu aku sendiri menjadi kurang antusis melaksakan magang di tempat tersebut, akhirnya sebagai plan b, c bahkan d, kami tetap apply surat izin dibeberapa tempat lainnya. Temanku sudah memutuskan untuk apply di sekolah MA-nya dulu, tentunya menjadi seorang guru. Akupun mulai punya rencana ingin apply di Komnas Perempuan, lokasinya kebetulan ada di Jakarta. Setelah mengobrol dengan salah satu alumni yang pernah magang disana, diperkirakan aku harus mencari tempat tinggal sementara agar tidak repot nantinya, hmm memikirkan itu rasanya tidak memungkinkan jika harus menumpang dulu atau terpaksa mencari kosan baru sebagai tempat tinggal sementara.
  Akhirnya aku mulai memikirkan plan c, sambil menunggu pemberitahuan dari Museum Balai Kirti terkait apply yang kami kirim. Sebenarnya, sebelum memutuskan apply surat ke museum di bogor aku sempat ditawari magang di daerahku tinggal, Cipanas-Cianjur. Kebetulan Taman Bunga Nusatara saat itu sedang membuka lowongan bagi yang ingin melaksanakan magang, tentunya dengan bantuan salah satu keluarga yang kebetulan menjadi staf disana. Tapi keinginanku saat itu memang ingin sekali melaksanakan magang di tempat-tempat di Jakarta, atau minimal Bogor. Pikirku, mudah-mudahan saat lulus nanti, syukur-syukur bisa kulanjut jika permorma kerjaku diakui. Tapi alih-alih begitu, jika awal bulan Januari nanti belum juga mendapat kabar dari manapun, sepertinya tawaran magang di daerahku akan menjadi pilihan akhirku.
  Kembali ke plan C, temanku dari kelompok lain menawariku untuk gabung di kelompok magang mereka yang beranggotakan 3 orang, lumayan jika mau masuk bisa mengisi satu slot lagi, katanya. Akhirnya kuceritakan bahwa aku dan temanku sebenarnya sudah mulai apply dimana-mana, hanya tinggal menunggu panggilan. Tapi memang tidak ada salahnya mencoba lagi, akhirnya aku memutuskan untuk ikut apply di tempat magang yang akan mereka tempati nantinya.
  ICC (Islamic Cultural Center), Saat pertama kali mendengar nama itu, dalam pikirku mungkin semacam instansi penerbitan buku atau kajian budaya, atau bisa jadi hanya tempat seperti perpustakaan yang menyajikan berbagai macam pengetahuan yang berkaitan dengan kebudayaan. Kupikir tak apalah, karena waktunya sudah sangat mepet jika harus mengikuti keinginan untuk mendapat tempat magang yang sesuai dengan selera kerjaku. Lagipula aku belum dapat panggilan dari manapun, akhirnya saat pertama kali apply surat, hanya beberapa perwakilan dari kami yang datang kesana dan aku belum sempat ikut membersamai. Kagetnya mereka bahkan sudah menyarakan kapan kami bisa memulai magang kami, dan ini menjadi salah satu panggilan pertama kami setelah mencoba apply dimana-mana. Akhirnya kami diskusikan, agar magang cepat selesai diawal februari ada baiknya kami ambil saja panggilan magang pertama ini.
  Masuk pertengahan Januari, kami langsung  dipersilahkan memulai program magang kami, saat pertama kali masuk ke gedung tersebut, banyak pertanyaan yang terlintas dibenakku, ada sedikit perasaan mengganjal tapi urung kuungkapkan. Kami diperkenalkan dengan pimpinan ICC yang berasal dari Timur Tengah, tepatnya Iran. Setelah mengobrol banyak hal yang tak jarang dibantu translator, kami diajak berkenalan dengan beberapa staf juga bagian-bagiannya. Pertama kami dikenalkan dengan bagian penerbitan dan percetakan, yang terdiri dari staf redaksi, editor majalah, para layouter dan bagian design majalah atau buku. Lanjut ke bagian gudang, yaitu segala macam administrasi dan stok buku yang sudah diterbitkan maupun yang akan disalurkan, tapi dibagian ini kami tidak diperkenankan untuk ambil bagian karena tugasnya memang cukup berkaitan dengan fisik, seperti menghitung buku dan mengangkat atau memindahkannya agar bisa disortir, untuk itulah kami tak ambil bagian atas rekomendasi kepala staf ICC, setelah itu lanjut ke bagian perpustakaan, disini kami dikenalkan dengan kepala bagian perpustakaan, Namanya bu Ena, tapi kami hanya boleh memanggilnya dengan sebutan ka Ena. Dibagian ini kami dijelaskan mengenai jobdesc dibagian perpustakaan ini, seperti merapikan buku-buku, menyortirnya sesuai dengan jenis buku dan kategorinya, juga beberapa dari kami diajarkan terkait bagaimana peraturan sirkulasi peminjaman diperpustakaan ini berlangsung, oia selain itu juga ada yang bertugas di lobi masuk, tentunya sebagai resepsionis. Karena jumlah kami berempat, akhirnya kami diberi keleluasaan untuk menentukan jadwal kami sendiri dengan memilih dibagian mana kami ingin bertugas.
  Atas kesepakatan kami bersama dengan tujuan agar kami bisa merasakan semua bidang, akhirnya kami sepakat untuk berada di semua bidang dengan jadwal perminggu yang bergilir. Minggu pertama di Perpustakaan, minggu kedua di percetakan dan penerbitan, minggu ketiga di bagian administrasi gudang, tapi hanya bagian pengecekan data saja. Sementara untuk resepsionis juga bergilir perhari. Hari pertama kami rampungkan membuat jadwal dan ternyata ada beberapa revisi, kepala staf ICC rupanya ingin ada jadwal diskusi juga, teknisnya kami disuruh membaca beberapa buku yang disarankan yang nantinya akan dipresentasikan dan didiskusikan bersama, seingatku kepala staf ingin kegiatan diskusi ini berlangsung setiap hari kamis di perpustakaan. Dihari pertama bekerja ini juga, aku dapat panggilan dari Meseum Balai Kirti, sungguh diluar dugaan tapi inilah resiko  dan pilihan yang telah kuambil.
  Minggu pertama kami habiskan di area perpus. Kami menerima berbagai macam ilmu baru, baik yang dijadwalkan maupun yang diluar jadwal. Sedikit kuperhatikan juga orang-orang seperti apa yang menjadi rekan kerjaku disini, ada berbagi macam kegiatan baik yang menjadi rules yang sifatnya kerjaan maupun tidak. Contohnya seperti ajakan saat melaksanakan sholat jumat berjamaah meskipun sifatnya tidak memaksa, oia sedikit informasi aku bersama kelompokku semuanya beranggotkan perempuan. Intinya lumayan banyak kutemukan hal baru selama seminggu terakhir ini.
  Di minggu pertama ini kami mengalami beberapa kendala yang rasanya tak mungkin aku jabarkan disini, sejak awal memang ada perasaan menggajal dan banyak tanya dalam benakku, tapi sayangnya ketika itu aku urungkan. Akhirnya ketika sudah berlangsung hampir lima hari, kami baru membahasnya antar personil sampai kami adakan forum sharing sambil evaluasi kinerja kami di minggu ini. Dengan banyak pertimbangan dan segala sesuatunya, akhirnya sempat terlintas untuk berhenti diminggu pertama ini, menurut salah satu temaku. Temanku yang lainpun akhirnya mengutarakan hal yang sama. Sekali lagi, aku tak bisa menjabarkan alasan kami berniat mengundurkan diri di tulisan ini karena satu dan lain hal—mungkin nanti akan aku tulis ulang di halaman lain dengan latar belakang yang aku samarkan. Tapi intinya, kami datang dengan niat baik dan keluarpun melalui prosedur yang baik. Masuk ke minggu kedua, akhirnya kami berencana menemui kepala staf untuk menyampaikan permohonan maaf kami karena terpaksa harus selesai sebelum waktunya. Kami jelaskan detail dan alasannya, akhirnya kepala staf pun mengizinkan kami dan memberi kami sedikit oleh-oleh berupa beberapa buku dan majalah terbitan paling baru. Tak lupa kami sampaikan terimakasih atas pengalaman berharganya, kamipun pamit. Di ICC inilah kami mempunyai pengalaman berkerja sebagai resepsionis, segala macam yang berhubungan dengan data dan sirkulasi buku di perpustakaan, juga ilmu baru lainnya.
  Jujur, Aku sedikit aga bingung. Pasalnya, kira-kira kemana akan kami apply surat baru untuk magang dengan rentan waktu yang hampir habis, padahal syarat magang ini minimal 1 bulan.  Kamipun menceritakan kendala kami kepada salah satu dosen yang kami percaya, beliau seidkit menaggapi sikap kami dan tentunya memberi arahan dan saran. Temanku yang satu lagi, akhirnya sudah berhasil apply surat baru di daerahnya, tinggalah kami bertiga. Aku dan trman lainnya mulai apply surat izin magang ke Kemenag (kementrrian agama) Jakarta Selatan. Lagi-lagi kami berhasil apply berkat teman kami yang sudah ada relasi dengan orang dalam kemenag, Alhamdulillah tak lama kamipun dibolehkan langsung magang. Disinilah pengalaman kerja kantorku dimulai. 
   Terhitung mulai akhir Januari sampai pertengahan Februari kami melaksanakan magang di Kemenag Jaksel bagian PenMad (Pendidikan Madrasah) Suasana kerja di tempat ini juga terhitung lumayan menyenangkan, namun harus pandai-pandai mengusir kantuk saat sudah selesai jam makan siang (hehe). Jobdesc kami tak jauh dari input data para calon PNS maupun yang sudah PNS, para guru beserta tunjangannya, dan masih banyak lagi. Memang di magang kedua ini, kami hanya berkutat dengan data dan kertas-kertas saja. Untungnya, rekan kerja kami yang terhitung sudah memasuki kepala 30-50 tapi rupanya masih pandai membuat guyonan-guyonan receh ala abg, Alhasil tak jarang kami terhibur oleh ibu-ibu dan bapak-bapan gaul ini.
   Seminggu dua minggu kami lalui dengan aktivitas yang sudah terjadwalkan dengan rapih, pekerjaannya memang hanya input data dan menulis saja, tak jauh dari itu, tapi beginilah dunia kerja, meskipun kadang terlitas rasa bosan, harus selalu disyukuri bagaimanapun kondisinya.
    Bagiku, rekan kerja adalah hal yang paling berpengaruh terhadap performa kerja. Bagaimana tidak, setiap pekerjaan membutuhkan teamwork yang baik jika ingin hasil yang baik pula. Untuk itu, bagiku rekan kerja menjadi salah satu hal yang sangat kuperhatikan.
    Tiap harinya, kami berangkat dari Ciputat sekitar jam 6 pagi. Jika lewat sedikit, sudah dipastikan kami akan telat sampai dan pastinya sangat malu bukan (hehe)—meskipun pernah sekali dua kali, kami juga melakukan hal demikian karena tertinggal bus, atau alih-alih tak kebagian tempat jadi harus menunggu bus berikutnya, untuk itulah rstimasi 1 jam lebih 30 menit jadi acuan. Jakarta memang bukan main jika menyangkut urusan macetnya, apalagi saat jam kerja. Jika berangkat jam 6 kami akan sampai sekitar jam 7 lebih dikit. Staf kemenag memang masuk jam 7 lebih 30 menit sudah paling maksimal untuk telat.
    Akhirnya, Sudah memasuki minggu ketiga dan sesi magang kita hampir selesai. Alhamdulillah juga segala macam perdataan yang kami geluti sudah berhasil rampung sesuau deadline, tugas kamipun rupanya sudah selesai. Dihari terkhir magang, ada perasaan bercampur bahagia dan sedih pastinya. Tapu apapun itu pengalam ini tentu sangat berharga bagi kami, Terimaksih kepada semua pihak yang sudah terlibat, mudah-mudahan dilain kesempatan kami bisa bertemu kembali, silaturahmi.
    Setelahnya, mari kita bergelut dengan laporan akhir magang 😆







    Selamat malam, dan sungguh ini sudah sangat larut si. Arlojiku menunjukan pukul 00.28 WIB tapi karena baru merampungkan sesi edit video ala-ala, aku jadi belum ngantuk huhu
   Btw, kali ini aku mau lanjutin sesi "Episode baru" yang bagian tiga, tapi pengenya pake bahasa yang ga formal aja ya (ckck) maafin ih aga labil ya :))))
   Dicerita terakhirku kemarin, para peserta sudah masuk ke babak 3 besar, yapss panggung bagi para juara.
 Sudah kebayang belum gimana suasana di tiga besar ini? perasaaanku ketika itu jujursi ngerasa sepi banget, apalagi di tempat karantina. Anak-anak yg tereliminasi sudah pulang, tinggalah kami para mentor, kru dan anak-anak hebat yang masih harus berjuang memperebutkan posisi pertama.
   Yang kusadari betul saat merasa sepi adalah saat-saat berbuka puasa di rooftop, yang biasanya anak-anak ramai mengantri makan, mencari tempat duduk, sampai penuh mengisi pinggir-pinggir kolam renang, sekarang kosong melompong. Juga saat olahraga pagi, berasa banget sepinya. Meskipun begitu, semangat mereka saat harus latihan rupanya mampu mereka jaga, meskipun di minggu ini banyak sekali drama yang terjadi hehe. Aku bilang ini drama karena memang disetting untuk melatih mental mereka, goalsnya melatih untuk tetap profesional saat menghadapi rintangan, fokus, mengatur emosi agar tetap bisa berlatih semaksimal mungkin, dan masih banyak lagi. Moment haru banyak sekali terjadi, apalagi saat team kreatif tv memberikan beberapa kejutan tak terduga disesi terakhir proses karantina, yang salah satunya menghadirkan figur orangtua ke lokasi karantina (aku aja nangis gatau kenapa yaampun). Senang, sedih, haru, tekanan disana-sini kian mewarnai perjalanan mereka dibabak akhir ini. Banyak pelajaran berharga disesi ini, salah satunya pelajaran agar tetap rendah hati adalah koenjie!
  Sedikit catatan, diluar karantina kondisi Indonesia khususnya Jakarta sedang kurang baik situasinya. Beberapa tempat dan jalan menjadi sasaran amuk masa karena proses demokrasi untuk memilih presiden dan wakil presiden periode 2019-2024 yang berakhir ricuh. Hal itupun sedikit membuat kami resah, untungnya beberapa kegiatan diluar karantina sudah terlaksana dengan baik, hanya tinggal satu lagi yang begitu dinanti oleh para peserta dan kami semua, Live performence di panggung grand final.
   Diakhir cerita, aku sangat bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk ikut mensukseskan acara ini, dan yang paling berharga saat ini adalah silaturahmi yang masih tetap terjaga dengan baik, meskipun sejatinya raga kami entah kapan akan bertemu kembali, alhamdulillah summa alhamdulillah :))


  
   Live Performence di minggu kedua dimulai. Sesuai dengan ketentuan awal, 6 grup/peserta dipastikan harus pulang. Aku memegang dua grup perempuan, menurut kacamataku selama membersamai kedua grup ini, masing-masing tentu memiliki kekurangan dan kelebihan yang sangat unik. Grup pertama yang berasal dari Sumatera memang boleh diuji kesiapannya, dari segi materi musik mereka terbilang cepat tangkap saat harus pecah suara, maklum grup yang satu ini—menurut ceritanya memang sudah sering ikut kompetisi dan sudah punya jam terbang, jadi saat harus mengarahkan beberapa materi musik terutama bagian harmoni kepada mereka mereka, akan berlangsung mudah dan tak perlu waktu lama, tapi perlu diingat pula, sehebat apapun kita jangan pernah menyepelekan latihan ya. Dari segi koreo mereka juga sudah menyiapkan konsep, hanya ada beberapa yang paling harus direvisi agar lebih sesuai. Awalnya sempat berdebat sedikit perihal materi dakwah, aku menyiapkan beberapa opsi tapi ternyata mereka sudah mempersiapkan materi mereka dan mereka lebih siap dengan materi tersebut. Aku hanya bisa memberi masukan, selebihnya tentu mereka yang menjalankan, jadi rasanya tak baik juga harus memaksakan. Akhirnya kami sepakat memakai materi pilihan mereka dengan sedikit revisi. Di grup kedua yang kupegang ini berasal dari Kota Batu, Malang. Grup yang satu ini memang perlu ekstra dibersamai. Sedikit cerita, aku sering bertukar info dengan pembimbing mereka di Kota Batu sana, menurut Bu Dewi selaku pembimbing mereka, grup ini memang baru sekali terbentuk saat mengetahui ada ajang kompetisi ini, jadi itulah kenapa diawal kubilang harus extra dibersamai. Saat proses karantina berlangsung malah sempat cekcok antar anggota perihal materi dakwah, yang satu merasa kurang cocok yang satu merasa harus mengejar ketertinggalan. Dalam grup, konflik antar anggota memang biasa, apalagi anggota yang baru saja terbentuk. Disitu juga jadi point penting bagiku pribadi, saat mereka mulai menunjukan sikap yang aga kikuk satu sama lain, aku harus jadi si super kepo dengan menanyai dan mengajak mereka agar mau bercerita. Tapi overall, merrka anak yang sangat mudah diarahkan dan dinasehati, jadi hal semacam itu tak akan lama berlangsung. Jujur, mereka anak-anak yang sangat sopan dan polos, baik tuturnya, tapi kadang justru aku malu sendiri saat mereka melihat raut mukaku yang sedikit kelelahan saat harus melatih harmoni, aku masih sangat ingat pasti ada saja salah satu diantara mereka yang bilang "kaka maaf ya, kita lama belajarnya" atau "kak, maaf ya kita ga bener-bener terus pecahnya"  atau lagi "kak, diantara yang lain kita paling lama ya?" duhh, seringnya aku malah jadi gatega. dan yang justru malah terlintas dipikiranku adalah, apa aku terlalu keras ya ngelatih mereka, atau apa caraku terlalu memaksa ya sampai-sampai mereka berkata seperti itu terus. Akhirnya, sesi dikamar bersama mentor yang lain membuatku berpikir kembali, sepertinya perlu merubah beberapa format aransemen yang bisa mereka pakai sesuai kemampuan mereka, disitu pula aku  belajar mengenal mereka lebih baik lagi.
   Dibabak eliminasi 6 grup ini, sayangnya kedua grup binaanku harus keluar, menurut para mentor yang lain, sangat disayangkan salah satu dari grup binaanku yang disangka-sangka akan masuk ke minimal 4 besar justru harus pulang dibabak eliminasi 6 besar.  Tapi bagaimanapun, begitulah kompetisi, selalu ada hal tak terduga didalamnya. Ada 4 juri disetiap live performence. Masing-masing dari juri ini punya point tersendiri untuk menilai sesuai kategori yang harus dipenuhi saat penampilan berlangsung. Terlepas dari apapun hasilnya, keputusan juri memang tidak bisa diganggu gugat. 
.....

    Karena 6 grup sudah pulang, akhirnya jadwal mentoringpun berubah, aku memegang dua grup lagi, tapi kali ini tak hanya sendirian, lebih menantang bukan? Minggu menjadi semakin menggelora rasanya, kami seperti kawanan yang siap bertempur. Para peserta mulai mencari bahan untuk dijadikan materi lagi, kamipun selaku mentor mulai mencari ide bersama-sama lagi. Dibabak 6 besar ini, 3 diantaranya harus pulang. Moment paling tak terlupakan terjadi disesi ini, sangat amat menguras air mata rasanya. Sampai-sampai, baik mentor atau kru tak herannya dibuat berkaca-kaca dan berurai air mata. Hal tak terdugapun kembali terulang, ada beberapa grup yang harus pulang padahal grup ini terbilang sangat aman, tapi lagi-lagi para juri pasti punya penilaian tersendiri. Akhirnya sampailah dibabak 3 besar, panggung bagi para juara yang akan memperebutkan posisi pertama.

to be continue....






Jakarta, 1 Mei 2019.

        Koper dengan ukuran 20 inch berwaran biru dongker siap kuangkut dari kosan menuju alamat yang sudah kuterima, Hotel Mercure yang beralamatkan di Jl. Cikini Raya No.66, Kec. Menteng, Jakarta, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10330 tertulis dikolom grup whatsApp yg kesemua anggotanya akan menjadi rekan kerjaku nantinya. Tak ada satupun yang kukenal secara pribadi, paling satu dua yg kukenal lewat akun sosial media beberapa tahun lalu, seingatku saat sedang mengikutin festival di Jogja dan rekan satu panggung saat mengisi program acara di TVRI. Selain koper berwarna biru dongker ini, rupanya aku tak cukup puas dengan barang bawaanku saat itu, satu koper rasanya belum cukup untuk membawa keperluanku selama satu bulan kedepan, akhirnya kuputuskan untuk membawa satu tas berukuran sedang, alih-alih takut kurang ini itu karena tak ada yg kukenal dekat pasti malu jika harus merepotkan.
      Kendaraan oline membawaku menuju Stasiun Pondok Ranji, selepas tap kartu, aku menunggu beberapa menit kedatangan kereta, saat itu masih terbilang pagi, tapi beruntungnya aku tak harus berdesak-desakan dengan para penumpang yang mengejar jam kerja mereka, bisa dipastikan akan seperti apa jadinya, membawa begitu banyak barang saat jam berangkat kerja—Jakarta keras bos, hehe.

         Kereta membawaku ke stasiun tanah abang untuk transit, tapi karena malas harus menunggu kedatangan kereta selanjutnya yang diperkirakan datang sekitar 20 menitan lagi, akhirnya kuputuskan untuk keluar gate dan lanjut dengan kendaraan online.  Rasanya masih campur aduk, apalagi jika mengingat sebelum memutuskan untuk mengambil amanah ini banyak sekali pertimbanganya, harus bekerja profesional pastinya dan bagaiaman mengatasi rasa takut saat bertemu hambatan. Bagiku ini pengalaman dengan suasana yang terasa sangat berbeda, rekan kerjaku sudah dipastikan mereka yang profesional dibidangnya—bahkan akulah satu-satunya mentor yang terbilang paling muda, mengingat aku masih kuliah dan yang lainnya sudah lulus bahkan sudah berkeluarga, hal itu juga yang membuatku sedikit minder. Tapi lagi-lagi aku beruntung karena banyak orang diseklilingku yang tak berhenti men-support untuk bisa sampai disini.
     Waktu menunjukan pukul 10.15 WIB, aku sampai di lobi depan hotel dengan perasaan yang masih tak karuan—akan seperti apa ya rekan kerjaku, aku bisa nyambung ga ya, nanti banyak rintangan ga ya, aku bisa atasin ga ya, semuanya seperti berenang dikepalaku, hingga suara dua perempuan yang memanggil namaku dengan ragu-ragu berhasil membuyarkan pikiranku, mereka mengenalkan diri dengan sebutan Mia dan Eka—iya, aku pernah bertemu dengan salah satu dari mereka. Mereka mengantarkanku ke kamar 304—kamar kami selama satu bulan kedepan.

     Masih canggung rasanya, paling-paling hanya basa-basi sedikit. Aku datang lebih awal 30 menit dari jadwal briefieng pertama bersama para mentor lainnya, pikirku masih ada waktu untuk sedikit merapikan diri setelah 2 jam kurang 15 menit perjalan.

       Tepat pukul 11.00 WIB kami bertiga turun ke aula dan briefieng pertamapun dimulai. Dibriefieng pertama kami, ada sekitar 7 mentor di tahun ini, 3 perempuan dan 4 lainnya laki-laki, selain berkenalan satu sama lain untuk membangun chemistry, kami juga berkenalan dengan beberapa kru dari stasiun tv, setelah itu kembali membahas konsep dan jobdesc selama karantina, beberapa lembar jadwalpun dibagikan, tugas memegang beberapa grup peserta karantinapun mulai ketahuan. 

....


      Syiar Anak Negeri 2, inilah nama program acara di TV lokal Indonesia MetroTv. Program ini merupakan program special Bulan Ramadhan yang mana sasarannya adalah kalangan para pelajar Indonesia dengan tujuan untuk menggelorakan syiar Islam melalui kompetisi musik religi dan dakwah dikalangan anak muda.  Ajang pencarian bakat ini juga bekerja sama dengan Kementerian Agama Republik Indonesia. Selama bulan Ramadhan, 12 peserta yang lolos dari berbagai daerah wajib mengikuti karantina di Jakarta. Pada hari sabtu dan minggu merekapun akan menjalani live performence yang mana setiap minggu itu pula mereka harus berhadapan dengan babak eliminasi.
       Selain mentor dalam bidang musik, program ini juga menghadirkan mentor dari kalangan asatidz dari Kemenag, sehingga selama proses karantina berlangsung, tak ada alasan bagi mereka untuk tidak bisa membuat konsep seunik mungkin.

      Minggu pertama dengan segala persiapan live performence yang begitu hectic karena merupakan pengalaman pertama masih terasa menyenangkan, bahkan masih sangat menyenangkan. Aku pribadi, merasakan indahnya tim kerja disini. Para kru dari stasiun tv inipun begitu humble dan asyik, sehingga saat menjelang buka puasa bersama rasanya begitu ramai setiap harinya. Antar kru, mentor dan peserta jadi lebih seru dan berkesan tentunya.
       Di babak pertama live performence ini belum ada penyisihan, jadi masih dalam tahap pembiasaan dan penggemblengan. Menjelang babak kedua diminggu kedua, barulah 6 grup dipastikan harus pulang. Diminggu kedua inilah, rasanya sangat berbeda, para peserta begitu gigih berlatih, menghafal materi dakwah, mengulang materi musik dan aransemennya, juga berlatih koreo agar terlihat lebih menarik dan milenials.

....


  Dikeseharianku—terutama saat menjelang malam, aku dan kedua teman sekamarku juga ikut dibikin gusar pastinya, melihat mereka setiap hari selama dua minggu ini sangat gigih, perasaan takut belum cukup memberikan yang terbaik saat membersamai mereka juga tak jarang melintas dikepala, terkadang kami bertiga  justru malah bertukar kesulitan masing-masing seraya mencari solusi dan tak jarang berujung bergadang mencari referensi untuk aransemen—tapi itu bagian paling menyenangkan menurutku, karena dengan begitu aku benar-benar merasa bukan seminggu dua minggu mengenal mereka bahkan sudah seperti teman lama yang baru ketemu lagi, kami jadi semakin berchemistry satu sama lain.

....


to be continue....






Ia Bernama Ranah Mengaki
(Oleh: Desty Sri Lestari)
 
Potongan Pertama
     Perjalanan ini dimulai saat pembagian kelompok Kuliah Kerja Nyata yang kerap disebut dengan KKN mulai diumumkan oleh Pusat Pengabdian kepada Masyarakat (yang selanjutnya akan disebut PPM). Saat pembagian  kelompok mulai menjadi trending berita dikalangan mahasiswa/mahasiswi semester 6 kala itu. Beberapa nomor tak dikenal mulai masuk dengan membawa chat/pesan berupa sapaan dan perkenalan, satu dua nomor masuk, sempat berpikir, mungkin salah sambung, namun setelah melebihi batas wajar ternyata satu dua orang teman dekat mulai memberitahu bahwa pembagian kelompok KKN sudah keluar. Yang masih mampu diingat, saat itu orang yang pertama menghubungi melalui pesan singkat Whatsapp memperkenalkan dirinya dengan sebutan Salsa. 
Desty Sri Lestari, mahasiswi yang mengambil Jurusan Sejarah Peradaban Islam secara tidak sengaja ketika itu, kiranya seperti itulah identitasi saya. Mendengar kata KKN seperti sudah menjadi sesuatu yang kurang bersahabat ketika itu. Terlitas beberapa desas desis yang kiranya menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran tersendiri bagi saya. Pelosok desa yang jauh dari keramaian, medan yang belum saya kuasai, susahnya transportasi karena saat itu dalam benak saya pelosok desa jarang sekali memiliki angkutan umum, sulitnya beradaptasi dan berinteraksi secara langsung dengan orang-orang baru, dari mulai bangun tidur hingga kembali tidur, 24 jam penuh dengan 18 kawan yang masing masing memiliki cara pandang hidup yang tentu berbeda, tak jarang beberapa konflik menghiasi kegiatan kami nantinya, belum lagi harus berkenalan langsung dengan budaya dan adat yang belum pernah saya temui sebelumnya, apalagi jika harus mendengar mistis-mistis yang bertebaran sebelum KKN terlaksana. Sulit jika terus dipikirkan dengan rinci satu per satunya, namun bagaimanapun keluhan saya saat itu, hanya bisa ditangani dengan menjalaninya sebaik mungkin, sudah menjadi kewajiban bagi saya selaku mahasiswi untuk turut serta mengikuti program yang berasal dari PPM ini karena menjadi salah satu mata kuliah wajib yang harus saya penuhi untuk menjadi syarat menempuh Strata 1.
Akhirnya pilihan jatuh pada bertawakal, dengan niat yang harus diperbaiki bukan semata mata untuk menyelesaikan program kuliah saja namun juga harus dibarengi dengan tekad baik mengabdi pada masyarakat sekitar. Tangerang menjadi daerah yang diamanatkan kepada saya dan kelompok baru saya saat itu. Desa Kosambi yang terhitung masih sangat kental dengan kearifan lokalnya juga suasana pedesaanya. Begitu kiranya kesan pertama yang saya tangkap saat saya melihat secara langsung pasca survey untuk yang kesekian kalinya dilakukan.
Nama saya ada pada tabel kelompok 183 dari 200 kelompok KKN di tahun 2019 ini, ya nomor yang terbilang hampir mendekati akhir kelompok bukan. Setelah grup Whatsapp mulai terbentuk dan akhirnya mengadakan rapat pertama, suasana yang masih terbilang canggung dengan 18 orang kawan baru berhasil menentukan ketua untuk kelompok saya, nama Sujatmiko dan Agung Fachrudin Darussalam terpilih menjadi ketua dan wakil ketua untuk kelompok 183 ini. Grup whatsapp kembali ramai untuk membicarakan rapat kedua dan segera mungkin membahas nama kelompok beserta program kerja apa saja yang akan saya dan kelompok saya lakukan di lapangan. Beberapa teman mengusulkan nama untuk kelompok dengan filosofinya masing-masing, namun akhirnya pilihan nama jatuh pada Gemintang dengan harapan mampu mempresentasikan keberadaan kami sebagai penerang di bumi Kosambi kelak. Rapatpun berlanjut dengan kunjungan langsung ke lapangan, sebut saja survey, guna untuk menjalin silaturahmi dan memperkenalkan maksud yang saya dan kelompok saya bawa ke perangkat desa setempat. Niat dan maksud ini disambut hangat oleh salah satu perangkat desa yang saya beserta kelompok saya sebut Bunda Rita nantinya. Sayangnya, disurvey yang pertama saya pribadi tidak dapat ikut serta karena masih harus mengikuti karantina wajib di Jakarta Barat. 
Melihat jadwal yang ditentukan oleh PPM terkait pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata tahun ini jatuh pada tanggal 23 Juli- 23 Agustus, tentu membutuhkan persiapan yang sangat matang dengan waktu yang terbilang cukup singkat. Sebelum pelepasan oleh Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta terpilih tahun ini, Prof. Dr. Hj. Amany  Burhanuddin Lubis, Lc., M.A, di Auditorium Harun Nasution pada tanggal 22 Juli 2019. Saya beserta kelompok mensepakati beberapa program kerja yang berhasil dirancang bersama dan diklasifikasikan kedalam 4 bidang, bidang tersebut ialah:

- Bidang Lingkungan (Sarana dan Prasarana)
- Bidang Kesehatan
- Bidang Sosial 
- Bidang Pendidikan

Seutas Sawala 
Tepat tanggal 23 Juli selepas ba’da dzuhur kelompok 183 KKN Gemintang brangkat dari titik kumpul yang sudah disepakati sebelumnya, halte busway UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Saya beserta kelompok ini, siap berproses di desa yang diamanatkan oleh almamater saya untuk mengabdi selama 30 hari kedepan. Karena keterbatasan sepeda motor yang dibawa ke desa tersebut akhirnya  disepakatilah bahwa sebagian  berangkat dengan menggunakan transportasi umum berupa KRL Commuter Line (Kereta Rel Listrik) yang nantinya akan dijemput oleh mobil salah satu anggota kelompok kami, Aini. Dan sebagian lagi berangkat dengan menggunakan sepeda motor. Kebetulan saya berangkat menyusul karena harus mengurusi ID Card kelompok kami yang belum rampung dipercetakan. Akhirnya dengan terpaksa saya berangkat sekitar pukul 15.00 WIB, beda sekitar 2 jam lebih akhir dari rombongan. Sesampainya disana ternyata kunci rumah yang akan saya tempati sempat tidak bisa digunakan, hal ini sedikit membuat saya dan kelompok ini, harus menunggu beberapa menit. Selepas magrib akhirnya pintupun terbuka, setelahnya saya beserta kelompok bergotong royong untuk membersihkan ruangan yang akan ditempati. 
Memasuki minggu pertama kedatangan saya beserta rekan sekelompok di desa Kosambi, saya dan rekan lain disambut hangat oleh beberapa warga. Bahkan anak-anak terlihat antusias akan keberadaan pendatang baru ini. Sekedar informasi, posko saya terbilang sedikit jauh dari hiruk pikuk warga setempat karena posko yang saya tempati memiliki ruang lingkup yang terbatas, berada di tengah-tengan sawah yang mana  ditengah-tengahnya berdiri 4 bangunan, area depan dipagari oleh gerbang yang terbuat dari besi sehingga tingkat keamananpun bisa terkontrol dengan baik, dibalik gerbang berdiri satu kantor yang nantinya saya sebut PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Mengajar) disampingnya terdapat ruang kelas yang setiap sabtu minggu digunakan untuk para siswa setempat yang mengambil paket sekolah (nantinmya kelas ini akan dipakai untuk tempat tidur mahasiswa), selain itu juga berdiri kokoh satu mushola yang masih sangat terawat dan tak jauh dari mushola, sekitar 700 m berdiri bangunan yang disebut dengan Laboratorium Komputer yang saya dan kelompok saya gunakan sebagai tempat tinggal mahasiswi selama satu bulan kedepan atas izin  dari pemilki tanah PKBM yaitu Pak Furqon. Selain Pak Furqon, ada juga pak Dede selaku salah satu staf dari kantor PKBM itu sendiri. Saya dan kelompok saya juga dikenalkan dengan Pak Musa dan keluarganya, mereka tinggal tak jauh dari lingkungan PKBM, Pak Musa ini selaku orang yang bertanggung jawab atas segala sesuatu yang berada di lingkungan PKBM, baik Mushola, mengurus padi-padi yang ditanam, juga merawat bebek-bebek yang diternak disebelah barat PKBM. Betul, Pak Musa ini merangkap jadi Petani dan Peternak. Ada banyak kekaguman tersendiri yang tak begitu saya mampu bisa saya deskripsikan pada sosok ayah yang satu ini. Tak jarang juga Pak Musa menemani kami khususnya para mahasiswa untuk berjaga (Ronda) di malam hari. Peningkatan keamanan memang sangat perlu diperhatikan betul mengingat saya beserta rekan lain adalah warga baru dan pendatang, selain itu juga Tangerang terkenal dengan kriminalitasnya yang cukup tinggi bukan, namun apapun bentuk alasannya dimanapun dan kapanpun berhati-hati itu memang penting. 
Sedikit saya deskripsikan suasana di PKBM atau yang saya sebut posko. Saya merasa sangat beruntung pada akhirnya karena mendapatkan tempat disini. Saya beserta rekan yang lain mendapatkan air bersih yang cukup, meskipun tak jarang beberapa kali tetap harus membuat antrian panjang agar tidak kehabisan air. Tetap saya bilang ini cukup. Air yang saya pakai untuk kebutuhan sehari-hari, baik untuk mandi atau memasakpun tidak tawar atau asin, disitulah titik bersyukurnya saya pribadi. Mengingat beberapa kali saya sholat di luar lingkungan PKBM air yang saya dapatkan, rata-rata tawar dan agak sedikit asin rasanya. Harus dimaklumi, karena lokasi penempatan KKN saya terbilang tidak begitu jauh dari pesisir laut pantai utara.  Selama KKN berlangsung, saya belum pernah merasakan hujan mengguyur bumi Kosambi ini. Saat itu memang sedang musim kemarau, bahkan beberapa sungai sempat kering dan tidak mengalirkan air karena harus bergantian membuka bendungan dari pusat agar air tetap bisa ditemui dibeberapa sungai. Seingat saya, pernah sesekali sempat mendung dan gerimis namun tak kunjung turun hujan. Disitulah lagi-lagi saya pribadi merasa harus terus bersyukur karena air bersih masih terbilang cukup dan mudah saya temui di lingkungan sekitar PKBM. Sekedar informasi, sungai di desa ini sangat besar pengaruhnya bagi warga setempat. Sungai digunakan sebagai tempat mencuci pakaian kotor, mandi, bahkan beberapa masih saya temui jamban-jamban yang bertengger di tepian sungai. Itu artinya masyarakat di desa ini masih sangat bergantung dengan aliran sungai untuk keperluan sehari-hari. Desas desisnya rutinitas di sungai ini masih menjadi salah satu budaya yang belum ditinggalkan masyarakat setempat meskipun beberapa rumah memiliki kamar mandi yang layak untuk digunakan. Hal lain yang membuat saya kembali harus berucap syukur adalah pemandangan yang elok. Hamparan sawah dan padi yang saat itu mulai menguning seperti siap mernanjakan mata masyarakat pendatang seperti saya yang terbilang jarang sekali melihat pemandangan seelok itu.. layaknya dikota, saya hanya bisa bertemu dengan gedung pencakar langit dan gemerlap lampu ibu kota. Disini, Sudah dipastikan pula setiap menjelang sore saya bisa menikmati kuasa Tuhan dibalik detik-detik terbenamnya matahari setiap harinya. Begitulah kiranya gambaran suasana ditempat yang saya sebut posko.
     Kembali ke kelompok saya, Ada bebeapa program kerja yang saya beserta rekan satu kelompok laksanakan diminggu pertama. Sembari menunggu kepastian dari kepala desa terkait pelaksanaan pembukaan Kuliah Kerja Nyata, saya berserta rekan lainnya melakukan silaturahmi sekaligus sosialisasi kepada warga sekitar, sembari memperkenalkan diri terkait kehadiran kelompok kami. Rumah yang dituju pertama kali yaitu rumah bunda Rita, kemudian setelah itu diarahkan ke Rumah Ketua RT 020 yaitu pak Yono yang nantinya akan menjadi fokus wilayah yang akan dieksekusi dan diselerasakan dengan program kerja yang telah saya dan teman-teman buat. Hingga sampai dihari tepat dilaksanakannya pembukaan, Alhamdulilah saya beserta rekan-rekan lain sukses mempresntasikan program kerja yang akan digarap dengan di moderatori oleh teman saya Zulhermansyah. Kebetulan dipembukaan saya bertugas sebagai Dirijen untuk memandu dua lagu Nasional yaitu Indonesia Raya dan Bagimu Negeri.
      Memasuki minggu kedua saya beserta rekan lain masih terjalin dalam ikatan yang harmonis, satu sama lain saling support dalam menjalankan program kerja. Beberapa masalah yang muncul belum begitu rumit dan masih bisa diatasi dengan kepala dingin. Paling hanya masalah eksternal dan kesalahan teknis yang masih bisa dimaklumi. Program kerja satu persatu mulai terselesaikan, hingga sampai disatu malam saat rapat dan evaluasi berlangsung. Untuk pertama kalinya evaluasi dilakukan dengan keterbukaan dari sebagian  personal yang ingin menyuarakan keluh kesahnya (biasanya hanya briefing dan rapat). Ada yang salah paham, ada yang tiba-tiba menangis, ada yang tiba-tiba menjadi pendiam setelah mendapat kritikan, ada pula yang hanya menyimak dan tak tau apa yang harus dilakukan untuk mencairkan kembali suasana yang dirasa mulai sedikit memanas. Saya salah satunya, saya memang termasuk orang yang lebih baik memilih diam saat dihadapkan dalam situasi seperti itu. Benang merahnya ada diperbedaan pendapat, sudah dipastikan menyatukan 18 kepala untuk satu visi dan misi itu memang tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa. Saya kira permasalahannya hanya terletak dicaranya. Bagaimana kiranya 18 orang ini mampu menurunkan ego masing-masing saat salah satu pendapat tidak terpakai, menegur dengan santun saat teman melakukan kesalahan yang membuat kesal, atau sekedar menghormati orang yang sedang mengeluarkan pendapatnya di forum dengan tidak memotongnya, saling menghargai begitulah kuncinya. Namun manusia tetaplah manusia, sesuai kodratnya, kadang khilaf. Terlepas dari itu semua, saya yakin tujuan 18 orang ini tetap bermuara pada kebaikan, ingin memberikan yang paling baik pada pengabdian ini. 
   Izinkan saya sedikit menorehkan ucapan terimakasih kepada 18 orang ini. Dalam kacamata saya, mereka luar biasa. Meskipun tidak adil rasanya jika saya mengeneralisasikan sifat mereka kedalam satu kategori, namun menurut saya mereka mahasiswa dan mahasiswi baik, menjunjung tinggi adab dan perilaku yang  mereka implementasikan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Contohnya, ketika tiba waktu sholat, menjaga adab dihadapan orang yang lebih tua meskipun sebenarnya juga tak jarang merasa kesal dan ingin mengeluh, saling membantu dan mengingatkan dalam kebaikan, untuk yang ini terlebih saya rasakan bersama rekan perempuan saya. Terimakasih sudah mau berupaya untuk saling peduli satu sama lain, saat saya sehat ataupun sakit, terimakasih sudah mau direpotkan saat saya pribadi merasa kesulitan menghadapi masalah yang ada, saat bersedia menampung cerita dan bersandar saat ingin didengarkan, terimakasih sudah berjuang bersama menyelesaikan program kerja dengan berupaya menyelaraskan ego yang ada, kepada para ciwi-ciwi terimakasih sudah mau berupaya menyajikan makanan seenak mungkin setiap harinya, tak bosannya mengulang jadwal piket masak dan bersih-bersih untuk kenyamanan bersama, terimakasih sudah mau diganggu saat tengah malam untuk dimintai antar kekamar mandi yang berada diluar, khususnya kepada Salsa dan Lian, dan kepada para bujang, terimakasih sudah mampu diandalkan sebagai pemimpin bagi kelompok saya, memimpin jalannya rapat dan pelaksanaan program kerja, memastikan saya dan para perempuan selamat sampai tujuan saat pelaksaan program kerja berlangsung, mau berjaga setiap malam untuk keamanan bersama, mau direpotkan saat harus membeli kebutuhan sehari-hari seperti membeli air galon, meskipun tak jarang para perempuan gemas karena sedikit lama, biarlah itu jadi bumbu bagi kelompok saya. 

Perkenalkan, Kosambi.
Mudah menemukan gelak tawa anak-anak yang kegirangan dengan dalih menghabiskan jatah main dimasa kecil mereka. Tanpa harus menghabiskan puluhan rupiah yang harus orangtua mereka keluarkan untuk membeli mainan mahal keluaran terbaru atau dengan merengek minta dibelikan  gadget berbasik android yang biasa digunakan untuk bermain game online yang banyak digandrungi anak-anak milenials seperti sekarang ini. Sederhananya, gelak tawa itu bisa anak-anak di desa ini dapatkan hanya dengan mendapat jatah main selepas pulang sekolah. Ada yang bermain sepeda disiang bolong, menyusuri penggalan sawah, menerobos jembatan demi jembatan, sambil berlomba-lomba menentukan siapa yang paling dulu sampai tujuan. Ketika ditanya mengapa tidak tidur siang, jawaban mereka hanya sederhana, “tidur mah ti peuting hungkul, beurang mah jang ameung”. Baiklah, setiap anak kecil memang tidak menyukai tidur siang. Sebagian juga ada yang bermain layangan disawah, biasanya lapak sawah yang padinya sudah dipanen dan sawah dibiarkan kering untuk beberapa saat. Di sepanjang sungai juga tak jarang ditemukan anak-anak yang tertawa riang, berenang sambil bermain air dengan menggunakan ban-ban udara yang mereka bawa. Terik, suhunya bisa mencapai 330 C atau bahkan lebih,  udara di desa ini memang begitu panas dan gersang, beruntungnya dilingkungan gerha yang nantinya saya akan mengaki ini masih dikelilingi oleh sawah-sawah yang menghampar berhektar-hektar dari sisi kanan, kiri, juga bagian belakang. Setidaknya masih ada udara segar yang bisa saya nikmati, pikirku. 
Kosambi merupakan salah satu desa yang masuk ke dalam wilayah administratif Kabupaten Tangerang, Banten. Desa ini terdiri dari 3 Dusun, 6 RW (Rukun Warga), dan 22 RT (Rukun Tetangga). Dengan penetapan batas wilayah di sebelah Barat yaitu Gintung, sebelah Selatan Pisang Jaya, sebelah Utara Rawa Kidang, dan sebelah Timur Kayu Bongkok atau yang orangorang mengenalnya juga dengan Muara Kondang. Adapun gambaran secara umum desa Kosambi ini di dominasi oleh Persawahan. 
Perlu diketahui pula, sungai di desa ini sangat besar pengaruhnya bagi warga setempat. Sungai digunakan sebagai tempat mencuci pakaian kotor, mandi, bahkan beberapa masih saya temui jamban-jamban yang bertengger di tepian sungai. Itu artinya masyarakat di desa ini masih sangat bergantung dengan aliran sungai untuk keperluan sehari-hari. Desas desisnya rutinitas di sungai inipun  masih menjadi salah satu budaya yang belum ditinggalkan masyarakat setempat meskipun beberapa rumah memiliki kamar mandi yang layak untuk digunakan. Namun sayangnya, disepanjang sungai yang saya temui jarang sekali mengalirkan air bersih yang seyogyanya mampu dikatakan layak untuk digunakan. Air sungai berwarna hjau mengalir dari bendungan menyusuri anak sungai, sampah sampahpun banyak yang berserakan di tepian sungai juga disamping tanaman-tanaman yang hidup disepanjang sungai, belum langi sampah yang berhasil tersaring saat melalui bendungan sangat jelas terlihat di pinggiran jalan dan jembatan, bahkan sempat saya lihat bangkai kucing yang mengambang di dekat bendungan sungai bedeng saat itu, mungkin terjatuh atau entahlah, saya tak bisa menyelamatkannya karena sudah megambang dan menjadi bangkai. Setiap paginya kadang saya temui ikan-ikan sapu mati dan menebarkan bau tak sedap di sepanjang sungai bedeng ini. Bisa jadi ikan-ikan itu mati karena air yang tercemar sampah, atau juga bisa karena terbawa oleh para pengambil sampah di permukaan sungai dan enggan untuk membawanya pulang karena bercampur sampah dan akhirnya ditinggalkan begitu saja ditepian sungai.  Adapun air hijau yang mengalir tersebut entah salah satu faktor pendukungnya karena cuaca di desa ini saat itu sedang kemarau yang panjang sehingga sedikit banyak tentu berpengaruh terhadap kualitas air yang dihasilkan, atau bisa jadi air yang mengalir di desa ini biasanya memang seperti ini. 
Berkaca pada kondisi yang ada, salah satu program yang saya dan kelompok saya usungkan diantaranya adalah pengadaan tempat sampah di sekitar area-area jalanan dan sungai, dengan harapan jika tempat sampah disediakan dipenjuru tempat akan meningkatkan kesadaran masyarakat sekitar untuk tidak lagi membuang sampah ke sungai tapi pada tempat-tepat yang sudah disediakan. Namun ternyata, sangat disayangkan program ini tidak mampu kami lanjutkan karena mendapat sedikit pertimbangan dari perangkat desa yang hadir saat presentasi program kerja di pembukaan berlangsung. Alasannya, karena tidak tersedianya mobil pengangkut sampah atau yang biasa disebut dengan truk sampah yang dapat membawa sampah-sampah tersebut ke tempat pembuangan akhir (TPA). Akhirnya saya beserta kelompok saya merencanakan program kerja baru yang mana memberikan kemanfaatan yang sama. Menindak lanjuti dari keluhan ketua RT 020, akhirnya terciptalah program kerja baru berupa penerangan jalan diwilayah sekitar RT 020 yang disertakan dengan pembuatan plang. Memang sedikit berbelok dari keinginan awal saya dan kelompok saya untuk membantu meringankan permasalahan sampah yang ada, namun setidaknya terciptalah kembali program kerja lain yang mampu memberi manfaat yang sama nantinya. 

Bunyi Sederhana 
Tanggal 23 Agustus 2019, saya mulai mengemas pakaian dan perlengkapan lainnya seperti kasur, alat mandi serta barang-barang kecil lainnya yang saya bawa tepat sebulan yang lalu. Ada perasaan senang dan sedih yang berkecamuk saat itu. Senang akhirnya bisa kembali pulang kerumah tercinta dan berkumpul bersama keluarga, sudah lama rasanya menahan rindu. Disatu sisi juga sedih ketika harus melihat anak-anak meneriakan nama saya dan teman-teman saya sambil menanyakan kapan kembali ke desa ini. Yaampun, padahal sayapun belum senpat pergi dari desa ini sudah ditodong kapan kembali, sedih ketika tak ada lagi kejenakaan yang sama saat bergurau sambil bermain UNO bersama teman-teman seperjuangan, ya meskipun saya sendiri tak mengerti cara kerja permainan ini dan hanya menonton sambil sesekali melihat satu persatu teman saya dilumuri bedak putih diseluruh mukanya jika kalah. Ah, rindu. Kalian seperti bayi yang baru selesai dimandikan ibu tau –cemong hehe, sedih karena tidak bisa lagi menikmati angin segar sawah yang sepoi-sepoi disiang bolong yang kadang kala tak jarang sambil ditemani orang yang melantunkan lagu-laguan lewat pengeras suara –chika orangnya, sipemilik suara merdu, begitulah saya dan teman-teman memanggilnya. Namun berapapun alasan yang menahan saya untuk tetap tinggal disini, saya tetap harus meneruskan perjalanan ini, kewajiban menempuh dan menyelesaikan kuliah yang sudah saya mulai. 
Kosambi dan segala isinya meninggalkan ribuan kenangan yang tersisa, pengalaman yang begitu berharga yang saban hari bisa saya ceritakan ke anak cucu  saya kelak, ingatan yang seutuhnya tak mampu terbayar dengan nominal tentunya, semoga Tuhan senantiasa menjaga bumi kecil ini, merawat keelokannya, menjaga kearifan lokalnya, semakin menjadi desa yang bermartabat, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanuasian, mencetak generasi-generasi yang gemilang dan semakin maju dalam sarana prasarananya.
      Terimakasih untuk yang terkasih, SD Kosambi 1 dan 2 beserta staf dan jajaranya yang telah memberikan banyak sekali pengalaman juga kesempatan, semoga semakin unggul dan terdepan dalam mencetak generasi yang berprestasi, Kepada perangkat desa beserta jajaranya terutama bunda Rita, terimakasih sudah senantiasa mengayomi saya beserta kelompak saya dalam segala hal. Terimakasih kepada Pak Furqon, Pak Dede, Pak Musa, dan semua pihak yang terlibat yang tak mampu saya sebutkan satu persatu. Do’a dan harapan terbaik saya selalu melambung untuk bumi kecil ini, Kosambi.









Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Arsip Blog

  • ▼  2025 (1)
    • ▼  Januari (1)
      • Hallo, sweet heart :)
  • ►  2021 (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2020 (15)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (4)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (9)
  • ►  2019 (6)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (3)
  • ►  2018 (2)
    • ►  Desember (2)
Foto saya
Desty Sri Lestari
Sedang belajar memahami banyak hal, antusias dengan berbagai macam pengalaman orang, sedang menyicil ketertinggalan :)
Lihat profil lengkapku

Pengikut

POPULAR POSTS

desty_dyfa

  • Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates