Desty Sri Lestari

  • Home
  • Resensi Buku
  • Puisi
  • Cerita
    • Opini
    • Jejak
      • Episode Baru Bagian Pertama
      • Ia Bernama Ranah Mengaki
      • Drama Magang, dari ICC loncat Kemenag JakSel
      • Sosok Bapak

Pagi ini kau ada 

Di sekelebat benda-benda

Sesaat sedang ku cari sisir—sisirku dikepala

Sisir berwarna biru kesayangan

Mengatur halus rambut yang awut-awutan

Helai demi helainya bak berisi kenangan

Seperti kau tengah menyimak kesedihan

Di ujung hati yang keruntang-pungkang

Mengenang kau yang pergi tanpa kabar

Sedang burung pelatuk raba-rubu 

Memecah hening di subuh nan dingin 

Pagi ini kau ada

Sesaat sedang ku cari gelas—gelasku di meja

Kepulan kopi panas menari diudara

Di seduh dengan sedikit sedih yang tak kunjung sudah 

Beriring rindu yang hendak tumpah

Ku intip bumantara

Langit malu-malu wajahnya 

Perlahan dilahap pendar baskara

Biru bergurat orange di pelupuk mata

Pecah, kerinduan anak adam ini muskil terasa

Pagi ini kau ada

Ku pungut kepingan rindu—Rinduku di kaca-kaca jendela

Sesaknya tetap di dada

Ia juga mengudara

Nyaris tak kenal rehat rupanya

Malam ini, kembali harap di kening seorang gadis yang hendak menarik selimutnya

Saban katanya riang menakhlilkan untaian kalimat yang genap diselimuti shyam

Ah, seperti malam-malam sebelumnya, ini masih sangat sama seperti biasanya, dingin bukan kepalang

Sedang jiwanya menunu bagai anala yang berkobar menuai percikan

Gelora yang nyaris tampak jelas lewat pesonanya disela-sela malam, lampu dan cahaya bulan

Hari ini, mungkin ia lalui dengan berlega hati dan rasa riang

Ah ya, sepanjang ini sudah banyak pengaduan yang diam-diam ia mohonkan dengan menadahkan kedua tangan ditiap malam

Tentu, saat hendak menarik selimut

Aku hampir lupa siapa diriku, setelah beberapa hari kubaringkan tubuh diatas ranjang sembari melamuni beberapa benda-benda berdebu yang tinggal, berikut impian yang hampir tanggal 

Aku hampir lupa siapa diriku, saat udara dingin tetap bersikeras menyelinap disela-sela selimut dan malamku, namun tak kunjung juga kutemui kosa kata baru

Aku hampir lupa siapa diriku, saat kebisuan serupa penyakit yang menyerang sebagian isi kepalaku 

Aku hampir lupa siapa diriku, saat beberapa langkah tetap keras kepala kujajaki, terseok tersungkur, terbentur, terbentuk lagi

Aku hampir lupa siapa diriku, saat alfa dalam do'a yang kupanjatkan teruntuk tubuh yang harus tetap ku kasihi dengan segala lebih dan kurangnya ini

Kini aku harus ingat kembali siapa diriku, bahwa perempuan harus lihai menyayangi diri sendiri, Ia harus pandai memeluk diri sendiri, cerdas memaafkan kealfaan diri, berbaiksangka pada setiap sulit yang nanti akan ia arungi kembali





Derita gadis menyanyat mengiris

Elokan nasib bagai tak digubris

Sorakan cita-cita hanya ilusi semata

Tanah jawa, toleh adat belaka


Kartini kecewa

Gadis-gadis dipenjara terlalu lama

Dunianya hanya sebatas tembok rumah 

sempit nan gelap pula

Kebodohan merajalela

Gadis-gadis tak punya kuasa

Dipingit dimadu mengais pasrah jiwa


Kartini mengaduh

mengayuh harapan untuk puan-puan jawa

Merongrong cahaya di fajar mendatang

Agar puan tetap jadi manusia yang 

dimanusiakan


Kau srikandi

Ayu bertopeng berani

Priayi bertopeng mandiri

Wanita inspirasi yang sejati


Terhitung 5 hari sudah, pikiran lagi ganentu banget arahnya kemana. Drama hati sama pikiran yang kadang ga sinkron rasanya makin ramai (ckck). Biasanya jika sedang diposisi mumet seperti ini, aku lebih sering di kamar, ngerjain beberapa kerjaan di kamar, alih-alih jika ada yang mengajak keluar untuk sekedar cari angin atau ngelakuin kegiatan di luar barulah mau ikut, jika tidak, aku bukan termasuk orang nekat yang bisa pergi dan enjoy kemana aja sendirian tanpa tujuan (ckck).

Well, Sekitar pukul 7 malam yang lebihnya entah berapa menit, Ridwan ngetuk pintu kamar. Dengan tidak ada tujuan lain selain bilang "mau ikut naik gunung ga?", Selain kaget, aku juga sedikit antusias dengan menanyakan beberapa pertanyaan seperti kapan, kemana, perempuanya siapa saja dan bagaimana teknisnya.
Ia menjawab singkat, besok lusa, ke Gunung Baud sambil sesekali menunjukan foto dan lokasinya, adapun dengan siapanya ia menjawab "kalo jadi kita berangkat 12 orang, 4 perempuan, 8 laki-laki" yang kesemua itu tak lain dari teman adikku. Pikirku waktunya sangat mepet, akhirnya aku hanya bilang nanti ku kabari lagi.
 Setelah memikirkan banyak hal, aku memutuskan untuk ikut dengan syarat adik perempuanku juga ikut, melihat yang justru lebih antusias dengan perjalanan ini dia, bukan aku, dan rasanya aku sedikit kasihan jika tidak mengajak, lagipula pikirku dia terhitung bukan anak kecil lagi setelah genap 17 tahun di bulan Juli ini, jadi rasanya dia juga bisa paham kondisi dan gambaran naik gunung seperti apa. Selain itu aku yakin bapak juga tidak akan begitu saja memberi izin, terlepas dulu aku pernah memberanikan diri minta izin naik gunung bersama teman-teman dan hasilnya malah dinasehatin bukan kepalang, bukan tidak nantinya saat adik perempuanku penasaran dilain waktiu dan diapun meminta izin untuk itu, hasilnya akan sama sepertiku, jadi kupikir kesempatan ini bisa jadi pengalaman untuk dia nantinya, mengingat alasan paling kuat bapak akan mengizinkan kami sepertinya karena adanya ridwan, saudara laki-laki kami. Dan benar saja, bapak mengizinkan meskipun harus sedikit memohon.

 Keesokan harinya, aku mengecek beberapa hal yang semestinya disiapkan, sedikit me-list beberapa perlengkapan lagi. Beberapa baju, camilan ringan, mie dan bihun instan, jaket tebal, kain, sikat gigi, dll tak lupa kumasukan. Terlepas dari secarik kertas yang berisi list keperluan, rupanya point penting yang juga harus kubenahi adalah mental. Agak sedikit drama si di bagian ini, tapi jujur perihal beberapa tantangan di gunung—yang kalian taukan itu gunung asing banget di kuping (ck), bahkan sampai ajang menginap di alam terbuka masih jadi hal yang aga sedikit horor dikepalaku. Pikiran-pikiran aneh tak jarang muncul, contohnya " kalo ketemu hewan buas harus gimana ya, bahkan sampai terlintas kalo aku gabisa tidur dan pasti sepi banget di gunung gimana ya ckck?" padahal berangkat saja belum lohh (dasar aku).
Kami berkumpul di point meeting selepas sholat dzuhur, ada info baru bahwa yang jadi ikut hanya 10 orang. Aga sedikit sedih si, karena jumlahnya berkurang. Rencana awal kami mulai mendaki sekitar pukul 13.00 WIB, tapi sayangnya ada beberapa kendala yang akhirnya pemberangkatanpun terpaksa tertunda sampai pukul 15.00 WIB. Sudah bisa dipastikan, kami masih dalam perjalanan saat gelap sudah tiba.
 Cuaca saat itu sangat terik sekali, sedikit menyengat dikulit meskipun sudah memakai baju berlapis, tak jarang debu jalanan juga ikut membuat mata sedikit menahan rasa perih. Meski begitu, syukurlah angin sepoy-sepoy masih bisa kami nikmati, masih lumayan dibanding harus bercucuran keringat. Aku dan adik perempuanku menunggu di warung kecil, tempat orang-orang melepas lelah setelah turun atau bagi mereka yang sedang bersiap-siap untuk naik, seperti kami. Disamping itu, anggota lainnya masih sibuk mengecek beberapa perlengkapan. Waktu sudah menunjukam pukul 3 sore, kamipun memutuskan untuk berangkat. Langit nampak teduh, perkiraan kami sepertinya tidak akan hujan. Doa bersamapun kami panjatkan, semoga senantiasa selalu dalam lindungan Tuhan dimanapun kami berada. Langkah mulai kami awali, suasana hutan mulai kami nikmati.


Aku lanjut nanti ya (hehe)


Dengan sedikit memberanikan diri aku memutuskan menulis cerita ini. Meskipun merasa sedikit kebingungan harus kumulai dari mana. Jadi jika dipertengahan cerita ini dirasa aga sedikit loncat-loncat alurnya, tolong dimaklum. Menulis tentang sosok bapak apalagi mamah selalu membuatku merasa cacat karena sulit sekali mendeskripsikan cinta kasih keduanya, rasanya tidak ada kata apapun yang mampu menggambarkan perjuangan dan kasih mereka yang begitu damai, cinta mereka yang begitu besar, keringat mereka yang tak hentinya bercucuran, dan ahh lagi-lagi sungguh tidak ada kata apapun yang mampu mendeskripsikan peluh dan dekap mereka. Tapi dengan segala kurang ini, aku ingin sekali menemukan cerita mereka di sisa waktu yang entah sampai kapan akan utuh seperti ini. Kali ini tentang Bapak.
 Semua orang yang mengenal bapakku pasti sudah tau tabiat dan sifat beliau seperti apa. Meskipun sedikit sekali kata-kata yang keluar dari lisannya, tapi aku tau betul banyak kasih yang beliau pendam dan lebih ia tunjukan lewat perbuatan dan kerja kerasnya selama ini. Iya, adalah orang pertama yang tak pernah kuragukan akan kerja kerasnya. Lain halnya dengan yang orang yang belum pernah bertemu dengan beliau, jika mereka melihat bapak lewat secarik foto, kebayakan pasti mengatakan bapak seram karena punya kumis yang lumayan tebal, perawakan yang terbilang cukup tinggi dengan badan besar dan kulit sawo matang. Teman-teman sd-ku dulu selalu bilang pak raden, karena mirip sekali dengan salah satu tokoh di serial "si uyil ini", katanya. Ciri khas yang paling melekat di bapak ialah selalu menggunakan jaket kulit,  jika tidak sudah dipastikan yang ia pakai adalah jaket loreng army. Beliau senang sekali mengoleksi berbagai macam jaket—selain mengoleksi barang² antik semacam batu giok (tapi ini dulu sekali). Oia selain jaket ciri khas lain yang melekat dibapak juga sering dipanggil pak haji padahal belum haji 😂, Pak haji misbah mau kemana? begitu biasanya.
  Bapak terbilang orang yang tegas meskipun sesekali keras, tapi perlu digaris bawahi tegas dan keras bukan berarti kasar ya. Bapak tegas dan keras hanya pada prinsip dan omongannya. Meskipun demikian aku tau bapak berhati lembut, hanya saja beliau sangat pandai menyembunyikan perasaaanya dihadapan kami. Beliau jarang sekali menangis, kecuali beberapa kali ketika aku pergoki sesaat setelah selesai menunaikan sholat, atau saat-saat kepergiaan mamah, itupun hanya sebentar karena tau jika ia menangis bukan tidak mungkin kami sebagai anaknya akan mencontoh yang demikian. Moment bapak menangispun jadi kejadian yang sangat langka terlihat. Aku hanya akan bercerita tentang bapak yang sekarang, bapak yang selepas kehilangan mamah.
  Sekitar awal 2014 lalu, mamah wafat karena penyakit yang diidapnya. Saat itu aku benar-benar terpukul karena harus kehilangan sosok mamah diusia sekitar 17-an itu. Bapakpun pasti demikian, apalagi jika mengingat adik terakhirku yang masih sangat kecil, baru sekali menginjak usia 3 tahun. 4 tahun sudah aku menjalani hari-hari di pondok pesantren dan jarang bertemu mamah karena setiap dijenguki mamah jarang sekali ikut. Kata bapak, kasian pasti akan capek sekali karena mamah tipikal istri yang jarang sekali keluar rumah dan melakukan berbagai macam aktivitas diluar rumah. Bapak memang perhatian. Keseharian mamah hanya mengurus anak-anak atas keinginan bapak. Sesekali juga mengurusi administrasi pengeluaran dan pemasukan usaha bapak. Sempat juga beberapa kali mencoba berjualan aneka kue dan cemilan ringan dari rumah, tapi itupun dibuat ketika memang ada pesanan saja—kebetulan saat itu bapak punya pegawai yang biasa membantu urusan transportasi barang dagangan. Bapak bekerja sebagai distributor sayuran dari petani yang kemudian disalurkan ke kota-kota seperti Bogor Jakarta Bekasi, sayuran tersebut ada yang masuk ke restoran-restoran ada juga yang masuk ke pasar-pasar. Selain distributor, bapak juga membuka satu toko sayuran dipasar, sayangnya selepas mamah wafat, bapak menutup toko sayurannya dengan satu dan lain alasan, alih-alih toko tersebut sekarang dikelola oleh saudara mamah. Memasuki tahun ke 7 pasca mamah wafat, banyak sekali kejadian-kejadian yang benar-benar membuat bapak jungkir balik bukan kepalang. Disitu juga mulailah kesan dengan sikapku terhadap bapak tumbuh. Aku bukanlah anak perempuan yang akrab dengan sosok bapak karena dari dulu menempel sekali dengan mamah, sehingga selepas mamah wafat aku aga kesusahan dalam setiap hal saat harus mengutarakan apapun pada bapak. Cerita-cerita tentang bapak jarang sekali aku dengar langsung dari beliau—sudah kubilang bapak tipikal orang yang sedikit bicara. Kebanyakan orang disekelilingku bilang bapakku hebat, bertahan seorang diri selama 7 tahun terakhir dengan mengurusi 4 orang anak—iyaa bapak belum ingin menikah lagi, katanya. Aku tau betul, yang dipikiran bapak selama ini hanya kebahagian anak-anaknya saja, meskipun tak jarang kami justru malah lalai mengurusi bapak. Bapak itu punya keyakinan yang kuat, pernah ketika aku sedang kebingungan saat di perantauan bapak mensehati 'jika belum sampai pada waktunya, manusia hanya bisa berikhtiar dan bertawakal terus dan terus', katanya. Meski tak banyak bicara dia mengajarkan kami bagaimana sikap gigih pada setiap apa yang sudah kami pilih, tangguh agar tidak melulu mengeluh, sabar, dan yang paling penting rasa tanggungjawab. Ini pelajaran paling mahal yang kutemukan dari bapak dan tak hanya ia tuturkan lewat perkataan malah justru aku temukan lewat perbuatan. Aku sungguh melihat bapak sebagai sosok yang penuh dengan rasa tanggungjawab.
  Selama quarantine day dan himbauan pemerintah untuk tetap #dirumahaja berjalan, aku semakin paham banyak kekeliruan yang selama ini salah kuartikan. Banyak ego yang seharusnya kudobrak duluan. Kalian hanya perlu memaklumi, aku bukanlah anak yang sering menghabiskan banyak waktu dirumah untuk waktu yang terbilang lama. Setelah lulus aliyah yang juga aku tempuh dengan merantau, kuliahpun juga aku tempuh demikian. Bapak juga  jarang sekali menginzinkan aku untuk pulang dengan alasan akan memakan banyak waktu dan menghabiskan jam belajar—sedikit banyak aku selalu menyempatkan laporan  jika sedang ingin mengikuti berbagai kegiatan kampus, jadi bapak paham kuliah tak melulu tentang belajar di kelas. Waktu paling lama yang kuhabiskan dirumah hanya berkisar 1-2 bulan kurang saat liburan semester. Untuk itulah selama hampir 4 bulan dirumah dan menjadi rekor paling lama dirumah bikin aku sadar akan banyak hal. Khususnya sikapku yang cenderung kurang terbuka terhadap bapak.
  Meskipun bapak bukan tipikal ayah humoris seperti yang aku idam-idamkan selama ini, atau romatis seperti kebanyakan orang yang kukenal, kami sebagai anak merasa beruntung sekali masih memiliki luasnya hati beliau. Apalagi saat aku mendengar cerita teman-teman terkait ayah mereka yang tak jauh beda kisahnya seperti ayahku—ditinggal sosok istri, Aahh jika aku ingin sudah berapa puluh pujian dari mereka aku sampaikan untuk bapak. Semoga sehat selalu menyertai beliau, sabar menjadi teman setianya, dan semoga panjang dan berkah umurmu pak.
Semenjak quarantine day yang terhitung sudah memasuki bulan ke empat ini, memang gabisa dipungkiri beberapa pola hidup aga sedikit bergeser karena banyak aktivitas yang aku—dan kita lakuin hanya #dirumahaja. Selain pola makan yang jadinya gakaruan, pola tidur juga rasanya malah makin ga kekontrol menurutku. Entah ada management waktu yang ketuker gitu aja karena dilakukan terus menerus dan tanpa kerasa malah jadi kebiasaan, atau memang akibat dari terlalu banyak gabut mau ngapain lagi setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah dan akhirnya dijadikan waktu untuk sekedar makan, rebahan, dan leha-leha aja selama dirumah karena gaboleh keluar rumah. Dari kesemua waktu yang bergeser itu, yang paling membuatku risau adalah jam tidurku yang malah jadi point penting yang harus sesegera mungkin kuatasi tapi sudah diujung bingung, malah sempet terbesit apa harus minun suplemen yang efek sampingnya bikin rasa kantuk menyerang ya agar bisa tidur pules.
Perihal insomnia ini sebenernya udah aku rasain saat masuk semester 5 masa kuliahku. Sebelumnya jam tidurku tak pernah lebih dari jam 9 malam—kecuali memang ada pekerjaan yang harus aku selesaikan dengan segera, alih-alih bisa bangun dengan mata segar sekitar pukul 4 pagi atau setengah jam sebelumnya. Selain kebiasaan ini aku bawa dari pondok, selepas tamat pesantren di rumahku juga selalu menerapkan sistem bangun tidur pukul 4 pagi, karena semua orang di rumah harus siap-siap pergi kerja. Terutama nenek dan kakekku, mereka biasa pergi ke pasar selepas subuh karena harus membuka toko dan berjualan hingga pukul 3 sore. Sementara dua pamanku pergi pukul 6-7 pagi untuk menyusul kakek dan nenekku berjualan. Oia, selepas tamat sekolah aliyah dan sempat kuliah sambil mengajar selama kurang lebih setahun, aku memang lebih sering pulang kerumah nenek. Tidak ada alasan kuat saat itu, hanya ingin saja karena selepas mamah gaada, di rumah bapak jarang sekali ada orang selain bapak dan adik lelakiku, sementara adik perempuanku juga masih sekolah di pondok pesantren. Itulah kenapa aku lebih sering berada dirumah nenek saat pulang dari kesibukan kuliah dan mengajarku. Setelah satu tahun berlangsung, rupanya tipikal diriku yang memang senang mencoba hal baru memaksaku berhenti mengajar dan akhirnya mencoba kembali merantau. Kebetulan saat itu rasanya ingin sekali merasakan dunia pendidikan yang baru, akhirnya aku putuskan untuk mencoba daftar kuliah di Jakarta dan alhamdulilah hasilnya baik. Disinilah pola hidup baru dan kebiasaan baru juga tumbuh yang mengharuskanku untuk hidup lebih mandiri lagi di tempat baru yang kusebut kosan.
Kuliah di swasta dan negeri itu benar-benar beda menurutku, tanpa niat membeda-bedakannya dari segi baik dan kurang baiknya, yang ingin kusampaikan di sinilah hanyalah perihal kuliah di negeri ini membuatku harus berjuang lebih extra dari sebelumnya. Hal ini sudah dipastikan sangat mempengaruhi jam makan dan juga istirahatku. Karena menyelesaikan setumpuk tugas yang setiap minggunya pasti ada saja yang harus dikumpulkan, akhirnya gajarang malah jadinya sering begadang. Apalagi saat awal-awal masuk kuliah, aku sangat semangat mengikuti berbagai macam kegiatan intra kampus, seminar-seminar, ikut serta dalam rumpun kepanitian, himpunan mahasiswa jurusan, dan organisasi seni di kampus seperti training paduan suara PSM UIN Jakarta yang berlangsung kurang lebih 7 bulan dan lainnya. Tapi kesemua itu memang kembali pada pilihanku, jadi aku tidak pernah sama sekali menyalahkan atau menyesal pernah melalui itu semua, meskipun jam makan dan istirahatku jadi korbannya. Aku sungguh sangat menikmatinya.
 Kembali ke jam tidurku. Meskipun melakukan berbagai macam kegiatan di luar ruangan, gajarang aku mengantuk di sela-sela aktivitas (hehe) untuk hal ini, bagiku jadi nikmat tersendiri, apalagi saat aktivitas di luar sudah rampung lalu pulang ke kosan dengan badan yang lumayan letih dan mata sudah berair karena keseringan nguap—issssssh bikin bobok jadi pules tau :))).
  Dulu, jam bergadangku hanya kuat sampai pukul 12 malam—itupun pasti udah sepet banget mata, jarang sekali bisa lebih dari itu. Paling jika sangat mepet harus segera rampung, aku harus tidur dulu sebentar, barulah bangun dan bisa bergadang lagi sampai pagi, tapi ini sangat jarang terjadi si. Saat memasuki semester 5 aku jadi orang yang sering sekali bergadang. Sayangnya hal ini malah jadi kebiasaan sampai saat ini. Ada atau tidak ada tugas, aku hanya bisa tidur di jam-jam tengah malam. Tapi untungnya, aku masih bisa bangun pagi, sholat, siap siap, lalu berangkat kuliah. Paling siangnya aga sedikit mengantuk tapi masih bisa kuatasi.
  Seiring jam kuliahku makin sedikit, tugas-tugas makin sedikit—welcome skripsweet, sayangnya jam tidurku masih belum berubah. Sedihnya saat masa pandemi seperti ini yang mengharuskan aku—dan kita, semua, untuk #stayathome—kebetulan sekali kondisi rumahku masih sangat sepiiiii banget, apalagi kalo malem, suara jangkrik di mana-mana. Hal ini malah jadi mimpi buruk buat aku pribadi. Aku penakut akut, makanya paling males kalo keinget atau denger cerita horor dan mistis mistis gitu. Parahnya selepas Ramadhan kemarin, aku baru bisa tidur di jam dua atau tigaa pagi, selalu—yaAllah aku risau banget bobok jam segini mulu. Mudah-mudahan setelah new normal ini, aku bener-bener bisa memperbaiki jam tidurku, kadang suka mikir kasian banget badanku cuma tidur 2-3 jam perhari—karena disiangnya aku gamau tidur takut malah seger malemnya :(((, sampai pernah di tahap googling kiat kiat agar pola tidur teratur 😌

Barangkali saya pernah gagal mengenali,
membaca yang sesungguhnya tidak ada kesanggupan diri untuk memahami,
sehinga banyak tanya yang keluar dan memaksa meminta jawab
Bahkan sempat terbesit ragu ditahap yang sudah sejauh ini
Maaf jika memang diri lalai kemudian perlahan jengah menerjang
Semoga kita masih dalam frekuensi yang sama,
dengan keyakinan bahwa saya sedalam itu melihat harapan padamu, mengukir jejak bersama
Aaminkan,
Semoga kita masih tetap berada dalam kasih yang saling mendamaikan
Rindu yang saling menguatkan
Harap dan doa yang tak putus dipanjatkan
Pun bila kita temui rasa sakit dipersimpangan Moga syukur masih berdaya terucap lisan
Lekas pulang
"jangan menghidar lagi, jangan lari lagi, terkadang amarah seringkali membuat kita kesulitan berpikir apalagi bertindak, tapi kesemua itu harus terus dihadapi" begitulah kira-kira rentetan kata yang baru saja kudengar lagi selepas nonton serial drama korea di tv lokal Indonesia (aku juga ngerasain bedanya ko nonton drakor di lepi sama di tv wkw gaboleh protes ya). Sebenernya aku udah pernah nonton drakor ini si, sekitar 2017 kalo ga salah, alurnya memang tergolong ga masuk akal karena emang genreenya fantasi, tapi masih banyak pelajaran yang bisa diambil ko, apalagi drama ini berlatar belakang polemik dunia hukum dan dunia pengadilan, lumayan bisa mempresentasikan juga memberikan sedikit gambaran bagi orang² yang ingin tau gimanasi dunia hukum dan pengadilan bekerja. Oiya, hal yang paling berkesan setelah nonton drama ini menurut versiku adalah mengingatkan kita untuk selalu berpikir kritis, mencari tahu informasi sedetail mungkin, gaboleh sembarang berhipotesis kalo gaada bukti apalagi kalo menyangkut hidup seseorang (suudzon itu ndak baik), dan yang menjadi point pentingnya harus jujur!

Oke kita balik lagi ke paragraf awal. Kalimat jangan menghindar dan hadapi masalah yang ada emang udah bukan bahasa yang baru lagi, bukan juga kalimat atau nasehat yang asing ditelinga. Aku yakin, kita semua pasti sudah mendengar puluhan bahkan ratusan kali selama hidup sampai detik ini (uwu banget ga tu) tapi kadang kita sering lupa, bahkan terkadang hanya lewat saja ditelinga, jadi maknanya ga sampe meresap ke otak apalagi ke hati hehe. Akujuga seringnya begitu ko. Kebetulan tadi selepas nonton, berasa kaya diingetin lagi, terlebih beberapa minggu ini aku ngerasa lagi menyayangkan beberapa kejadian yang ujungnya gajarang bikin kecewa sendiri, bahkan sesekali merasa kesal. Tapi aku yakini aja, setiap kejadian pasti ada hikmah yang bisa aku pelajari, lagi pula kesal dan marah terlalu lama malah bikin pusing sendiri, serba salah sendiri, gatenang sendiri, dan aku gasuka banget kalo lagi diposisi kaya gitu, asli. Dari beberapa hal yang rupanya sedikit aku sayangkan ini bikin aku aga sedikit mogok buat terus jalan. Tapi yaitu tadi, apapun masalahnya serumit apapun rintangannya baiknya harus segera dihadapi, meskipun gajarang akujuga stuck dulu dan ngumpulin keberanian buat terus jalan. Karena kapanpun waktunya, entah hari ini, besok atau tahun-tahun berikutnya, apa yang ada didepan kita memang sudah seharusnya sesegera mungkin dihadapi, meskipun nantinya akan bertemu dengan rintangan-rintangan lainnya. Aku kasih sedikit contoh, kemarin judul proposalku di tolak lagi, setelah sebelumnya mengajukan beberapa judul dengan tema berbeda, pasalnya judulku tertolak karena ada tahun yang belum memenuhi kriteria. Setelah penolakan itu gabisa dipungkiri pasti sedih dong (sedih banget malah :)), bikin pikiran kemana-mana, apalagi kalo liat temen sekelas udah bisa seminar proposal, sehari dua hari biasanya aku aga sedikit stuck, syukurnya waktu itu aku masih punya orang deket yang bisa aku jadiin tempat buat cerita, gajarang dia juga ngasih solusi, atau paling tidak dia bisa bikin aku sedikit lebih tenang. Akhirnya setelah itu aku mikir, kalo aku malah jadi stuck gini gimana aku mau beresin proposalku, distulah mulai kucoba lagi, apapun itu memang baiknya harus segera dihadapi ketimbang ditunda terlalu lama yang resikonya bahkan bisa lebih besar dari hari ini.
Akhirnya, puji syukur aku nemu judul baru yang aga sedikit berbeda dari tema kemarin, meskipun masih dalam tahap pencarian baru tapi setidaknya pikiran tenang dan sikap berani menghadapi ini membuahkan hasil meski sedikit, aku mohon doanya, semoga yang ini bisa di acc dan semoga jalan kalian juga dipermudah :). Ini note buat diri aku sendiri dan bagi siapapun yang hatinya terbuka saat baca tulisan ini 💢



 Drama perkuliahan emang ada aja ya. Suka dukanya nikmat banget kalo dijalanin, tapi puyeng banget kalo cuma dipikirin haha.
Istilah magang bukan hal yang asing bagi mahasiswa pastinya. Magang menjadi salah satu ajang yang mungkin paling dinanti-nantikan karena pengalamannya. Pun bagiku, pernah dititik seperti itu. Dinanti-nantikan dengan harapan menjadi pembuka relasi saat masuk ke dunia kerja nantinya, dinanti-nantikan sebagai pemuas rasa penasaran tentang dunia kerja yang jadi salah satu incaran—oh dunia kantor tuh kerjanya gini ya, ohh kalo kerja di penerbitan modelnya gini ya, ohh kalo kerja harus gini yaa, dan segala macam hal baru lainnya.
Semacam jenis pekerjaan untuk menambah pengalaman  selain untuk diri sendiri, nama instansi seperti jadi taruhanya jika tidak melakukan pekerjaan dengan baik. Waktu itu aku duduk di semester 5, Selesai melaksanakan setumpuk tugas dan ujian akhir semester, ketua prodi beserta beberapa jajarannya menghimbau adanya perkumpulan yang dikhususkan untuk angakatan kami karena akan ada pembacaan SK wajib magang di liburan menuju semester 6. Terhitung dari Desember akhir, kami harus sudah menentukan pilihan dimana akan melangsungkan magang yang akan berakhir di bulan februari nanti.
Bayangan magangku waktu itu, ingin sekali magang ditempat-tempat bersejarah yang tak hanya berkutat dengan perihal administrasinya saja, syukur-syukur bisa sambil jadi guide wisata tempat sejarah. Sayangnya, tempat dimana aku dan teman teman lain melaksanakan magang memang murni kita yang menentukan jadi harus mempertimbangkan jarak, jauh dekatnya jadi pilihan kami tentunya. Di plan awalku saat itu, dengan rekomendasi dari salah satu dosen, aku akan mulai apply surat permohonan izin magang di Bogor, yakni Museum Balai Kirti, semacam museum yang dipersembahkan khusus untuk mengenang para mantan presiden Indonesia, tak jarang juga kebanyakan orang menyebutnya Museum Kepresidenan. Museum ini terletak di Jl. Ir. H. Juanda No.1 RT 04 RW 01, Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat, 16122. Rencana awalku dimagang ini aku akan melaksanakannya dengan salah satu teman dekatku. Karena syarat magang diperbolehkan melakukan magang dengan format kelompok atau perorangan, pikirku jika bisa dilakukan bersama rasanya akan lebih ringan saat melaksanakan laporan wajib diakhir, dan lebih berkesan saat proses magang berlangsung tentunya.
  Sesampainya kami di pintu gerbang museum ini, dengan membawa sepucuk surat kami meminta izin satpam untuk bertemu dengan bagian administrasi, namun saat itu satpam bersikeras memberitahu kami bahwa museum ini tidak diperuntukan untuk khalayak umum dan sepertinya lowongan magang sedang kosong. Akhirnya kami memberitahu bahwa kami datang kesini atas rekomendasi dosen kami, sayangnya kami memang belum sempat bertukar kabar dengan salah satu staf yang dimaksud oleh dosenku tersebut—karena belum meminta kontak beliau, kebetulan saat dipersilahkan datang kami diberitahu boleh apply surat izin magang lewat screenshoot chat whatsApp. Satpam hanya menyarankan, untuk menaruh surat apply tersebut di kantor satpam, katanya biar nanti satpam yang membawa surat tersebut ke bagian administrasi. Jujur, perasaanku saat ini aga sedikit menyayangkan sikap daripada satpam tersebut, tapi apa boleh buat kami tidak bisa berbuat banyak setelah mencoba mengabari dosen kami dan sepertinya beliau juga sedang sibuk jadi tak sempat membalas dengan cepat, dan aku sangat mafhum akan hal itu. Singkat cerita, akhirnya kami mempercayakan surat apply kami di satpam, untungnya saat malam tiba kami akhirnya mendapat kabar dari dosenku, intinya akan segera dikomunikasikan dengan staf yang beliau kenal, bahwasanya ada mahasiswa beliau yang menitipkan surat apply di kantor satpam.
  Entah kenapa, saat itu aku sendiri menjadi kurang antusis melaksakan magang di tempat tersebut, akhirnya sebagai plan b, c bahkan d, kami tetap apply surat izin dibeberapa tempat lainnya. Temanku sudah memutuskan untuk apply di sekolah MA-nya dulu, tentunya menjadi seorang guru. Akupun mulai punya rencana ingin apply di Komnas Perempuan, lokasinya kebetulan ada di Jakarta. Setelah mengobrol dengan salah satu alumni yang pernah magang disana, diperkirakan aku harus mencari tempat tinggal sementara agar tidak repot nantinya, hmm memikirkan itu rasanya tidak memungkinkan jika harus menumpang dulu atau terpaksa mencari kosan baru sebagai tempat tinggal sementara.
  Akhirnya aku mulai memikirkan plan c, sambil menunggu pemberitahuan dari Museum Balai Kirti terkait apply yang kami kirim. Sebenarnya, sebelum memutuskan apply surat ke museum di bogor aku sempat ditawari magang di daerahku tinggal, Cipanas-Cianjur. Kebetulan Taman Bunga Nusatara saat itu sedang membuka lowongan bagi yang ingin melaksanakan magang, tentunya dengan bantuan salah satu keluarga yang kebetulan menjadi staf disana. Tapi keinginanku saat itu memang ingin sekali melaksanakan magang di tempat-tempat di Jakarta, atau minimal Bogor. Pikirku, mudah-mudahan saat lulus nanti, syukur-syukur bisa kulanjut jika permorma kerjaku diakui. Tapi alih-alih begitu, jika awal bulan Januari nanti belum juga mendapat kabar dari manapun, sepertinya tawaran magang di daerahku akan menjadi pilihan akhirku.
  Kembali ke plan C, temanku dari kelompok lain menawariku untuk gabung di kelompok magang mereka yang beranggotakan 3 orang, lumayan jika mau masuk bisa mengisi satu slot lagi, katanya. Akhirnya kuceritakan bahwa aku dan temanku sebenarnya sudah mulai apply dimana-mana, hanya tinggal menunggu panggilan. Tapi memang tidak ada salahnya mencoba lagi, akhirnya aku memutuskan untuk ikut apply di tempat magang yang akan mereka tempati nantinya.
  ICC (Islamic Cultural Center), Saat pertama kali mendengar nama itu, dalam pikirku mungkin semacam instansi penerbitan buku atau kajian budaya, atau bisa jadi hanya tempat seperti perpustakaan yang menyajikan berbagai macam pengetahuan yang berkaitan dengan kebudayaan. Kupikir tak apalah, karena waktunya sudah sangat mepet jika harus mengikuti keinginan untuk mendapat tempat magang yang sesuai dengan selera kerjaku. Lagipula aku belum dapat panggilan dari manapun, akhirnya saat pertama kali apply surat, hanya beberapa perwakilan dari kami yang datang kesana dan aku belum sempat ikut membersamai. Kagetnya mereka bahkan sudah menyarakan kapan kami bisa memulai magang kami, dan ini menjadi salah satu panggilan pertama kami setelah mencoba apply dimana-mana. Akhirnya kami diskusikan, agar magang cepat selesai diawal februari ada baiknya kami ambil saja panggilan magang pertama ini.
  Masuk pertengahan Januari, kami langsung  dipersilahkan memulai program magang kami, saat pertama kali masuk ke gedung tersebut, banyak pertanyaan yang terlintas dibenakku, ada sedikit perasaan mengganjal tapi urung kuungkapkan. Kami diperkenalkan dengan pimpinan ICC yang berasal dari Timur Tengah, tepatnya Iran. Setelah mengobrol banyak hal yang tak jarang dibantu translator, kami diajak berkenalan dengan beberapa staf juga bagian-bagiannya. Pertama kami dikenalkan dengan bagian penerbitan dan percetakan, yang terdiri dari staf redaksi, editor majalah, para layouter dan bagian design majalah atau buku. Lanjut ke bagian gudang, yaitu segala macam administrasi dan stok buku yang sudah diterbitkan maupun yang akan disalurkan, tapi dibagian ini kami tidak diperkenankan untuk ambil bagian karena tugasnya memang cukup berkaitan dengan fisik, seperti menghitung buku dan mengangkat atau memindahkannya agar bisa disortir, untuk itulah kami tak ambil bagian atas rekomendasi kepala staf ICC, setelah itu lanjut ke bagian perpustakaan, disini kami dikenalkan dengan kepala bagian perpustakaan, Namanya bu Ena, tapi kami hanya boleh memanggilnya dengan sebutan ka Ena. Dibagian ini kami dijelaskan mengenai jobdesc dibagian perpustakaan ini, seperti merapikan buku-buku, menyortirnya sesuai dengan jenis buku dan kategorinya, juga beberapa dari kami diajarkan terkait bagaimana peraturan sirkulasi peminjaman diperpustakaan ini berlangsung, oia selain itu juga ada yang bertugas di lobi masuk, tentunya sebagai resepsionis. Karena jumlah kami berempat, akhirnya kami diberi keleluasaan untuk menentukan jadwal kami sendiri dengan memilih dibagian mana kami ingin bertugas.
  Atas kesepakatan kami bersama dengan tujuan agar kami bisa merasakan semua bidang, akhirnya kami sepakat untuk berada di semua bidang dengan jadwal perminggu yang bergilir. Minggu pertama di Perpustakaan, minggu kedua di percetakan dan penerbitan, minggu ketiga di bagian administrasi gudang, tapi hanya bagian pengecekan data saja. Sementara untuk resepsionis juga bergilir perhari. Hari pertama kami rampungkan membuat jadwal dan ternyata ada beberapa revisi, kepala staf ICC rupanya ingin ada jadwal diskusi juga, teknisnya kami disuruh membaca beberapa buku yang disarankan yang nantinya akan dipresentasikan dan didiskusikan bersama, seingatku kepala staf ingin kegiatan diskusi ini berlangsung setiap hari kamis di perpustakaan. Dihari pertama bekerja ini juga, aku dapat panggilan dari Meseum Balai Kirti, sungguh diluar dugaan tapi inilah resiko  dan pilihan yang telah kuambil.
  Minggu pertama kami habiskan di area perpus. Kami menerima berbagai macam ilmu baru, baik yang dijadwalkan maupun yang diluar jadwal. Sedikit kuperhatikan juga orang-orang seperti apa yang menjadi rekan kerjaku disini, ada berbagi macam kegiatan baik yang menjadi rules yang sifatnya kerjaan maupun tidak. Contohnya seperti ajakan saat melaksanakan sholat jumat berjamaah meskipun sifatnya tidak memaksa, oia sedikit informasi aku bersama kelompokku semuanya beranggotkan perempuan. Intinya lumayan banyak kutemukan hal baru selama seminggu terakhir ini.
  Di minggu pertama ini kami mengalami beberapa kendala yang rasanya tak mungkin aku jabarkan disini, sejak awal memang ada perasaan menggajal dan banyak tanya dalam benakku, tapi sayangnya ketika itu aku urungkan. Akhirnya ketika sudah berlangsung hampir lima hari, kami baru membahasnya antar personil sampai kami adakan forum sharing sambil evaluasi kinerja kami di minggu ini. Dengan banyak pertimbangan dan segala sesuatunya, akhirnya sempat terlintas untuk berhenti diminggu pertama ini, menurut salah satu temaku. Temanku yang lainpun akhirnya mengutarakan hal yang sama. Sekali lagi, aku tak bisa menjabarkan alasan kami berniat mengundurkan diri di tulisan ini karena satu dan lain hal—mungkin nanti akan aku tulis ulang di halaman lain dengan latar belakang yang aku samarkan. Tapi intinya, kami datang dengan niat baik dan keluarpun melalui prosedur yang baik. Masuk ke minggu kedua, akhirnya kami berencana menemui kepala staf untuk menyampaikan permohonan maaf kami karena terpaksa harus selesai sebelum waktunya. Kami jelaskan detail dan alasannya, akhirnya kepala staf pun mengizinkan kami dan memberi kami sedikit oleh-oleh berupa beberapa buku dan majalah terbitan paling baru. Tak lupa kami sampaikan terimakasih atas pengalaman berharganya, kamipun pamit. Di ICC inilah kami mempunyai pengalaman berkerja sebagai resepsionis, segala macam yang berhubungan dengan data dan sirkulasi buku di perpustakaan, juga ilmu baru lainnya.
  Jujur, Aku sedikit aga bingung. Pasalnya, kira-kira kemana akan kami apply surat baru untuk magang dengan rentan waktu yang hampir habis, padahal syarat magang ini minimal 1 bulan.  Kamipun menceritakan kendala kami kepada salah satu dosen yang kami percaya, beliau seidkit menaggapi sikap kami dan tentunya memberi arahan dan saran. Temanku yang satu lagi, akhirnya sudah berhasil apply surat baru di daerahnya, tinggalah kami bertiga. Aku dan trman lainnya mulai apply surat izin magang ke Kemenag (kementrrian agama) Jakarta Selatan. Lagi-lagi kami berhasil apply berkat teman kami yang sudah ada relasi dengan orang dalam kemenag, Alhamdulillah tak lama kamipun dibolehkan langsung magang. Disinilah pengalaman kerja kantorku dimulai. 
   Terhitung mulai akhir Januari sampai pertengahan Februari kami melaksanakan magang di Kemenag Jaksel bagian PenMad (Pendidikan Madrasah) Suasana kerja di tempat ini juga terhitung lumayan menyenangkan, namun harus pandai-pandai mengusir kantuk saat sudah selesai jam makan siang (hehe). Jobdesc kami tak jauh dari input data para calon PNS maupun yang sudah PNS, para guru beserta tunjangannya, dan masih banyak lagi. Memang di magang kedua ini, kami hanya berkutat dengan data dan kertas-kertas saja. Untungnya, rekan kerja kami yang terhitung sudah memasuki kepala 30-50 tapi rupanya masih pandai membuat guyonan-guyonan receh ala abg, Alhasil tak jarang kami terhibur oleh ibu-ibu dan bapak-bapan gaul ini.
   Seminggu dua minggu kami lalui dengan aktivitas yang sudah terjadwalkan dengan rapih, pekerjaannya memang hanya input data dan menulis saja, tak jauh dari itu, tapi beginilah dunia kerja, meskipun kadang terlitas rasa bosan, harus selalu disyukuri bagaimanapun kondisinya.
    Bagiku, rekan kerja adalah hal yang paling berpengaruh terhadap performa kerja. Bagaimana tidak, setiap pekerjaan membutuhkan teamwork yang baik jika ingin hasil yang baik pula. Untuk itu, bagiku rekan kerja menjadi salah satu hal yang sangat kuperhatikan.
    Tiap harinya, kami berangkat dari Ciputat sekitar jam 6 pagi. Jika lewat sedikit, sudah dipastikan kami akan telat sampai dan pastinya sangat malu bukan (hehe)—meskipun pernah sekali dua kali, kami juga melakukan hal demikian karena tertinggal bus, atau alih-alih tak kebagian tempat jadi harus menunggu bus berikutnya, untuk itulah rstimasi 1 jam lebih 30 menit jadi acuan. Jakarta memang bukan main jika menyangkut urusan macetnya, apalagi saat jam kerja. Jika berangkat jam 6 kami akan sampai sekitar jam 7 lebih dikit. Staf kemenag memang masuk jam 7 lebih 30 menit sudah paling maksimal untuk telat.
    Akhirnya, Sudah memasuki minggu ketiga dan sesi magang kita hampir selesai. Alhamdulillah juga segala macam perdataan yang kami geluti sudah berhasil rampung sesuau deadline, tugas kamipun rupanya sudah selesai. Dihari terkhir magang, ada perasaan bercampur bahagia dan sedih pastinya. Tapu apapun itu pengalam ini tentu sangat berharga bagi kami, Terimaksih kepada semua pihak yang sudah terlibat, mudah-mudahan dilain kesempatan kami bisa bertemu kembali, silaturahmi.
    Setelahnya, mari kita bergelut dengan laporan akhir magang 😆







    Selamat malam, dan sungguh ini sudah sangat larut si. Arlojiku menunjukan pukul 00.28 WIB tapi karena baru merampungkan sesi edit video ala-ala, aku jadi belum ngantuk huhu
   Btw, kali ini aku mau lanjutin sesi "Episode baru" yang bagian tiga, tapi pengenya pake bahasa yang ga formal aja ya (ckck) maafin ih aga labil ya :))))
   Dicerita terakhirku kemarin, para peserta sudah masuk ke babak 3 besar, yapss panggung bagi para juara.
 Sudah kebayang belum gimana suasana di tiga besar ini? perasaaanku ketika itu jujursi ngerasa sepi banget, apalagi di tempat karantina. Anak-anak yg tereliminasi sudah pulang, tinggalah kami para mentor, kru dan anak-anak hebat yang masih harus berjuang memperebutkan posisi pertama.
   Yang kusadari betul saat merasa sepi adalah saat-saat berbuka puasa di rooftop, yang biasanya anak-anak ramai mengantri makan, mencari tempat duduk, sampai penuh mengisi pinggir-pinggir kolam renang, sekarang kosong melompong. Juga saat olahraga pagi, berasa banget sepinya. Meskipun begitu, semangat mereka saat harus latihan rupanya mampu mereka jaga, meskipun di minggu ini banyak sekali drama yang terjadi hehe. Aku bilang ini drama karena memang disetting untuk melatih mental mereka, goalsnya melatih untuk tetap profesional saat menghadapi rintangan, fokus, mengatur emosi agar tetap bisa berlatih semaksimal mungkin, dan masih banyak lagi. Moment haru banyak sekali terjadi, apalagi saat team kreatif tv memberikan beberapa kejutan tak terduga disesi terakhir proses karantina, yang salah satunya menghadirkan figur orangtua ke lokasi karantina (aku aja nangis gatau kenapa yaampun). Senang, sedih, haru, tekanan disana-sini kian mewarnai perjalanan mereka dibabak akhir ini. Banyak pelajaran berharga disesi ini, salah satunya pelajaran agar tetap rendah hati adalah koenjie!
  Sedikit catatan, diluar karantina kondisi Indonesia khususnya Jakarta sedang kurang baik situasinya. Beberapa tempat dan jalan menjadi sasaran amuk masa karena proses demokrasi untuk memilih presiden dan wakil presiden periode 2019-2024 yang berakhir ricuh. Hal itupun sedikit membuat kami resah, untungnya beberapa kegiatan diluar karantina sudah terlaksana dengan baik, hanya tinggal satu lagi yang begitu dinanti oleh para peserta dan kami semua, Live performence di panggung grand final.
   Diakhir cerita, aku sangat bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk ikut mensukseskan acara ini, dan yang paling berharga saat ini adalah silaturahmi yang masih tetap terjaga dengan baik, meskipun sejatinya raga kami entah kapan akan bertemu kembali, alhamdulillah summa alhamdulillah :))


Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Arsip Blog

  • ▼  2025 (1)
    • ▼  Januari (1)
      • Hallo, sweet heart :)
  • ►  2021 (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2020 (15)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (4)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (9)
  • ►  2019 (6)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (3)
  • ►  2018 (2)
    • ►  Desember (2)
Foto saya
Desty Sri Lestari
Sedang belajar memahami banyak hal, antusias dengan berbagai macam pengalaman orang, sedang menyicil ketertinggalan :)
Lihat profil lengkapku

Pengikut

POPULAR POSTS

desty_dyfa

  • Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates