Desty Sri Lestari

  • Home
  • Resensi Buku
  • Puisi
  • Cerita
    • Opini
    • Jejak
      • Episode Baru Bagian Pertama
      • Ia Bernama Ranah Mengaki
      • Drama Magang, dari ICC loncat Kemenag JakSel
      • Sosok Bapak
Terurai----


Hujan baru saja turun. Jatuh tepat sekitar pukul 18.00 WIB. Tak aku sangkal, hujan menahan aku dan teman-teman untuk memenuhi perut kami yang meminta jatah makan sore ini. Oia, mengapa aku bilang teman-teman? iya, aku sedang tidak sendiri pastinya. Dua hari ini, sekitar- senin dan selasa, soreku diisi dengan kursus bahasa yang diadakan oleh pusat bahasa di instansi kami. Tak banyak yang mengikuti kelas ini memang, tapi ada beberapa dari teman yang bisa kubilang dekat, juga ikut serta memenuhi kelas disesi sore ini. Kembali pada rasa lapar dan haus kami, akhirnya kami urungkan niat untuk menggajal perut dan lebih memilih mengerjakan soal atau tugas yang diberikan oleh pengajar kami. Temanku bergumam bosan, yang kudapati dari wajahnya, kurasa dia sudah kelelahan, ditambah jadwal kelas mata kuliah yang ia ambil memang menguras waktu hingga sore sebelum kurbas dilaksanakan.
Lain yang kurasa, dua hari kebelakang justru malah merasa senang, bisa kubilang harus lebih bersyukur atas nikmat hari-hari yang sedang kujalanin saat ini. Meskipun jam tidurku agak sedikit berantakan karena harus merampungkan tugas-tugas kuliah yang menuntut sesegera mungkin diserahkan. Ya, begitulah. Mahasiswa dengan sejumlah deadlinenya. Hehe.
Dua hari ini merasa optimis menjalani segalanya, energi positif seperti mengalir begitu saja, rasa takut yang ada justru memicu diri untuk lebih berusaha lebih keras lagi, memberi dampak positif yang selama ini aku rindukan dari diriku yang belakangan ini dirasa hilang. Rasanya bisa bersikap lebih tenang, dan lebih bisa berpikir optimis bahwa semua akan dilewati dengan baik-baik saja.
Contohnya kesan di hari ini.
Hari ini adalah giliran aku maju sebagai presentator. Pada mata kuliah ini, baru satu kelompok yang sudah memberikan materi di pertemuan pertama dan itu di tolak. Jalannya presentasi diberhentikan secara tiba-tiba kemudian si presentator dilempari pertanyaan-pertanyaan terkait materi yang akan di sampaikan. Pertanyaannya sangat kompleks, karena menekankan pada konsep yang kita sajikan. Seberapa matang kita dengan konsep yang kita hadirkan. Masalah yang diangkat, teori yang dipakai, metodologi dan bla bla bla nya. Dosenku yang satu ini memang sedikit disiplin, banyak mau, dan segala sesuatunya harus perfeksionis menurut versinya, hal kecil harus diperhatikan sedetail mungkin. Jika tidak, siap-siaplah menerima kritik yang kadang tak jarang keluar begitu pedas dari mulutnya. Tujuannya memang baik, yaitu mendidik. Dari ketelitiannya itu menuntut kita untuk menghindari kesalahan sedikitpun. Di pertemuan pertama temanku tidak mendapat nilai dari presentasi yang ia sajikan karena dianggap belum lolos dan harus menempuh revisi.
Kembali pada giliranku, seminggu setelah kejadian di Rabu lalu aku merasa begitu takut, banyak faktor yang membuat nyali merasa ciut, takut beginilah, begitulah, dan segala kemungkinan kemungkinan yang kurang baik bertebaran dikepalaku saat itu. Dari ketakutan itu kemudian muncul rasa cemas yang memaksaku untuk memaksimalkan sisa waktu sebelum tiba pada giliranku. 5 hari berlalu, perpustakaan dan buku menjadi teman dekatku akhir-akhir ini. Judul dan teori sudah beberapa kali berhasil membuatku mogok makan dan tidur. Tidak pas diganti, dirasa kurang ganti lagi, begitulah terus.
Sampai tiba di senin kemarin, konsep sudah sedikit lebih rapi dan akhirnya aku memutuskan untuk pasrah, memutuskan untuk siap menerima konsekuensi nantinya. Dan dari situ mulailah muncul rasa tenang, hal-hal positif mulai bisa terpikirkan dan efekya mulai aku rasa pada aktivitas lainnya yang kujalani. Yang penting sudah berusaha, hiburku.
Setiap pagi doktrinku pada diri sendiri aku jejali dengan kata kata baik, "aku yakin besok pak dosen akan menerima tugasku, atau optimis besok bisa melewati presentasi dengan baik" terdengar klise mungkin tapi itu berhasil.
So far, presentasiku berjalan lancar. Dan tugasku di terima dengan sedikit masukan. How happy this day was :)

 Idk how i can describe this feeling but i just wanna say thankyou, hamdallah. Maybe its sound strange, tapi ini bagian dari ucapan terimakasi pada diri sendiri yang sudah mau berusaha berdamai dengan rasa takut, menerima keadaan diri, berusaha memaksimalkan potensi diri, berdamain dengan kelemahan serta bersyukur atas kelebihan yang Tuhan titipkan yang sampai saat ini masih mau dijaga. Dan kurasa itu perlu.
Positive vibes di pagi hari itu sangat perlu.
 Dan aku meyakini itu.

-----
Anyway, Kelas kurbasku akan segera dimulai. Dan masih dengan rasa lapar yang sama hehe.
Nanti kita sambung lagi ya.




Kau biru diufuk timur merayu
Tentang samudera dan perihal adamu.
Pada esok beriring fajar tak hendak dibungkus pilu. Pada deru ombak memeluk harap di jangkar kapalmu, atau laut yang berkenan menyapa sekoci mungilku.
Aku berkenalan dengan takdir tuhan dan angin musim yang masam.
 Kuat meruntuhkan layar dikapal.
membawa pesan pada palung dan karang.

Coba lihat rahasia tuhan pada ikan ikan dan mutiara didasar keindahan.
Pada air asin yang mencipta jejak tabu dan hilang.

Kau biru bak permadani di tepi netraku
Pada senja dibalut hembus angin merajut rindu
Mengajak daun nyiur menari bersamaku

Tuhan maha indah bukan, jingganya menyisakan rasa
Pada tiap buih ombak yang bertasbih
Menata cinta pada satu cerita

Ah, aku kehilangan birumu
Pada nestapa yang kutemui di bibir pantaiku
Menuai luka pada tangan yang mendayung sampan sedari dulu
Tapakku tak lagi seasik dulu
Indahmu bak tembang yang melantunkan ilusi kebohongan penipu
Tak kutemui kerang pada karang yang kau ceritakan
Atau dasar keindahan dan samudera yang dikisahkan
Ikan pada biru sejauh mata memandang
Jaring tempat nelayan mengais harapan
Atau alasan mengapa mereka menyapa tuhan

----Oleh : Desty Sri lestari


Apa kabar cita-cita?

Dulu, punya kebiasaan sebelum tidur mesti banget nulis—perihal apapun si, ya diary lah, catatan-catatan kecil kaya do to list, frasa yang bunyinya cenderung galau meskipun lagi ga galau si (tapi gegalauan itu nikmat deh), ya paling engga kalo mager nulis nengok list cita-cita jangka pendek deh. Iya, dulu semasa pondok menjadi rumah dan tempat cita-cita itu tumbuh.
Selepas toga wisuda pondok di pindah ke bagian kiri, kebiasaan itu mulai lalai aku jalankan. Lebih tepatnya karena esok harus persiapan mengemas materi yang akan di sampaikan di kegiatan belajar mengajar (KBM). Waktu satu tahun selepas tamat sekolah jenjang menengah atas membawa aku ke ranah dunia ajar mengajar, atau tepatnya pendidikan. Dari pengalaman itu aku mulai belajar banyak hal, tentu keluar dari zona yang selama ini aku anggap nyaman. Dari kesemua itu agaknya menuntut aku untuk lebih memfilter apa yang semestinya di lakukan terlebih dahulu. Akhirnya kebiasaan membuat catatan sebelum tidur menjadi korban. Lama tertinggalkan dan akhirnya terlupakan. Sekarang baru sadar kebiasaan itu sebetulnya amat sangat berguna, bagaimana tidak, saat memutuskan menulis mau tidak mau aku harus memutar memori seharian itu-tadi ngapain aja ya, kemana aja, dapet apa aja, setelah memutar otak baru sadar tadi dibagian mana kita melakukan kesalahan, bagaimana problem solving yang akan kita temukan. Sampai sini pahamkan bahwa kebiasaan ini sebetulnya penting. Sayangnya tiga tahun kebelakang jarang dilakukan.
And i thing lets begin our routine again, kurasa ini belum begitu terlambat untuk mulai lagi.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Arsip Blog

  • ►  2025 (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2021 (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2020 (15)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (4)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (9)
  • ▼  2019 (6)
    • ▼  Maret (3)
      • Terurai----
      • Si Anak Pantai
      • Manusia Pelupa
    • ►  Februari (3)
  • ►  2018 (2)
    • ►  Desember (2)
Foto saya
Desty Sri Lestari
Sedang belajar memahami banyak hal, antusias dengan berbagai macam pengalaman orang, sedang menyicil ketertinggalan :)
Lihat profil lengkapku

Pengikut

POPULAR POSTS

desty_dyfa

  • Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates