Desty Sri Lestari

  • Home
  • Resensi Buku
  • Puisi
  • Cerita
    • Opini
    • Jejak
      • Episode Baru Bagian Pertama
      • Ia Bernama Ranah Mengaki
      • Drama Magang, dari ICC loncat Kemenag JakSel
      • Sosok Bapak

      Malam tadi selepas tarawih, aku bergegas merapihkan tempat tidur, membersihkan sela-sela kasur dan bantal dengan sapu lidi, sedikit dipukul-pukul dengan harapan debu-debu yang menempel di atasnya bisa hengkang dan tidak mengganggu tidurku malam ini. Selepas merapihkan beberapa sudut ruang kamar dan beberapa barang yang setiap ingin beranjak tidur tak bisa ku abaikan berserakan bukan pada tempatnya, ku lanjut membawa diri menuruni setiap anak tangga rumah menuju lantai satu dan berhenti persis di depan kamar mandi. Ya, rutinitas sebelum tidur, harus bersih-bersih. 

Rasa kantuk yang tadinya sudah di ujung sadar saat melaksanakan tarawih, tiba-tiba hilang seketika saat air dingin mulai merembas ke tiap permukaan kulit wajahku, membangunkan saraf-saraf di area mata dan sekitarnya, memulihkan setengah kesadaranku yang hampir hilang karena kantuk. Ah segar. 

Hal ini tentu berbeda dengan saat-saat aku bergegas merapihkan tempat tidur agar bisa segera terlelap dengan harapan dibuai mimpi indah sesegera mungkin. Air dingin khas malam hari membawa kembali kesadaranku. Kesadaran yang membawaku pada barisan buku di sudut kamar, tergoda menghampirinya, mungkin sedikit membaca bisa kembali membawa rasa kantukku, gumamku dalam hati.

Akhirnya ku putuskan memilih buku bergenree novel dengan tebal halaman sekitar 130 halaman. Lumayan untuk sekedar jadi alasan menunggu rasa kantuk menyerang, alasan lain memilih buku ini sudah pasti karena ‘sepertinya” ringan di baca, setidaknya tubuhku yang sejujurnya sudah merasa sedikit lelah bisa sedikit lebih santai menerima bahasan sederhana dan tidak terlalu menguras otak berlebih untuk memahaminya. 

Ipung judulnya. Buku ini dulu aku dapatkan sekitar tahun 2013, bertepatan saat menghadiri sebuah acara seminar bedah buku. Buku yang aku dapat sebagai hadiah selepas mengajukan sebuah pertanyaan di acara tersebut, entah pertanyaan macam apa pula yang ku ajaukan saat itu, lupa. 

Di halaman pertama ku tulis namaku sebagai pemilik buku tersebut, lengkap beserta tanggal saat mendapatkannya dan dibumbui dengan sedikit goresan kata “Kenangan seminar kang Abik” yang dicap dengan tanda tangan rumit, terkekeh geli melihatnya, melihat tanda tanganku di sana tentunya, panjang dan ribet.  

Buku Ipung menceritakan tentang seorang murid sekolah bergengsi di Semarang. Ia yang memiliki popularitas di sekolahnya karena keberaniannya. Keberanian yang sepadan dengan kecerdasan bakatnya, bakan mengolah kata-kata, bakat menyelesaikan persoalan, bakat yang pesonanya menyihir setiap mata dari berbagai kalangan, muda, dewasa, hingga yang lanjut usia. Ia yang memiliki bakat untuk di cintai, ya kecuali wajahnya. Wajahnya, yang sebenarnya tidak terlalu buruk tapi jika dibandingkan dengan anak-anak murid di sekolah itu yang mayoritas adalah anak-anak orang kaya dengan penghasilan yang menggila, tentu ia yang hanya berasal dari sebuah desa kecil di sebrang sana nyaris tidak ada apa-apanya. Namun hanya itu kekurangan yang terlihat di kehidupannya. Bukan Ipung namanya jika ia yang terkenal seantero Budi Luhur karena ketidaklaziman keberadaannya justru tidak disenangi oleh para gadis, para guru hingga kepala sekolah, bahkan sampai pada Douglas, sahabat besarnya yang berprofesi sebagai satpam sekolah. Yang paling membuat iri para teman kaya nya adalah sosok para gadis yang terang-terangan menyukainya, tak terkecuali Paulin. Paulin si bintang paling terang di sekolahnya. 

Laju jam menunjukan pukul 23. 00 WIB, kantukku belum kunjung tiba, sepertinya aku bisa membabat habis buku ini dalam semalam, pikirku. Akhirnya dengan sedikit pertimbangan ku putuskan untuk menyelesaikannya malam ini saja. Sepanjang ini, bagian seru versiku dalam buku ini belum kunjung terlihat, hal itu membuatku penasaran tentunya karena jika melihat sekilas beberapa pujian untuk Mas Prie di novel ini seperti menyimpan satu ledakan tentang sosok Ipung. Ledakan yang sepertinya sederhana, namun dalam.

Menurutku, kisah cinta Ipung dan Paulin hanya sebatas latar pelengkap kisah cinta romantis  ala-ala remaja di novel ini. Alur ceritanya biasa saja. Sederhana dan ringan. Jauh dari kisah cinta sejati khas tokoh-tokoh besar. Meski dibalut kisah cinta yang sedikit menoreh kepahitan, jauh di dalam cerita ini ada kesederhanaan yang penulis sampaikan tentang pembelajaran hidup. Ya, lewat tokoh Ipung. Keberanian yang menjadi modal utama untuk melangkah sedikit lebih maju. Mengelola bakat yang nyatanya turut andil menjadi penghantar manusia menghadapi persoalan hidup. Menjelma sosok Ipung, manusia dengan segala keterbatasan sosialnya namun tetap digemari banyak orang. 

Bagian 11 dalam kisah ini sedikit menyihir naluri perempuanku yang mengharapkan bisa bertemu dengan sosok Ipung di kehidupan nyata. Ipung yang ditulis mas Prie dengan pola pikirnya yang sedikit tidak wajar dari kebanyakan orang. Namun siapa sangka itulah daya tariknya. Misterius dan penuh tanda tanya, dilengkapi bakat kata-kata yang ia punya. Bakat negosiasi yang menjadi nilai tambah kecerdasan berpikirnya dalam menyelesaikan setiap persoalan sederha. Perempuan manapun pasti akan lemah dengan tutur kata ajaibnya. Sederhana tapi dalam. 

Sayangnya, Ipung harus berpisah dengan Paulin di halaman terakhir buku ini. Ipung yang kerap menyadari bahwa Paulin ternyata ikut andil dalam segala ketidakladziman yang terjadi dalam kisah hidupnya. Ipung yang baru menyadari bahwa Paulin memang alasan dari nyali besar dalam dirinya. Ipung, seperti judulnya, cerita ini syarat makna melalui pemeran utamanya.

Ipung #2, April 2021.




    Huaa akhirnya setelah sebulan penuh ga nengok laman blog, finally I’m back…

Berhubung waktu sudah menunjukan pukul 01.14 pagi, dan pastinya sudah memasuki tanggal 23 April yang sekaligus diperingati sebagai hari buku sedunia, kayanya aku mau sedikit cerita tentang buku yang baru saja rampung ku baca deh

Terhitung sekitar hari ke 3 di bulan Ramadhan tahun ini atau sekitar tanggal 15 April, aku berencana menyortir beberapa buku yang ada di bagian atas lemari bajuku. Biasanya buku yang aku taruh disana masuk ke dalam jenis buku pelajaran beberapa mata kuliahku. Tapi sepertinya aku ingin menggantinya dengan beberapa koleksi buku jenis novel atau jenis buku-buku memoir, puisi, dan beberapa buku bergenree self-help yang belum ku baca tapi belinya dari zaman kapan tau hehe. Akhirnya hari itupun aku mulai memilah milih. 

Singkat cerita, saat memilah-milih mataku tertuju dengan salah satu buku karya guruku semasa di pondok dulu, Namanya Ust. Saiful Falah. Aku mengingat-ingat, kapan ya aku beli buku beliau yang diberi judul 0km ini. Ah, rupanya aku ingat buku ini diberikannya secara gratis sebagai bentuk cendera mata dari beliau karena dulu sempat diberi amanah mengisi sebuah acara di pondok. 

Saraya pikiran melayang ke masa-masa di pondok, matakupun kembali menuai rasa penasaran setelah membaca tagline di bawah judul singkat itu dengan tulisan “perjalanan 3 benua 9 negara”. Sepertinya aku tertarik baca buku ini deh, berhubung aku juga lagi pengen banget baca tulisan motivasi gitu, pikirku.

Selepas merapikan buku-buku yang ku susun di bagian atas lemariku, akupun mulai membuka halaman pertama buku tersebut. Alhamdulillah tadi siang baru rampung ku baca secara keseluruhan.

Menurutku, buku tersebut sangat ringan dengan gaya bahasa yang sangat mudah dipahami, ceritanya pun beragam dengan latar belakang tempat yang juga demikian. 

Di bagian pertama, kisah tersebut di mulai dari negeri Upin Ipin, ya Malaysia. Ada sekitar 5 kisah yang penulis paparkan di negeri ini. Bercerita seputar perjalanan beliau saat masih berumur 25 tahun. Di bagian ini menurut pendapatku masih belum terlalu asyik memang, karena hanya menjelaskan seputar kegiatan beliau saat diundang untuk ikut pelatihan kepemimpinan madrasah di sana, meski begitu tak dapat dipungki banyak pelajaran yang bisa kuambil dari perjalanan beliau di Malaysia ini. 

Di bagian kedua aku dibawa loncat ke negeri Australia, ada sekitar 8 delapan kisah yang disuguhkan dengan latar tempat di negeri ini. Di bagian ini aku mulai sedikit tertarik dengan beberapa budaya Australia, meski di sini penggambaran tentang Australia itu sendiri, masih kurang detail dijelaskan. Tapi jangan salah, setelah membaca buku ini aku jadi sedikit tahu bagaimana usaha seorang muslim mencari makanan halal di Australia, meski ujungnya pilihan terakhir hanya memasak indomie hihi. Mudah-mudahan ada rezeki dan kesempatan ya untuk bisa terbang kesana (amin yang kenceng)

Lanjut ke bagian tiga, buku ini membawaku ke negeri Thailand. Sayangnya di bagian, tak banyak yang bisa ku jelaskan, entah saat membaca bagian ini aku sedikit mengantuk atau benar-benar sedang tidak fokus, yang jelas di negeri ini kesan yang ku dapatkan hanyalah sebatas gambaran besar saat penulis naik angot thai dan beberapa jamuan khas Patani yang diterima penulis. Kalo kalian kepo, bisa baca aja ya bukunya (hehe)

Selanjutnya ada negeri Singapore, Qatar, Saudi Arabia. Dari ketiga tempat ini yang menarik perhatianku adalah saat di Green Library Singapore dan Taj Mahal Jeddah Saudi Arabia. Aku memang selalu penasaran dengan penyediaan fasilitas perpustakaan di negara-negara maju. Green Library ini sebenarnya ada di dalam gedung National Library  yang memiliki jumlah lantai sebanyak 16 tingkat dengan luas sekitar 103 M, sedang Green Library ini terdapat di lantai basement 1. Dari namanyanya saja sudah bisa di tebak konsep yang diterapkan di Green Library ini didominasi dengan warna hijau dengan hamparan menyerupai taman. Rak bukunya-pun unik karena di bentuk menyerupai batang pohon yang cabangnya mencakar atap. Dan pastinya di kisah ini masih banyak sekali hal unik lainnya. Bikin pengen kesana deh. Lain halnya saat di Jeddah, di kisah ini aku dibawa tenggelam dalam sejarah sepasang kekasih. Seorang suami yang teramat mencintai istrinya dan seorang istri solehah yang tidak serakah. 

Selanjutnya penulis membawaku menjelajahi negeri Sakura, Jepang. Dan bagian ini adalah bagian paling menyenangkan versiku hihi. Setiap cerita di bagian ini mempunyai kesan tersendiri di kepalaku. Entah saat membaca kisah tentang nenek Noriko Matsuda yang usianya hampir kepala delapan tapi masih gesit dan semangat untuk bekerja sebagai tukang kebun, atau saat berbicara tentang sosok Mr. Ammar yang bekerja sebagai pemilik restoran Halal Food di Osaka sekaligus ketua Asosiasi halal di sana. Mr. Ammar ini mengedukasi orang Jepang terutama tentang penyembelihan hewan. Menurutnya banyak daging yang diklaim halal tapi cara penyembelihannya tidak sesuai dengan syariat Islam. Jadi masih banyak yang belum mengerti sepenuhnya tentang esensi halal itu sendiri. Menarik si menurutku. Intinya setiap cerita di Jepang berhasil membawa imajinasiku ikut terbang dan merasakannya langsung. 

Negara kedua yang sangat melekat dikepalaku adalah Turki. Bagian dari cerita ini juga menyenangkan. Membaca setiap perjalanan di sana mengingatkakku pada impian 5 tahun silam, ketika impian menimba ilmu di negeri ini masih membara. Mendengar namanya saja seperti sudah terlitas keindahan kotanya, belum lagi jejak sejarahnya. Ah, ingin sekali menginjakan kaki di negeri ini. Bermain salju, berkunjung ke tiap sudut jejak- jejak sejarah Islam yang pada akhirnya bisa berjaya di sana berkat panglima terhebat, sultan Muhammad Al-fatih. Kisah di neberi ini mengajarkankku untuk lebih berani memperjuangkan impian. 

Negeri terakhir adalah Indonesia, cerita di sini tentu sangat beragam. Ada sekitar 11 cerita, kalo pembaca  penasaran silahkan di order ya bukunya hihi.

Selamat hari buku sedunia, mari sama-sama tingkatnya minat baca :)






   Sabtu pagi di akhir februari tahun ini, sekitar pukul 10.00 WIB bus yang akan menemani perjalananku dan keluargaku kali ini rupanya sudah terlihat di area parkir yang menjadi meeting point kami. Selepas menyempatkan diri berziarah ke makam mamah di pagi hari, aku bersama kedua adik perempuanku mulai bergegas memasuki bus, memilih kursi kemudian menata barang bawaan kami. Semua sanak keluargaku sudah mulai memadati bus, kamipun mulai berangkat dan membuka perjalanan ini dengan membaca doa bersama-sama, memohon agar selama perjalanan ini diberi kemudahan dan selamat sampai tujuan. Perjalanan kali ini akan kami tempuh sekitar  -+12 jam menggunakan bus dari Cianjur menuju kabupaten Tasikmalaya yang terkenal dengan salah satu situs peninggalan sejarah berupa goa alam dan makam waliyullah Syeikh Abdul Muhyi.  Makam ini terletak di daerah Pamijahan, Bantarkalong, Tasikmalaya. Untuk menempuh perjalanan sekitar 12 jam ini sudah dipastikan bahwa setibanya disana hari sudah gelap. Hal ini sengaja direncanakan agar saat berziarah nanti tidak terlalu sesak dengan pengunjung, terlebih karena kondisi pandemi saat ini yang mengharuskan kami (dan kita semua) untuk terus menerapkan protokol kesehatan. Sesampainnya di Bandung, kami berhenti untuk menunaikan shalat dzuhur  yang dijama taqdim dengan ashar, sekaligus mengisi perut yang sudah mulai meminta jatahnya, padahal saat dalam perjalanan segala macam makanan ringan masuk ke mulut dan dilahap dengan nikmat (wk). Sapanjang ini, jalanan masih terbilang lancar dan nyaman, paling hanya macet barang 15-20 menit di area rawan macet seperti saat memasuki tol Padalarang dan beberapa pusat perbelanjaan. Selepas menunaikan shalat kamipun melanjutkan kembali perjalanan menuju Tasik, sayangnya saat itu tak banyak yang bisa kuceritakan karena rupanya kantuk mulai menyerang kedua mataku, ditambah keadaan dalam bus yang terasa agak sedikit  hening karena hampir semua kursi dipenuhi oleh lautan mimpi anak adam (wk), maklum habis makan. Daah bobo dulu. 

Waktu menunjukan pukul 17.00 WIB, aku terbangun dari tidurku dikarenakan sebuah insiden kecil yang mengharuskan kami semua untuk turun. Saat kulihat sekeliling rupanya sudah memasuki daerah Tasik, seingatku namanya  daerah Ciawi. 10 menit sudah berlalu, kamipun melanjutkan perjalanan dan berhenti di masjid daerah Raja Polah untuk menunaikan sholat Magrib dan bersiap untuk menyantap makan malam. Langit sudah gelap, setengah jam sudah berlalu, kamipun bergegas menaiki bus dan kembali duduk dikursi masing-masing. Di dalam bus,  beberapa dari kami bercengkrama sambil sesekali menertawakan film lucu yang sedang diputar, sebagian lainnya adapula yang tertidur. Biasanya, saat melihat jalanan malam terasa menyenangkan bagiku tapi karena kondisi sekitar jalan yang sangat minim lampu dan terasa sedikit berliuk-liuk, hal ini justru membuatku sedikit bosan dan kembali merasakan kantuk. Akhirnya kuputuskan untuk kembali memejamkan mata. Pukul 10 malam lewat beberapa menit akhirnya sampai, beberapa sanak saudara mulai saling mengingatkan agar bersiap-siap untuk turun, memeriksa kembali barang-barang berharga seperti dompet, hp, atau sejenisnya yang baiknya dimasukan kedalam tas yang akan dibawa.  Kamipun turun, dimulai dengan bismillah memulai berjalan kaki menuju makam terlebih dahulu yang dikepalai oleh paman kami selaku pemandu wisata rohani kali ini hihi. Untuk sampai ke makam Syekh Abdul Muhyi, kami menempuh sekitar kurang lebih 600-700 meter dengan berjalan kaki. Meski begitu, berjalan disana sangat tidak terasa karena disamping kanan kiri kami, banyak sekali pusat perbelanjaan yang siap memanjakan mata juga bisa dijadikan oleh-oleh khas setempat. 

Waktu menunjukan pukul 23.00 atau sekitar pukul 11 malam, sampailah kami di depan gapura yang yang bertuliskan “Selamat Datang di Makam Waliyullah Syekh Haji Abdul Muhyi Safarwadi di Pamijahan”  di ujung jembatan berwarna putih hijau. Setalah melalui gapura tersebut, kami masih harus melewati beberapa anak tangga untuk sampai ke bangunan persegi panjang menyerupai rumah. Oh iya sebelum memasuki kawasan makam, alangkah lebih baiknya mengambil air wudhu terlebih dahulu.  Di sekeliling tangga menuju bangunan terdapat kurang lebih 24 makam keluarga yang tidak terlalu menonjol. Terlebih saat itu kondisi agak sedikit gelap, membuat makam-makam di sekeliling tangga tidak terlalu terlihat. Setibanya di muka bangunan, di semua sudut dan ruang bangunan terdapat makam-makam yang berjumlah 11 makam dan tepat di bagian tengah bangun itu terdapat satu makam yang ditutupi oleh dinding dan beberapa gerbang yang digembok yang menjadi makam utama. Ada sekitar 6-7 peziarah lainnya yang terlihat di dalam bangunan saat itu, syukurlah tidak terlalu ramai saat kami sampai. Ziarah kali ini dipimpin oleh Om ada, salah satu paman kami. Sambil mengikuti tiap lapadz yang dilafalkan, kamipun hanyut dalam kekhusyuan. Oiya, perlu ditekankan ya, niat berziarah itu bukan untuk berdoa kepada yang wafat dalam artian ini Syekh Abdul Muhyi, tetapi berdoa hanya kepada Allah dengan wasilah Sang Waliyullah. 

Sekilas mengenai Syeikh Abdul Muhyi beliau adalah putra keluarga bangsawan melalui seorang ibu yang bernama  Ny. R. Ajeng Tanganjiah yang merupakan keturunan dari Raja Galuh (Pajajaran). Syeikh Abdul Muhyi lahir di Mattaram sekitar tahun 1650 M/1071 H. Beliau dibesarkan di Ampel/Gresik dan hidup dengan kedua orangtuanya sekaligus berguru kepada para ulama-ulama yang berada di Ampel. Dengan niat menimba ilmu lebih luas lagi, merantaulah beliau dari Ampel menuju Aceh diusianya yang masih 19 tahun untuk berguru kepada Syekh Abdul Rauf bin Abdul Jabar, seorang sufi dan guru tarekat Shattariyyah. 8 tahun mempelajari ilmu agama di Acah, saat menginjak usia 27 tahun, beliau beserta teman satu pesantrennya dibawa berziarah ke makam Syekh Abdul Qodir Jaelani di Bagdad oleh gurunya dan bermukim selama kurang lebih 2 tahun untuk menerima ijazah ilmu agama Islam. 2 tahun sudah mereka bermukim di sana, dan dibawalah mereka ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Selepas kepulangannya dari Mekkah, Syekh Abdul Rauf yang menjadi guru beliau menyampaikan pesan dan meminta Syekh Abdul Muhyi segera pulang dan mencari sebuah gua di bagian barat pulau Jawa untuk menetap dan bermukim. Menurut pemaparan AA Khaerussalam dalam bukunya Sejarah Perjuangan Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan, Syekh Abdul Rauf pada saat menunaikan ibdah haji di Mekkah mendapatkan ilham yang  konon diantara para santrinya akan ada yang mendapat pangkat kewalian. Pada ilham itu, dinyatakan bahwa tetika tanda-tanda itu telah tampak segeralah ia sampaikan untuk memintanya pulang dan mencari sebuah gua di daerah jawa bagian barat untuk menetap. Tanda-tanda tersebut rupanya tertuju pada Syekh Abdul Muhyi bahkan saat masih berada di Mekkah. Begitulah sedikit kisah tentang Syeikh Abdul Muhyi yang akhirnya mulai menyebarkan agama Islam di daerah Garut Selatan yang pada saat itu mayoritas penduduknya masih memeluk agama Hindu. Perjalanan beliau dalam menyebarkan ajaran Islam tak hanya sebatas di daerah Jawa Barat saja, tapi juga sampai ke pelosok-pelosok kampung halaman beliau. Tak heran, saat ia wafat di usia 80 tahun, para pengikutnya baik yang dekat maupun jauh saling berdatangan untuk mengunjungi makam beliau di Pamijahan dengan penuh rasa duka.


to be continue yaaa




Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Arsip Blog

  • ►  2025 (1)
    • ►  Januari (1)
  • ▼  2021 (3)
    • ▼  April (2)
      • Mas Prie GS dan Ipung #2
      • World Book Day
    • ►  Maret (1)
      • Menyisir Makam dan Goa Safarwadi
  • ►  2020 (15)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (4)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (9)
  • ►  2019 (6)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (3)
  • ►  2018 (2)
    • ►  Desember (2)
Foto saya
Desty Sri Lestari
Sedang belajar memahami banyak hal, antusias dengan berbagai macam pengalaman orang, sedang menyicil ketertinggalan :)
Lihat profil lengkapku

Pengikut

POPULAR POSTS

desty_dyfa

  • Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates