Desty Sri Lestari

  • Home
  • Resensi Buku
  • Puisi
  • Cerita
    • Opini
    • Jejak
      • Episode Baru Bagian Pertama
      • Ia Bernama Ranah Mengaki
      • Drama Magang, dari ICC loncat Kemenag JakSel
      • Sosok Bapak

Pagi ini kau ada 

Di sekelebat benda-benda

Sesaat sedang ku cari sisir—sisirku dikepala

Sisir berwarna biru kesayangan

Mengatur halus rambut yang awut-awutan

Helai demi helainya bak berisi kenangan

Seperti kau tengah menyimak kesedihan

Di ujung hati yang keruntang-pungkang

Mengenang kau yang pergi tanpa kabar

Sedang burung pelatuk raba-rubu 

Memecah hening di subuh nan dingin 

Pagi ini kau ada

Sesaat sedang ku cari gelas—gelasku di meja

Kepulan kopi panas menari diudara

Di seduh dengan sedikit sedih yang tak kunjung sudah 

Beriring rindu yang hendak tumpah

Ku intip bumantara

Langit malu-malu wajahnya 

Perlahan dilahap pendar baskara

Biru bergurat orange di pelupuk mata

Pecah, kerinduan anak adam ini muskil terasa

Pagi ini kau ada

Ku pungut kepingan rindu—Rinduku di kaca-kaca jendela

Sesaknya tetap di dada

Ia juga mengudara

Nyaris tak kenal rehat rupanya

Malam ini, kembali harap di kening seorang gadis yang hendak menarik selimutnya

Saban katanya riang menakhlilkan untaian kalimat yang genap diselimuti shyam

Ah, seperti malam-malam sebelumnya, ini masih sangat sama seperti biasanya, dingin bukan kepalang

Sedang jiwanya menunu bagai anala yang berkobar menuai percikan

Gelora yang nyaris tampak jelas lewat pesonanya disela-sela malam, lampu dan cahaya bulan

Hari ini, mungkin ia lalui dengan berlega hati dan rasa riang

Ah ya, sepanjang ini sudah banyak pengaduan yang diam-diam ia mohonkan dengan menadahkan kedua tangan ditiap malam

Tentu, saat hendak menarik selimut

Aku hampir lupa siapa diriku, setelah beberapa hari kubaringkan tubuh diatas ranjang sembari melamuni beberapa benda-benda berdebu yang tinggal, berikut impian yang hampir tanggal 

Aku hampir lupa siapa diriku, saat udara dingin tetap bersikeras menyelinap disela-sela selimut dan malamku, namun tak kunjung juga kutemui kosa kata baru

Aku hampir lupa siapa diriku, saat kebisuan serupa penyakit yang menyerang sebagian isi kepalaku 

Aku hampir lupa siapa diriku, saat beberapa langkah tetap keras kepala kujajaki, terseok tersungkur, terbentur, terbentuk lagi

Aku hampir lupa siapa diriku, saat alfa dalam do'a yang kupanjatkan teruntuk tubuh yang harus tetap ku kasihi dengan segala lebih dan kurangnya ini

Kini aku harus ingat kembali siapa diriku, bahwa perempuan harus lihai menyayangi diri sendiri, Ia harus pandai memeluk diri sendiri, cerdas memaafkan kealfaan diri, berbaiksangka pada setiap sulit yang nanti akan ia arungi kembali





Derita gadis menyanyat mengiris

Elokan nasib bagai tak digubris

Sorakan cita-cita hanya ilusi semata

Tanah jawa, toleh adat belaka


Kartini kecewa

Gadis-gadis dipenjara terlalu lama

Dunianya hanya sebatas tembok rumah 

sempit nan gelap pula

Kebodohan merajalela

Gadis-gadis tak punya kuasa

Dipingit dimadu mengais pasrah jiwa


Kartini mengaduh

mengayuh harapan untuk puan-puan jawa

Merongrong cahaya di fajar mendatang

Agar puan tetap jadi manusia yang 

dimanusiakan


Kau srikandi

Ayu bertopeng berani

Priayi bertopeng mandiri

Wanita inspirasi yang sejati


Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Arsip Blog

  • ►  2025 (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2021 (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (1)
  • ▼  2020 (15)
    • ►  Oktober (1)
    • ▼  September (4)
      • P A G I
      • Menarik Selimut
      • Aku
      • Babad Harap Sang Puan
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (9)
  • ►  2019 (6)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (3)
  • ►  2018 (2)
    • ►  Desember (2)
Foto saya
Desty Sri Lestari
Sedang belajar memahami banyak hal, antusias dengan berbagai macam pengalaman orang, sedang menyicil ketertinggalan :)
Lihat profil lengkapku

Pengikut

POPULAR POSTS

desty_dyfa

  • Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates