Desty Sri Lestari

  • Home
  • Resensi Buku
  • Puisi
  • Cerita
    • Opini
    • Jejak
      • Episode Baru Bagian Pertama
      • Ia Bernama Ranah Mengaki
      • Drama Magang, dari ICC loncat Kemenag JakSel
      • Sosok Bapak

 Drama perkuliahan emang ada aja ya. Suka dukanya nikmat banget kalo dijalanin, tapi puyeng banget kalo cuma dipikirin haha.
Istilah magang bukan hal yang asing bagi mahasiswa pastinya. Magang menjadi salah satu ajang yang mungkin paling dinanti-nantikan karena pengalamannya. Pun bagiku, pernah dititik seperti itu. Dinanti-nantikan dengan harapan menjadi pembuka relasi saat masuk ke dunia kerja nantinya, dinanti-nantikan sebagai pemuas rasa penasaran tentang dunia kerja yang jadi salah satu incaran—oh dunia kantor tuh kerjanya gini ya, ohh kalo kerja di penerbitan modelnya gini ya, ohh kalo kerja harus gini yaa, dan segala macam hal baru lainnya.
Semacam jenis pekerjaan untuk menambah pengalaman  selain untuk diri sendiri, nama instansi seperti jadi taruhanya jika tidak melakukan pekerjaan dengan baik. Waktu itu aku duduk di semester 5, Selesai melaksanakan setumpuk tugas dan ujian akhir semester, ketua prodi beserta beberapa jajarannya menghimbau adanya perkumpulan yang dikhususkan untuk angakatan kami karena akan ada pembacaan SK wajib magang di liburan menuju semester 6. Terhitung dari Desember akhir, kami harus sudah menentukan pilihan dimana akan melangsungkan magang yang akan berakhir di bulan februari nanti.
Bayangan magangku waktu itu, ingin sekali magang ditempat-tempat bersejarah yang tak hanya berkutat dengan perihal administrasinya saja, syukur-syukur bisa sambil jadi guide wisata tempat sejarah. Sayangnya, tempat dimana aku dan teman teman lain melaksanakan magang memang murni kita yang menentukan jadi harus mempertimbangkan jarak, jauh dekatnya jadi pilihan kami tentunya. Di plan awalku saat itu, dengan rekomendasi dari salah satu dosen, aku akan mulai apply surat permohonan izin magang di Bogor, yakni Museum Balai Kirti, semacam museum yang dipersembahkan khusus untuk mengenang para mantan presiden Indonesia, tak jarang juga kebanyakan orang menyebutnya Museum Kepresidenan. Museum ini terletak di Jl. Ir. H. Juanda No.1 RT 04 RW 01, Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat, 16122. Rencana awalku dimagang ini aku akan melaksanakannya dengan salah satu teman dekatku. Karena syarat magang diperbolehkan melakukan magang dengan format kelompok atau perorangan, pikirku jika bisa dilakukan bersama rasanya akan lebih ringan saat melaksanakan laporan wajib diakhir, dan lebih berkesan saat proses magang berlangsung tentunya.
  Sesampainya kami di pintu gerbang museum ini, dengan membawa sepucuk surat kami meminta izin satpam untuk bertemu dengan bagian administrasi, namun saat itu satpam bersikeras memberitahu kami bahwa museum ini tidak diperuntukan untuk khalayak umum dan sepertinya lowongan magang sedang kosong. Akhirnya kami memberitahu bahwa kami datang kesini atas rekomendasi dosen kami, sayangnya kami memang belum sempat bertukar kabar dengan salah satu staf yang dimaksud oleh dosenku tersebut—karena belum meminta kontak beliau, kebetulan saat dipersilahkan datang kami diberitahu boleh apply surat izin magang lewat screenshoot chat whatsApp. Satpam hanya menyarankan, untuk menaruh surat apply tersebut di kantor satpam, katanya biar nanti satpam yang membawa surat tersebut ke bagian administrasi. Jujur, perasaanku saat ini aga sedikit menyayangkan sikap daripada satpam tersebut, tapi apa boleh buat kami tidak bisa berbuat banyak setelah mencoba mengabari dosen kami dan sepertinya beliau juga sedang sibuk jadi tak sempat membalas dengan cepat, dan aku sangat mafhum akan hal itu. Singkat cerita, akhirnya kami mempercayakan surat apply kami di satpam, untungnya saat malam tiba kami akhirnya mendapat kabar dari dosenku, intinya akan segera dikomunikasikan dengan staf yang beliau kenal, bahwasanya ada mahasiswa beliau yang menitipkan surat apply di kantor satpam.
  Entah kenapa, saat itu aku sendiri menjadi kurang antusis melaksakan magang di tempat tersebut, akhirnya sebagai plan b, c bahkan d, kami tetap apply surat izin dibeberapa tempat lainnya. Temanku sudah memutuskan untuk apply di sekolah MA-nya dulu, tentunya menjadi seorang guru. Akupun mulai punya rencana ingin apply di Komnas Perempuan, lokasinya kebetulan ada di Jakarta. Setelah mengobrol dengan salah satu alumni yang pernah magang disana, diperkirakan aku harus mencari tempat tinggal sementara agar tidak repot nantinya, hmm memikirkan itu rasanya tidak memungkinkan jika harus menumpang dulu atau terpaksa mencari kosan baru sebagai tempat tinggal sementara.
  Akhirnya aku mulai memikirkan plan c, sambil menunggu pemberitahuan dari Museum Balai Kirti terkait apply yang kami kirim. Sebenarnya, sebelum memutuskan apply surat ke museum di bogor aku sempat ditawari magang di daerahku tinggal, Cipanas-Cianjur. Kebetulan Taman Bunga Nusatara saat itu sedang membuka lowongan bagi yang ingin melaksanakan magang, tentunya dengan bantuan salah satu keluarga yang kebetulan menjadi staf disana. Tapi keinginanku saat itu memang ingin sekali melaksanakan magang di tempat-tempat di Jakarta, atau minimal Bogor. Pikirku, mudah-mudahan saat lulus nanti, syukur-syukur bisa kulanjut jika permorma kerjaku diakui. Tapi alih-alih begitu, jika awal bulan Januari nanti belum juga mendapat kabar dari manapun, sepertinya tawaran magang di daerahku akan menjadi pilihan akhirku.
  Kembali ke plan C, temanku dari kelompok lain menawariku untuk gabung di kelompok magang mereka yang beranggotakan 3 orang, lumayan jika mau masuk bisa mengisi satu slot lagi, katanya. Akhirnya kuceritakan bahwa aku dan temanku sebenarnya sudah mulai apply dimana-mana, hanya tinggal menunggu panggilan. Tapi memang tidak ada salahnya mencoba lagi, akhirnya aku memutuskan untuk ikut apply di tempat magang yang akan mereka tempati nantinya.
  ICC (Islamic Cultural Center), Saat pertama kali mendengar nama itu, dalam pikirku mungkin semacam instansi penerbitan buku atau kajian budaya, atau bisa jadi hanya tempat seperti perpustakaan yang menyajikan berbagai macam pengetahuan yang berkaitan dengan kebudayaan. Kupikir tak apalah, karena waktunya sudah sangat mepet jika harus mengikuti keinginan untuk mendapat tempat magang yang sesuai dengan selera kerjaku. Lagipula aku belum dapat panggilan dari manapun, akhirnya saat pertama kali apply surat, hanya beberapa perwakilan dari kami yang datang kesana dan aku belum sempat ikut membersamai. Kagetnya mereka bahkan sudah menyarakan kapan kami bisa memulai magang kami, dan ini menjadi salah satu panggilan pertama kami setelah mencoba apply dimana-mana. Akhirnya kami diskusikan, agar magang cepat selesai diawal februari ada baiknya kami ambil saja panggilan magang pertama ini.
  Masuk pertengahan Januari, kami langsung  dipersilahkan memulai program magang kami, saat pertama kali masuk ke gedung tersebut, banyak pertanyaan yang terlintas dibenakku, ada sedikit perasaan mengganjal tapi urung kuungkapkan. Kami diperkenalkan dengan pimpinan ICC yang berasal dari Timur Tengah, tepatnya Iran. Setelah mengobrol banyak hal yang tak jarang dibantu translator, kami diajak berkenalan dengan beberapa staf juga bagian-bagiannya. Pertama kami dikenalkan dengan bagian penerbitan dan percetakan, yang terdiri dari staf redaksi, editor majalah, para layouter dan bagian design majalah atau buku. Lanjut ke bagian gudang, yaitu segala macam administrasi dan stok buku yang sudah diterbitkan maupun yang akan disalurkan, tapi dibagian ini kami tidak diperkenankan untuk ambil bagian karena tugasnya memang cukup berkaitan dengan fisik, seperti menghitung buku dan mengangkat atau memindahkannya agar bisa disortir, untuk itulah kami tak ambil bagian atas rekomendasi kepala staf ICC, setelah itu lanjut ke bagian perpustakaan, disini kami dikenalkan dengan kepala bagian perpustakaan, Namanya bu Ena, tapi kami hanya boleh memanggilnya dengan sebutan ka Ena. Dibagian ini kami dijelaskan mengenai jobdesc dibagian perpustakaan ini, seperti merapikan buku-buku, menyortirnya sesuai dengan jenis buku dan kategorinya, juga beberapa dari kami diajarkan terkait bagaimana peraturan sirkulasi peminjaman diperpustakaan ini berlangsung, oia selain itu juga ada yang bertugas di lobi masuk, tentunya sebagai resepsionis. Karena jumlah kami berempat, akhirnya kami diberi keleluasaan untuk menentukan jadwal kami sendiri dengan memilih dibagian mana kami ingin bertugas.
  Atas kesepakatan kami bersama dengan tujuan agar kami bisa merasakan semua bidang, akhirnya kami sepakat untuk berada di semua bidang dengan jadwal perminggu yang bergilir. Minggu pertama di Perpustakaan, minggu kedua di percetakan dan penerbitan, minggu ketiga di bagian administrasi gudang, tapi hanya bagian pengecekan data saja. Sementara untuk resepsionis juga bergilir perhari. Hari pertama kami rampungkan membuat jadwal dan ternyata ada beberapa revisi, kepala staf ICC rupanya ingin ada jadwal diskusi juga, teknisnya kami disuruh membaca beberapa buku yang disarankan yang nantinya akan dipresentasikan dan didiskusikan bersama, seingatku kepala staf ingin kegiatan diskusi ini berlangsung setiap hari kamis di perpustakaan. Dihari pertama bekerja ini juga, aku dapat panggilan dari Meseum Balai Kirti, sungguh diluar dugaan tapi inilah resiko  dan pilihan yang telah kuambil.
  Minggu pertama kami habiskan di area perpus. Kami menerima berbagai macam ilmu baru, baik yang dijadwalkan maupun yang diluar jadwal. Sedikit kuperhatikan juga orang-orang seperti apa yang menjadi rekan kerjaku disini, ada berbagi macam kegiatan baik yang menjadi rules yang sifatnya kerjaan maupun tidak. Contohnya seperti ajakan saat melaksanakan sholat jumat berjamaah meskipun sifatnya tidak memaksa, oia sedikit informasi aku bersama kelompokku semuanya beranggotkan perempuan. Intinya lumayan banyak kutemukan hal baru selama seminggu terakhir ini.
  Di minggu pertama ini kami mengalami beberapa kendala yang rasanya tak mungkin aku jabarkan disini, sejak awal memang ada perasaan menggajal dan banyak tanya dalam benakku, tapi sayangnya ketika itu aku urungkan. Akhirnya ketika sudah berlangsung hampir lima hari, kami baru membahasnya antar personil sampai kami adakan forum sharing sambil evaluasi kinerja kami di minggu ini. Dengan banyak pertimbangan dan segala sesuatunya, akhirnya sempat terlintas untuk berhenti diminggu pertama ini, menurut salah satu temaku. Temanku yang lainpun akhirnya mengutarakan hal yang sama. Sekali lagi, aku tak bisa menjabarkan alasan kami berniat mengundurkan diri di tulisan ini karena satu dan lain hal—mungkin nanti akan aku tulis ulang di halaman lain dengan latar belakang yang aku samarkan. Tapi intinya, kami datang dengan niat baik dan keluarpun melalui prosedur yang baik. Masuk ke minggu kedua, akhirnya kami berencana menemui kepala staf untuk menyampaikan permohonan maaf kami karena terpaksa harus selesai sebelum waktunya. Kami jelaskan detail dan alasannya, akhirnya kepala staf pun mengizinkan kami dan memberi kami sedikit oleh-oleh berupa beberapa buku dan majalah terbitan paling baru. Tak lupa kami sampaikan terimakasih atas pengalaman berharganya, kamipun pamit. Di ICC inilah kami mempunyai pengalaman berkerja sebagai resepsionis, segala macam yang berhubungan dengan data dan sirkulasi buku di perpustakaan, juga ilmu baru lainnya.
  Jujur, Aku sedikit aga bingung. Pasalnya, kira-kira kemana akan kami apply surat baru untuk magang dengan rentan waktu yang hampir habis, padahal syarat magang ini minimal 1 bulan.  Kamipun menceritakan kendala kami kepada salah satu dosen yang kami percaya, beliau seidkit menaggapi sikap kami dan tentunya memberi arahan dan saran. Temanku yang satu lagi, akhirnya sudah berhasil apply surat baru di daerahnya, tinggalah kami bertiga. Aku dan trman lainnya mulai apply surat izin magang ke Kemenag (kementrrian agama) Jakarta Selatan. Lagi-lagi kami berhasil apply berkat teman kami yang sudah ada relasi dengan orang dalam kemenag, Alhamdulillah tak lama kamipun dibolehkan langsung magang. Disinilah pengalaman kerja kantorku dimulai. 
   Terhitung mulai akhir Januari sampai pertengahan Februari kami melaksanakan magang di Kemenag Jaksel bagian PenMad (Pendidikan Madrasah) Suasana kerja di tempat ini juga terhitung lumayan menyenangkan, namun harus pandai-pandai mengusir kantuk saat sudah selesai jam makan siang (hehe). Jobdesc kami tak jauh dari input data para calon PNS maupun yang sudah PNS, para guru beserta tunjangannya, dan masih banyak lagi. Memang di magang kedua ini, kami hanya berkutat dengan data dan kertas-kertas saja. Untungnya, rekan kerja kami yang terhitung sudah memasuki kepala 30-50 tapi rupanya masih pandai membuat guyonan-guyonan receh ala abg, Alhasil tak jarang kami terhibur oleh ibu-ibu dan bapak-bapan gaul ini.
   Seminggu dua minggu kami lalui dengan aktivitas yang sudah terjadwalkan dengan rapih, pekerjaannya memang hanya input data dan menulis saja, tak jauh dari itu, tapi beginilah dunia kerja, meskipun kadang terlitas rasa bosan, harus selalu disyukuri bagaimanapun kondisinya.
    Bagiku, rekan kerja adalah hal yang paling berpengaruh terhadap performa kerja. Bagaimana tidak, setiap pekerjaan membutuhkan teamwork yang baik jika ingin hasil yang baik pula. Untuk itu, bagiku rekan kerja menjadi salah satu hal yang sangat kuperhatikan.
    Tiap harinya, kami berangkat dari Ciputat sekitar jam 6 pagi. Jika lewat sedikit, sudah dipastikan kami akan telat sampai dan pastinya sangat malu bukan (hehe)—meskipun pernah sekali dua kali, kami juga melakukan hal demikian karena tertinggal bus, atau alih-alih tak kebagian tempat jadi harus menunggu bus berikutnya, untuk itulah rstimasi 1 jam lebih 30 menit jadi acuan. Jakarta memang bukan main jika menyangkut urusan macetnya, apalagi saat jam kerja. Jika berangkat jam 6 kami akan sampai sekitar jam 7 lebih dikit. Staf kemenag memang masuk jam 7 lebih 30 menit sudah paling maksimal untuk telat.
    Akhirnya, Sudah memasuki minggu ketiga dan sesi magang kita hampir selesai. Alhamdulillah juga segala macam perdataan yang kami geluti sudah berhasil rampung sesuau deadline, tugas kamipun rupanya sudah selesai. Dihari terkhir magang, ada perasaan bercampur bahagia dan sedih pastinya. Tapu apapun itu pengalam ini tentu sangat berharga bagi kami, Terimaksih kepada semua pihak yang sudah terlibat, mudah-mudahan dilain kesempatan kami bisa bertemu kembali, silaturahmi.
    Setelahnya, mari kita bergelut dengan laporan akhir magang 😆







    Selamat malam, dan sungguh ini sudah sangat larut si. Arlojiku menunjukan pukul 00.28 WIB tapi karena baru merampungkan sesi edit video ala-ala, aku jadi belum ngantuk huhu
   Btw, kali ini aku mau lanjutin sesi "Episode baru" yang bagian tiga, tapi pengenya pake bahasa yang ga formal aja ya (ckck) maafin ih aga labil ya :))))
   Dicerita terakhirku kemarin, para peserta sudah masuk ke babak 3 besar, yapss panggung bagi para juara.
 Sudah kebayang belum gimana suasana di tiga besar ini? perasaaanku ketika itu jujursi ngerasa sepi banget, apalagi di tempat karantina. Anak-anak yg tereliminasi sudah pulang, tinggalah kami para mentor, kru dan anak-anak hebat yang masih harus berjuang memperebutkan posisi pertama.
   Yang kusadari betul saat merasa sepi adalah saat-saat berbuka puasa di rooftop, yang biasanya anak-anak ramai mengantri makan, mencari tempat duduk, sampai penuh mengisi pinggir-pinggir kolam renang, sekarang kosong melompong. Juga saat olahraga pagi, berasa banget sepinya. Meskipun begitu, semangat mereka saat harus latihan rupanya mampu mereka jaga, meskipun di minggu ini banyak sekali drama yang terjadi hehe. Aku bilang ini drama karena memang disetting untuk melatih mental mereka, goalsnya melatih untuk tetap profesional saat menghadapi rintangan, fokus, mengatur emosi agar tetap bisa berlatih semaksimal mungkin, dan masih banyak lagi. Moment haru banyak sekali terjadi, apalagi saat team kreatif tv memberikan beberapa kejutan tak terduga disesi terakhir proses karantina, yang salah satunya menghadirkan figur orangtua ke lokasi karantina (aku aja nangis gatau kenapa yaampun). Senang, sedih, haru, tekanan disana-sini kian mewarnai perjalanan mereka dibabak akhir ini. Banyak pelajaran berharga disesi ini, salah satunya pelajaran agar tetap rendah hati adalah koenjie!
  Sedikit catatan, diluar karantina kondisi Indonesia khususnya Jakarta sedang kurang baik situasinya. Beberapa tempat dan jalan menjadi sasaran amuk masa karena proses demokrasi untuk memilih presiden dan wakil presiden periode 2019-2024 yang berakhir ricuh. Hal itupun sedikit membuat kami resah, untungnya beberapa kegiatan diluar karantina sudah terlaksana dengan baik, hanya tinggal satu lagi yang begitu dinanti oleh para peserta dan kami semua, Live performence di panggung grand final.
   Diakhir cerita, aku sangat bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk ikut mensukseskan acara ini, dan yang paling berharga saat ini adalah silaturahmi yang masih tetap terjaga dengan baik, meskipun sejatinya raga kami entah kapan akan bertemu kembali, alhamdulillah summa alhamdulillah :))


  
   Live Performence di minggu kedua dimulai. Sesuai dengan ketentuan awal, 6 grup/peserta dipastikan harus pulang. Aku memegang dua grup perempuan, menurut kacamataku selama membersamai kedua grup ini, masing-masing tentu memiliki kekurangan dan kelebihan yang sangat unik. Grup pertama yang berasal dari Sumatera memang boleh diuji kesiapannya, dari segi materi musik mereka terbilang cepat tangkap saat harus pecah suara, maklum grup yang satu ini—menurut ceritanya memang sudah sering ikut kompetisi dan sudah punya jam terbang, jadi saat harus mengarahkan beberapa materi musik terutama bagian harmoni kepada mereka mereka, akan berlangsung mudah dan tak perlu waktu lama, tapi perlu diingat pula, sehebat apapun kita jangan pernah menyepelekan latihan ya. Dari segi koreo mereka juga sudah menyiapkan konsep, hanya ada beberapa yang paling harus direvisi agar lebih sesuai. Awalnya sempat berdebat sedikit perihal materi dakwah, aku menyiapkan beberapa opsi tapi ternyata mereka sudah mempersiapkan materi mereka dan mereka lebih siap dengan materi tersebut. Aku hanya bisa memberi masukan, selebihnya tentu mereka yang menjalankan, jadi rasanya tak baik juga harus memaksakan. Akhirnya kami sepakat memakai materi pilihan mereka dengan sedikit revisi. Di grup kedua yang kupegang ini berasal dari Kota Batu, Malang. Grup yang satu ini memang perlu ekstra dibersamai. Sedikit cerita, aku sering bertukar info dengan pembimbing mereka di Kota Batu sana, menurut Bu Dewi selaku pembimbing mereka, grup ini memang baru sekali terbentuk saat mengetahui ada ajang kompetisi ini, jadi itulah kenapa diawal kubilang harus extra dibersamai. Saat proses karantina berlangsung malah sempat cekcok antar anggota perihal materi dakwah, yang satu merasa kurang cocok yang satu merasa harus mengejar ketertinggalan. Dalam grup, konflik antar anggota memang biasa, apalagi anggota yang baru saja terbentuk. Disitu juga jadi point penting bagiku pribadi, saat mereka mulai menunjukan sikap yang aga kikuk satu sama lain, aku harus jadi si super kepo dengan menanyai dan mengajak mereka agar mau bercerita. Tapi overall, merrka anak yang sangat mudah diarahkan dan dinasehati, jadi hal semacam itu tak akan lama berlangsung. Jujur, mereka anak-anak yang sangat sopan dan polos, baik tuturnya, tapi kadang justru aku malu sendiri saat mereka melihat raut mukaku yang sedikit kelelahan saat harus melatih harmoni, aku masih sangat ingat pasti ada saja salah satu diantara mereka yang bilang "kaka maaf ya, kita lama belajarnya" atau "kak, maaf ya kita ga bener-bener terus pecahnya"  atau lagi "kak, diantara yang lain kita paling lama ya?" duhh, seringnya aku malah jadi gatega. dan yang justru malah terlintas dipikiranku adalah, apa aku terlalu keras ya ngelatih mereka, atau apa caraku terlalu memaksa ya sampai-sampai mereka berkata seperti itu terus. Akhirnya, sesi dikamar bersama mentor yang lain membuatku berpikir kembali, sepertinya perlu merubah beberapa format aransemen yang bisa mereka pakai sesuai kemampuan mereka, disitu pula aku  belajar mengenal mereka lebih baik lagi.
   Dibabak eliminasi 6 grup ini, sayangnya kedua grup binaanku harus keluar, menurut para mentor yang lain, sangat disayangkan salah satu dari grup binaanku yang disangka-sangka akan masuk ke minimal 4 besar justru harus pulang dibabak eliminasi 6 besar.  Tapi bagaimanapun, begitulah kompetisi, selalu ada hal tak terduga didalamnya. Ada 4 juri disetiap live performence. Masing-masing dari juri ini punya point tersendiri untuk menilai sesuai kategori yang harus dipenuhi saat penampilan berlangsung. Terlepas dari apapun hasilnya, keputusan juri memang tidak bisa diganggu gugat. 
.....

    Karena 6 grup sudah pulang, akhirnya jadwal mentoringpun berubah, aku memegang dua grup lagi, tapi kali ini tak hanya sendirian, lebih menantang bukan? Minggu menjadi semakin menggelora rasanya, kami seperti kawanan yang siap bertempur. Para peserta mulai mencari bahan untuk dijadikan materi lagi, kamipun selaku mentor mulai mencari ide bersama-sama lagi. Dibabak 6 besar ini, 3 diantaranya harus pulang. Moment paling tak terlupakan terjadi disesi ini, sangat amat menguras air mata rasanya. Sampai-sampai, baik mentor atau kru tak herannya dibuat berkaca-kaca dan berurai air mata. Hal tak terdugapun kembali terulang, ada beberapa grup yang harus pulang padahal grup ini terbilang sangat aman, tapi lagi-lagi para juri pasti punya penilaian tersendiri. Akhirnya sampailah dibabak 3 besar, panggung bagi para juara yang akan memperebutkan posisi pertama.

to be continue....






Jakarta, 1 Mei 2019.

        Koper dengan ukuran 20 inch berwaran biru dongker siap kuangkut dari kosan menuju alamat yang sudah kuterima, Hotel Mercure yang beralamatkan di Jl. Cikini Raya No.66, Kec. Menteng, Jakarta, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10330 tertulis dikolom grup whatsApp yg kesemua anggotanya akan menjadi rekan kerjaku nantinya. Tak ada satupun yang kukenal secara pribadi, paling satu dua yg kukenal lewat akun sosial media beberapa tahun lalu, seingatku saat sedang mengikutin festival di Jogja dan rekan satu panggung saat mengisi program acara di TVRI. Selain koper berwarna biru dongker ini, rupanya aku tak cukup puas dengan barang bawaanku saat itu, satu koper rasanya belum cukup untuk membawa keperluanku selama satu bulan kedepan, akhirnya kuputuskan untuk membawa satu tas berukuran sedang, alih-alih takut kurang ini itu karena tak ada yg kukenal dekat pasti malu jika harus merepotkan.
      Kendaraan oline membawaku menuju Stasiun Pondok Ranji, selepas tap kartu, aku menunggu beberapa menit kedatangan kereta, saat itu masih terbilang pagi, tapi beruntungnya aku tak harus berdesak-desakan dengan para penumpang yang mengejar jam kerja mereka, bisa dipastikan akan seperti apa jadinya, membawa begitu banyak barang saat jam berangkat kerja—Jakarta keras bos, hehe.

         Kereta membawaku ke stasiun tanah abang untuk transit, tapi karena malas harus menunggu kedatangan kereta selanjutnya yang diperkirakan datang sekitar 20 menitan lagi, akhirnya kuputuskan untuk keluar gate dan lanjut dengan kendaraan online.  Rasanya masih campur aduk, apalagi jika mengingat sebelum memutuskan untuk mengambil amanah ini banyak sekali pertimbanganya, harus bekerja profesional pastinya dan bagaiaman mengatasi rasa takut saat bertemu hambatan. Bagiku ini pengalaman dengan suasana yang terasa sangat berbeda, rekan kerjaku sudah dipastikan mereka yang profesional dibidangnya—bahkan akulah satu-satunya mentor yang terbilang paling muda, mengingat aku masih kuliah dan yang lainnya sudah lulus bahkan sudah berkeluarga, hal itu juga yang membuatku sedikit minder. Tapi lagi-lagi aku beruntung karena banyak orang diseklilingku yang tak berhenti men-support untuk bisa sampai disini.
     Waktu menunjukan pukul 10.15 WIB, aku sampai di lobi depan hotel dengan perasaan yang masih tak karuan—akan seperti apa ya rekan kerjaku, aku bisa nyambung ga ya, nanti banyak rintangan ga ya, aku bisa atasin ga ya, semuanya seperti berenang dikepalaku, hingga suara dua perempuan yang memanggil namaku dengan ragu-ragu berhasil membuyarkan pikiranku, mereka mengenalkan diri dengan sebutan Mia dan Eka—iya, aku pernah bertemu dengan salah satu dari mereka. Mereka mengantarkanku ke kamar 304—kamar kami selama satu bulan kedepan.

     Masih canggung rasanya, paling-paling hanya basa-basi sedikit. Aku datang lebih awal 30 menit dari jadwal briefieng pertama bersama para mentor lainnya, pikirku masih ada waktu untuk sedikit merapikan diri setelah 2 jam kurang 15 menit perjalan.

       Tepat pukul 11.00 WIB kami bertiga turun ke aula dan briefieng pertamapun dimulai. Dibriefieng pertama kami, ada sekitar 7 mentor di tahun ini, 3 perempuan dan 4 lainnya laki-laki, selain berkenalan satu sama lain untuk membangun chemistry, kami juga berkenalan dengan beberapa kru dari stasiun tv, setelah itu kembali membahas konsep dan jobdesc selama karantina, beberapa lembar jadwalpun dibagikan, tugas memegang beberapa grup peserta karantinapun mulai ketahuan. 

....


      Syiar Anak Negeri 2, inilah nama program acara di TV lokal Indonesia MetroTv. Program ini merupakan program special Bulan Ramadhan yang mana sasarannya adalah kalangan para pelajar Indonesia dengan tujuan untuk menggelorakan syiar Islam melalui kompetisi musik religi dan dakwah dikalangan anak muda.  Ajang pencarian bakat ini juga bekerja sama dengan Kementerian Agama Republik Indonesia. Selama bulan Ramadhan, 12 peserta yang lolos dari berbagai daerah wajib mengikuti karantina di Jakarta. Pada hari sabtu dan minggu merekapun akan menjalani live performence yang mana setiap minggu itu pula mereka harus berhadapan dengan babak eliminasi.
       Selain mentor dalam bidang musik, program ini juga menghadirkan mentor dari kalangan asatidz dari Kemenag, sehingga selama proses karantina berlangsung, tak ada alasan bagi mereka untuk tidak bisa membuat konsep seunik mungkin.

      Minggu pertama dengan segala persiapan live performence yang begitu hectic karena merupakan pengalaman pertama masih terasa menyenangkan, bahkan masih sangat menyenangkan. Aku pribadi, merasakan indahnya tim kerja disini. Para kru dari stasiun tv inipun begitu humble dan asyik, sehingga saat menjelang buka puasa bersama rasanya begitu ramai setiap harinya. Antar kru, mentor dan peserta jadi lebih seru dan berkesan tentunya.
       Di babak pertama live performence ini belum ada penyisihan, jadi masih dalam tahap pembiasaan dan penggemblengan. Menjelang babak kedua diminggu kedua, barulah 6 grup dipastikan harus pulang. Diminggu kedua inilah, rasanya sangat berbeda, para peserta begitu gigih berlatih, menghafal materi dakwah, mengulang materi musik dan aransemennya, juga berlatih koreo agar terlihat lebih menarik dan milenials.

....


  Dikeseharianku—terutama saat menjelang malam, aku dan kedua teman sekamarku juga ikut dibikin gusar pastinya, melihat mereka setiap hari selama dua minggu ini sangat gigih, perasaan takut belum cukup memberikan yang terbaik saat membersamai mereka juga tak jarang melintas dikepala, terkadang kami bertiga  justru malah bertukar kesulitan masing-masing seraya mencari solusi dan tak jarang berujung bergadang mencari referensi untuk aransemen—tapi itu bagian paling menyenangkan menurutku, karena dengan begitu aku benar-benar merasa bukan seminggu dua minggu mengenal mereka bahkan sudah seperti teman lama yang baru ketemu lagi, kami jadi semakin berchemistry satu sama lain.

....


to be continue....






Ia Bernama Ranah Mengaki
(Oleh: Desty Sri Lestari)
 
Potongan Pertama
     Perjalanan ini dimulai saat pembagian kelompok Kuliah Kerja Nyata yang kerap disebut dengan KKN mulai diumumkan oleh Pusat Pengabdian kepada Masyarakat (yang selanjutnya akan disebut PPM). Saat pembagian  kelompok mulai menjadi trending berita dikalangan mahasiswa/mahasiswi semester 6 kala itu. Beberapa nomor tak dikenal mulai masuk dengan membawa chat/pesan berupa sapaan dan perkenalan, satu dua nomor masuk, sempat berpikir, mungkin salah sambung, namun setelah melebihi batas wajar ternyata satu dua orang teman dekat mulai memberitahu bahwa pembagian kelompok KKN sudah keluar. Yang masih mampu diingat, saat itu orang yang pertama menghubungi melalui pesan singkat Whatsapp memperkenalkan dirinya dengan sebutan Salsa. 
Desty Sri Lestari, mahasiswi yang mengambil Jurusan Sejarah Peradaban Islam secara tidak sengaja ketika itu, kiranya seperti itulah identitasi saya. Mendengar kata KKN seperti sudah menjadi sesuatu yang kurang bersahabat ketika itu. Terlitas beberapa desas desis yang kiranya menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran tersendiri bagi saya. Pelosok desa yang jauh dari keramaian, medan yang belum saya kuasai, susahnya transportasi karena saat itu dalam benak saya pelosok desa jarang sekali memiliki angkutan umum, sulitnya beradaptasi dan berinteraksi secara langsung dengan orang-orang baru, dari mulai bangun tidur hingga kembali tidur, 24 jam penuh dengan 18 kawan yang masing masing memiliki cara pandang hidup yang tentu berbeda, tak jarang beberapa konflik menghiasi kegiatan kami nantinya, belum lagi harus berkenalan langsung dengan budaya dan adat yang belum pernah saya temui sebelumnya, apalagi jika harus mendengar mistis-mistis yang bertebaran sebelum KKN terlaksana. Sulit jika terus dipikirkan dengan rinci satu per satunya, namun bagaimanapun keluhan saya saat itu, hanya bisa ditangani dengan menjalaninya sebaik mungkin, sudah menjadi kewajiban bagi saya selaku mahasiswi untuk turut serta mengikuti program yang berasal dari PPM ini karena menjadi salah satu mata kuliah wajib yang harus saya penuhi untuk menjadi syarat menempuh Strata 1.
Akhirnya pilihan jatuh pada bertawakal, dengan niat yang harus diperbaiki bukan semata mata untuk menyelesaikan program kuliah saja namun juga harus dibarengi dengan tekad baik mengabdi pada masyarakat sekitar. Tangerang menjadi daerah yang diamanatkan kepada saya dan kelompok baru saya saat itu. Desa Kosambi yang terhitung masih sangat kental dengan kearifan lokalnya juga suasana pedesaanya. Begitu kiranya kesan pertama yang saya tangkap saat saya melihat secara langsung pasca survey untuk yang kesekian kalinya dilakukan.
Nama saya ada pada tabel kelompok 183 dari 200 kelompok KKN di tahun 2019 ini, ya nomor yang terbilang hampir mendekati akhir kelompok bukan. Setelah grup Whatsapp mulai terbentuk dan akhirnya mengadakan rapat pertama, suasana yang masih terbilang canggung dengan 18 orang kawan baru berhasil menentukan ketua untuk kelompok saya, nama Sujatmiko dan Agung Fachrudin Darussalam terpilih menjadi ketua dan wakil ketua untuk kelompok 183 ini. Grup whatsapp kembali ramai untuk membicarakan rapat kedua dan segera mungkin membahas nama kelompok beserta program kerja apa saja yang akan saya dan kelompok saya lakukan di lapangan. Beberapa teman mengusulkan nama untuk kelompok dengan filosofinya masing-masing, namun akhirnya pilihan nama jatuh pada Gemintang dengan harapan mampu mempresentasikan keberadaan kami sebagai penerang di bumi Kosambi kelak. Rapatpun berlanjut dengan kunjungan langsung ke lapangan, sebut saja survey, guna untuk menjalin silaturahmi dan memperkenalkan maksud yang saya dan kelompok saya bawa ke perangkat desa setempat. Niat dan maksud ini disambut hangat oleh salah satu perangkat desa yang saya beserta kelompok saya sebut Bunda Rita nantinya. Sayangnya, disurvey yang pertama saya pribadi tidak dapat ikut serta karena masih harus mengikuti karantina wajib di Jakarta Barat. 
Melihat jadwal yang ditentukan oleh PPM terkait pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata tahun ini jatuh pada tanggal 23 Juli- 23 Agustus, tentu membutuhkan persiapan yang sangat matang dengan waktu yang terbilang cukup singkat. Sebelum pelepasan oleh Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta terpilih tahun ini, Prof. Dr. Hj. Amany  Burhanuddin Lubis, Lc., M.A, di Auditorium Harun Nasution pada tanggal 22 Juli 2019. Saya beserta kelompok mensepakati beberapa program kerja yang berhasil dirancang bersama dan diklasifikasikan kedalam 4 bidang, bidang tersebut ialah:

- Bidang Lingkungan (Sarana dan Prasarana)
- Bidang Kesehatan
- Bidang Sosial 
- Bidang Pendidikan

Seutas Sawala 
Tepat tanggal 23 Juli selepas ba’da dzuhur kelompok 183 KKN Gemintang brangkat dari titik kumpul yang sudah disepakati sebelumnya, halte busway UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Saya beserta kelompok ini, siap berproses di desa yang diamanatkan oleh almamater saya untuk mengabdi selama 30 hari kedepan. Karena keterbatasan sepeda motor yang dibawa ke desa tersebut akhirnya  disepakatilah bahwa sebagian  berangkat dengan menggunakan transportasi umum berupa KRL Commuter Line (Kereta Rel Listrik) yang nantinya akan dijemput oleh mobil salah satu anggota kelompok kami, Aini. Dan sebagian lagi berangkat dengan menggunakan sepeda motor. Kebetulan saya berangkat menyusul karena harus mengurusi ID Card kelompok kami yang belum rampung dipercetakan. Akhirnya dengan terpaksa saya berangkat sekitar pukul 15.00 WIB, beda sekitar 2 jam lebih akhir dari rombongan. Sesampainya disana ternyata kunci rumah yang akan saya tempati sempat tidak bisa digunakan, hal ini sedikit membuat saya dan kelompok ini, harus menunggu beberapa menit. Selepas magrib akhirnya pintupun terbuka, setelahnya saya beserta kelompok bergotong royong untuk membersihkan ruangan yang akan ditempati. 
Memasuki minggu pertama kedatangan saya beserta rekan sekelompok di desa Kosambi, saya dan rekan lain disambut hangat oleh beberapa warga. Bahkan anak-anak terlihat antusias akan keberadaan pendatang baru ini. Sekedar informasi, posko saya terbilang sedikit jauh dari hiruk pikuk warga setempat karena posko yang saya tempati memiliki ruang lingkup yang terbatas, berada di tengah-tengan sawah yang mana  ditengah-tengahnya berdiri 4 bangunan, area depan dipagari oleh gerbang yang terbuat dari besi sehingga tingkat keamananpun bisa terkontrol dengan baik, dibalik gerbang berdiri satu kantor yang nantinya saya sebut PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Mengajar) disampingnya terdapat ruang kelas yang setiap sabtu minggu digunakan untuk para siswa setempat yang mengambil paket sekolah (nantinmya kelas ini akan dipakai untuk tempat tidur mahasiswa), selain itu juga berdiri kokoh satu mushola yang masih sangat terawat dan tak jauh dari mushola, sekitar 700 m berdiri bangunan yang disebut dengan Laboratorium Komputer yang saya dan kelompok saya gunakan sebagai tempat tinggal mahasiswi selama satu bulan kedepan atas izin  dari pemilki tanah PKBM yaitu Pak Furqon. Selain Pak Furqon, ada juga pak Dede selaku salah satu staf dari kantor PKBM itu sendiri. Saya dan kelompok saya juga dikenalkan dengan Pak Musa dan keluarganya, mereka tinggal tak jauh dari lingkungan PKBM, Pak Musa ini selaku orang yang bertanggung jawab atas segala sesuatu yang berada di lingkungan PKBM, baik Mushola, mengurus padi-padi yang ditanam, juga merawat bebek-bebek yang diternak disebelah barat PKBM. Betul, Pak Musa ini merangkap jadi Petani dan Peternak. Ada banyak kekaguman tersendiri yang tak begitu saya mampu bisa saya deskripsikan pada sosok ayah yang satu ini. Tak jarang juga Pak Musa menemani kami khususnya para mahasiswa untuk berjaga (Ronda) di malam hari. Peningkatan keamanan memang sangat perlu diperhatikan betul mengingat saya beserta rekan lain adalah warga baru dan pendatang, selain itu juga Tangerang terkenal dengan kriminalitasnya yang cukup tinggi bukan, namun apapun bentuk alasannya dimanapun dan kapanpun berhati-hati itu memang penting. 
Sedikit saya deskripsikan suasana di PKBM atau yang saya sebut posko. Saya merasa sangat beruntung pada akhirnya karena mendapatkan tempat disini. Saya beserta rekan yang lain mendapatkan air bersih yang cukup, meskipun tak jarang beberapa kali tetap harus membuat antrian panjang agar tidak kehabisan air. Tetap saya bilang ini cukup. Air yang saya pakai untuk kebutuhan sehari-hari, baik untuk mandi atau memasakpun tidak tawar atau asin, disitulah titik bersyukurnya saya pribadi. Mengingat beberapa kali saya sholat di luar lingkungan PKBM air yang saya dapatkan, rata-rata tawar dan agak sedikit asin rasanya. Harus dimaklumi, karena lokasi penempatan KKN saya terbilang tidak begitu jauh dari pesisir laut pantai utara.  Selama KKN berlangsung, saya belum pernah merasakan hujan mengguyur bumi Kosambi ini. Saat itu memang sedang musim kemarau, bahkan beberapa sungai sempat kering dan tidak mengalirkan air karena harus bergantian membuka bendungan dari pusat agar air tetap bisa ditemui dibeberapa sungai. Seingat saya, pernah sesekali sempat mendung dan gerimis namun tak kunjung turun hujan. Disitulah lagi-lagi saya pribadi merasa harus terus bersyukur karena air bersih masih terbilang cukup dan mudah saya temui di lingkungan sekitar PKBM. Sekedar informasi, sungai di desa ini sangat besar pengaruhnya bagi warga setempat. Sungai digunakan sebagai tempat mencuci pakaian kotor, mandi, bahkan beberapa masih saya temui jamban-jamban yang bertengger di tepian sungai. Itu artinya masyarakat di desa ini masih sangat bergantung dengan aliran sungai untuk keperluan sehari-hari. Desas desisnya rutinitas di sungai ini masih menjadi salah satu budaya yang belum ditinggalkan masyarakat setempat meskipun beberapa rumah memiliki kamar mandi yang layak untuk digunakan. Hal lain yang membuat saya kembali harus berucap syukur adalah pemandangan yang elok. Hamparan sawah dan padi yang saat itu mulai menguning seperti siap mernanjakan mata masyarakat pendatang seperti saya yang terbilang jarang sekali melihat pemandangan seelok itu.. layaknya dikota, saya hanya bisa bertemu dengan gedung pencakar langit dan gemerlap lampu ibu kota. Disini, Sudah dipastikan pula setiap menjelang sore saya bisa menikmati kuasa Tuhan dibalik detik-detik terbenamnya matahari setiap harinya. Begitulah kiranya gambaran suasana ditempat yang saya sebut posko.
     Kembali ke kelompok saya, Ada bebeapa program kerja yang saya beserta rekan satu kelompok laksanakan diminggu pertama. Sembari menunggu kepastian dari kepala desa terkait pelaksanaan pembukaan Kuliah Kerja Nyata, saya berserta rekan lainnya melakukan silaturahmi sekaligus sosialisasi kepada warga sekitar, sembari memperkenalkan diri terkait kehadiran kelompok kami. Rumah yang dituju pertama kali yaitu rumah bunda Rita, kemudian setelah itu diarahkan ke Rumah Ketua RT 020 yaitu pak Yono yang nantinya akan menjadi fokus wilayah yang akan dieksekusi dan diselerasakan dengan program kerja yang telah saya dan teman-teman buat. Hingga sampai dihari tepat dilaksanakannya pembukaan, Alhamdulilah saya beserta rekan-rekan lain sukses mempresntasikan program kerja yang akan digarap dengan di moderatori oleh teman saya Zulhermansyah. Kebetulan dipembukaan saya bertugas sebagai Dirijen untuk memandu dua lagu Nasional yaitu Indonesia Raya dan Bagimu Negeri.
      Memasuki minggu kedua saya beserta rekan lain masih terjalin dalam ikatan yang harmonis, satu sama lain saling support dalam menjalankan program kerja. Beberapa masalah yang muncul belum begitu rumit dan masih bisa diatasi dengan kepala dingin. Paling hanya masalah eksternal dan kesalahan teknis yang masih bisa dimaklumi. Program kerja satu persatu mulai terselesaikan, hingga sampai disatu malam saat rapat dan evaluasi berlangsung. Untuk pertama kalinya evaluasi dilakukan dengan keterbukaan dari sebagian  personal yang ingin menyuarakan keluh kesahnya (biasanya hanya briefing dan rapat). Ada yang salah paham, ada yang tiba-tiba menangis, ada yang tiba-tiba menjadi pendiam setelah mendapat kritikan, ada pula yang hanya menyimak dan tak tau apa yang harus dilakukan untuk mencairkan kembali suasana yang dirasa mulai sedikit memanas. Saya salah satunya, saya memang termasuk orang yang lebih baik memilih diam saat dihadapkan dalam situasi seperti itu. Benang merahnya ada diperbedaan pendapat, sudah dipastikan menyatukan 18 kepala untuk satu visi dan misi itu memang tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa. Saya kira permasalahannya hanya terletak dicaranya. Bagaimana kiranya 18 orang ini mampu menurunkan ego masing-masing saat salah satu pendapat tidak terpakai, menegur dengan santun saat teman melakukan kesalahan yang membuat kesal, atau sekedar menghormati orang yang sedang mengeluarkan pendapatnya di forum dengan tidak memotongnya, saling menghargai begitulah kuncinya. Namun manusia tetaplah manusia, sesuai kodratnya, kadang khilaf. Terlepas dari itu semua, saya yakin tujuan 18 orang ini tetap bermuara pada kebaikan, ingin memberikan yang paling baik pada pengabdian ini. 
   Izinkan saya sedikit menorehkan ucapan terimakasih kepada 18 orang ini. Dalam kacamata saya, mereka luar biasa. Meskipun tidak adil rasanya jika saya mengeneralisasikan sifat mereka kedalam satu kategori, namun menurut saya mereka mahasiswa dan mahasiswi baik, menjunjung tinggi adab dan perilaku yang  mereka implementasikan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Contohnya, ketika tiba waktu sholat, menjaga adab dihadapan orang yang lebih tua meskipun sebenarnya juga tak jarang merasa kesal dan ingin mengeluh, saling membantu dan mengingatkan dalam kebaikan, untuk yang ini terlebih saya rasakan bersama rekan perempuan saya. Terimakasih sudah mau berupaya untuk saling peduli satu sama lain, saat saya sehat ataupun sakit, terimakasih sudah mau direpotkan saat saya pribadi merasa kesulitan menghadapi masalah yang ada, saat bersedia menampung cerita dan bersandar saat ingin didengarkan, terimakasih sudah berjuang bersama menyelesaikan program kerja dengan berupaya menyelaraskan ego yang ada, kepada para ciwi-ciwi terimakasih sudah mau berupaya menyajikan makanan seenak mungkin setiap harinya, tak bosannya mengulang jadwal piket masak dan bersih-bersih untuk kenyamanan bersama, terimakasih sudah mau diganggu saat tengah malam untuk dimintai antar kekamar mandi yang berada diluar, khususnya kepada Salsa dan Lian, dan kepada para bujang, terimakasih sudah mampu diandalkan sebagai pemimpin bagi kelompok saya, memimpin jalannya rapat dan pelaksanaan program kerja, memastikan saya dan para perempuan selamat sampai tujuan saat pelaksaan program kerja berlangsung, mau berjaga setiap malam untuk keamanan bersama, mau direpotkan saat harus membeli kebutuhan sehari-hari seperti membeli air galon, meskipun tak jarang para perempuan gemas karena sedikit lama, biarlah itu jadi bumbu bagi kelompok saya. 

Perkenalkan, Kosambi.
Mudah menemukan gelak tawa anak-anak yang kegirangan dengan dalih menghabiskan jatah main dimasa kecil mereka. Tanpa harus menghabiskan puluhan rupiah yang harus orangtua mereka keluarkan untuk membeli mainan mahal keluaran terbaru atau dengan merengek minta dibelikan  gadget berbasik android yang biasa digunakan untuk bermain game online yang banyak digandrungi anak-anak milenials seperti sekarang ini. Sederhananya, gelak tawa itu bisa anak-anak di desa ini dapatkan hanya dengan mendapat jatah main selepas pulang sekolah. Ada yang bermain sepeda disiang bolong, menyusuri penggalan sawah, menerobos jembatan demi jembatan, sambil berlomba-lomba menentukan siapa yang paling dulu sampai tujuan. Ketika ditanya mengapa tidak tidur siang, jawaban mereka hanya sederhana, “tidur mah ti peuting hungkul, beurang mah jang ameung”. Baiklah, setiap anak kecil memang tidak menyukai tidur siang. Sebagian juga ada yang bermain layangan disawah, biasanya lapak sawah yang padinya sudah dipanen dan sawah dibiarkan kering untuk beberapa saat. Di sepanjang sungai juga tak jarang ditemukan anak-anak yang tertawa riang, berenang sambil bermain air dengan menggunakan ban-ban udara yang mereka bawa. Terik, suhunya bisa mencapai 330 C atau bahkan lebih,  udara di desa ini memang begitu panas dan gersang, beruntungnya dilingkungan gerha yang nantinya saya akan mengaki ini masih dikelilingi oleh sawah-sawah yang menghampar berhektar-hektar dari sisi kanan, kiri, juga bagian belakang. Setidaknya masih ada udara segar yang bisa saya nikmati, pikirku. 
Kosambi merupakan salah satu desa yang masuk ke dalam wilayah administratif Kabupaten Tangerang, Banten. Desa ini terdiri dari 3 Dusun, 6 RW (Rukun Warga), dan 22 RT (Rukun Tetangga). Dengan penetapan batas wilayah di sebelah Barat yaitu Gintung, sebelah Selatan Pisang Jaya, sebelah Utara Rawa Kidang, dan sebelah Timur Kayu Bongkok atau yang orangorang mengenalnya juga dengan Muara Kondang. Adapun gambaran secara umum desa Kosambi ini di dominasi oleh Persawahan. 
Perlu diketahui pula, sungai di desa ini sangat besar pengaruhnya bagi warga setempat. Sungai digunakan sebagai tempat mencuci pakaian kotor, mandi, bahkan beberapa masih saya temui jamban-jamban yang bertengger di tepian sungai. Itu artinya masyarakat di desa ini masih sangat bergantung dengan aliran sungai untuk keperluan sehari-hari. Desas desisnya rutinitas di sungai inipun  masih menjadi salah satu budaya yang belum ditinggalkan masyarakat setempat meskipun beberapa rumah memiliki kamar mandi yang layak untuk digunakan. Namun sayangnya, disepanjang sungai yang saya temui jarang sekali mengalirkan air bersih yang seyogyanya mampu dikatakan layak untuk digunakan. Air sungai berwarna hjau mengalir dari bendungan menyusuri anak sungai, sampah sampahpun banyak yang berserakan di tepian sungai juga disamping tanaman-tanaman yang hidup disepanjang sungai, belum langi sampah yang berhasil tersaring saat melalui bendungan sangat jelas terlihat di pinggiran jalan dan jembatan, bahkan sempat saya lihat bangkai kucing yang mengambang di dekat bendungan sungai bedeng saat itu, mungkin terjatuh atau entahlah, saya tak bisa menyelamatkannya karena sudah megambang dan menjadi bangkai. Setiap paginya kadang saya temui ikan-ikan sapu mati dan menebarkan bau tak sedap di sepanjang sungai bedeng ini. Bisa jadi ikan-ikan itu mati karena air yang tercemar sampah, atau juga bisa karena terbawa oleh para pengambil sampah di permukaan sungai dan enggan untuk membawanya pulang karena bercampur sampah dan akhirnya ditinggalkan begitu saja ditepian sungai.  Adapun air hijau yang mengalir tersebut entah salah satu faktor pendukungnya karena cuaca di desa ini saat itu sedang kemarau yang panjang sehingga sedikit banyak tentu berpengaruh terhadap kualitas air yang dihasilkan, atau bisa jadi air yang mengalir di desa ini biasanya memang seperti ini. 
Berkaca pada kondisi yang ada, salah satu program yang saya dan kelompok saya usungkan diantaranya adalah pengadaan tempat sampah di sekitar area-area jalanan dan sungai, dengan harapan jika tempat sampah disediakan dipenjuru tempat akan meningkatkan kesadaran masyarakat sekitar untuk tidak lagi membuang sampah ke sungai tapi pada tempat-tepat yang sudah disediakan. Namun ternyata, sangat disayangkan program ini tidak mampu kami lanjutkan karena mendapat sedikit pertimbangan dari perangkat desa yang hadir saat presentasi program kerja di pembukaan berlangsung. Alasannya, karena tidak tersedianya mobil pengangkut sampah atau yang biasa disebut dengan truk sampah yang dapat membawa sampah-sampah tersebut ke tempat pembuangan akhir (TPA). Akhirnya saya beserta kelompok saya merencanakan program kerja baru yang mana memberikan kemanfaatan yang sama. Menindak lanjuti dari keluhan ketua RT 020, akhirnya terciptalah program kerja baru berupa penerangan jalan diwilayah sekitar RT 020 yang disertakan dengan pembuatan plang. Memang sedikit berbelok dari keinginan awal saya dan kelompok saya untuk membantu meringankan permasalahan sampah yang ada, namun setidaknya terciptalah kembali program kerja lain yang mampu memberi manfaat yang sama nantinya. 

Bunyi Sederhana 
Tanggal 23 Agustus 2019, saya mulai mengemas pakaian dan perlengkapan lainnya seperti kasur, alat mandi serta barang-barang kecil lainnya yang saya bawa tepat sebulan yang lalu. Ada perasaan senang dan sedih yang berkecamuk saat itu. Senang akhirnya bisa kembali pulang kerumah tercinta dan berkumpul bersama keluarga, sudah lama rasanya menahan rindu. Disatu sisi juga sedih ketika harus melihat anak-anak meneriakan nama saya dan teman-teman saya sambil menanyakan kapan kembali ke desa ini. Yaampun, padahal sayapun belum senpat pergi dari desa ini sudah ditodong kapan kembali, sedih ketika tak ada lagi kejenakaan yang sama saat bergurau sambil bermain UNO bersama teman-teman seperjuangan, ya meskipun saya sendiri tak mengerti cara kerja permainan ini dan hanya menonton sambil sesekali melihat satu persatu teman saya dilumuri bedak putih diseluruh mukanya jika kalah. Ah, rindu. Kalian seperti bayi yang baru selesai dimandikan ibu tau –cemong hehe, sedih karena tidak bisa lagi menikmati angin segar sawah yang sepoi-sepoi disiang bolong yang kadang kala tak jarang sambil ditemani orang yang melantunkan lagu-laguan lewat pengeras suara –chika orangnya, sipemilik suara merdu, begitulah saya dan teman-teman memanggilnya. Namun berapapun alasan yang menahan saya untuk tetap tinggal disini, saya tetap harus meneruskan perjalanan ini, kewajiban menempuh dan menyelesaikan kuliah yang sudah saya mulai. 
Kosambi dan segala isinya meninggalkan ribuan kenangan yang tersisa, pengalaman yang begitu berharga yang saban hari bisa saya ceritakan ke anak cucu  saya kelak, ingatan yang seutuhnya tak mampu terbayar dengan nominal tentunya, semoga Tuhan senantiasa menjaga bumi kecil ini, merawat keelokannya, menjaga kearifan lokalnya, semakin menjadi desa yang bermartabat, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanuasian, mencetak generasi-generasi yang gemilang dan semakin maju dalam sarana prasarananya.
      Terimakasih untuk yang terkasih, SD Kosambi 1 dan 2 beserta staf dan jajaranya yang telah memberikan banyak sekali pengalaman juga kesempatan, semoga semakin unggul dan terdepan dalam mencetak generasi yang berprestasi, Kepada perangkat desa beserta jajaranya terutama bunda Rita, terimakasih sudah senantiasa mengayomi saya beserta kelompak saya dalam segala hal. Terimakasih kepada Pak Furqon, Pak Dede, Pak Musa, dan semua pihak yang terlibat yang tak mampu saya sebutkan satu persatu. Do’a dan harapan terbaik saya selalu melambung untuk bumi kecil ini, Kosambi.









Terurai----


Hujan baru saja turun. Jatuh tepat sekitar pukul 18.00 WIB. Tak aku sangkal, hujan menahan aku dan teman-teman untuk memenuhi perut kami yang meminta jatah makan sore ini. Oia, mengapa aku bilang teman-teman? iya, aku sedang tidak sendiri pastinya. Dua hari ini, sekitar- senin dan selasa, soreku diisi dengan kursus bahasa yang diadakan oleh pusat bahasa di instansi kami. Tak banyak yang mengikuti kelas ini memang, tapi ada beberapa dari teman yang bisa kubilang dekat, juga ikut serta memenuhi kelas disesi sore ini. Kembali pada rasa lapar dan haus kami, akhirnya kami urungkan niat untuk menggajal perut dan lebih memilih mengerjakan soal atau tugas yang diberikan oleh pengajar kami. Temanku bergumam bosan, yang kudapati dari wajahnya, kurasa dia sudah kelelahan, ditambah jadwal kelas mata kuliah yang ia ambil memang menguras waktu hingga sore sebelum kurbas dilaksanakan.
Lain yang kurasa, dua hari kebelakang justru malah merasa senang, bisa kubilang harus lebih bersyukur atas nikmat hari-hari yang sedang kujalanin saat ini. Meskipun jam tidurku agak sedikit berantakan karena harus merampungkan tugas-tugas kuliah yang menuntut sesegera mungkin diserahkan. Ya, begitulah. Mahasiswa dengan sejumlah deadlinenya. Hehe.
Dua hari ini merasa optimis menjalani segalanya, energi positif seperti mengalir begitu saja, rasa takut yang ada justru memicu diri untuk lebih berusaha lebih keras lagi, memberi dampak positif yang selama ini aku rindukan dari diriku yang belakangan ini dirasa hilang. Rasanya bisa bersikap lebih tenang, dan lebih bisa berpikir optimis bahwa semua akan dilewati dengan baik-baik saja.
Contohnya kesan di hari ini.
Hari ini adalah giliran aku maju sebagai presentator. Pada mata kuliah ini, baru satu kelompok yang sudah memberikan materi di pertemuan pertama dan itu di tolak. Jalannya presentasi diberhentikan secara tiba-tiba kemudian si presentator dilempari pertanyaan-pertanyaan terkait materi yang akan di sampaikan. Pertanyaannya sangat kompleks, karena menekankan pada konsep yang kita sajikan. Seberapa matang kita dengan konsep yang kita hadirkan. Masalah yang diangkat, teori yang dipakai, metodologi dan bla bla bla nya. Dosenku yang satu ini memang sedikit disiplin, banyak mau, dan segala sesuatunya harus perfeksionis menurut versinya, hal kecil harus diperhatikan sedetail mungkin. Jika tidak, siap-siaplah menerima kritik yang kadang tak jarang keluar begitu pedas dari mulutnya. Tujuannya memang baik, yaitu mendidik. Dari ketelitiannya itu menuntut kita untuk menghindari kesalahan sedikitpun. Di pertemuan pertama temanku tidak mendapat nilai dari presentasi yang ia sajikan karena dianggap belum lolos dan harus menempuh revisi.
Kembali pada giliranku, seminggu setelah kejadian di Rabu lalu aku merasa begitu takut, banyak faktor yang membuat nyali merasa ciut, takut beginilah, begitulah, dan segala kemungkinan kemungkinan yang kurang baik bertebaran dikepalaku saat itu. Dari ketakutan itu kemudian muncul rasa cemas yang memaksaku untuk memaksimalkan sisa waktu sebelum tiba pada giliranku. 5 hari berlalu, perpustakaan dan buku menjadi teman dekatku akhir-akhir ini. Judul dan teori sudah beberapa kali berhasil membuatku mogok makan dan tidur. Tidak pas diganti, dirasa kurang ganti lagi, begitulah terus.
Sampai tiba di senin kemarin, konsep sudah sedikit lebih rapi dan akhirnya aku memutuskan untuk pasrah, memutuskan untuk siap menerima konsekuensi nantinya. Dan dari situ mulailah muncul rasa tenang, hal-hal positif mulai bisa terpikirkan dan efekya mulai aku rasa pada aktivitas lainnya yang kujalani. Yang penting sudah berusaha, hiburku.
Setiap pagi doktrinku pada diri sendiri aku jejali dengan kata kata baik, "aku yakin besok pak dosen akan menerima tugasku, atau optimis besok bisa melewati presentasi dengan baik" terdengar klise mungkin tapi itu berhasil.
So far, presentasiku berjalan lancar. Dan tugasku di terima dengan sedikit masukan. How happy this day was :)

 Idk how i can describe this feeling but i just wanna say thankyou, hamdallah. Maybe its sound strange, tapi ini bagian dari ucapan terimakasi pada diri sendiri yang sudah mau berusaha berdamai dengan rasa takut, menerima keadaan diri, berusaha memaksimalkan potensi diri, berdamain dengan kelemahan serta bersyukur atas kelebihan yang Tuhan titipkan yang sampai saat ini masih mau dijaga. Dan kurasa itu perlu.
Positive vibes di pagi hari itu sangat perlu.
 Dan aku meyakini itu.

-----
Anyway, Kelas kurbasku akan segera dimulai. Dan masih dengan rasa lapar yang sama hehe.
Nanti kita sambung lagi ya.




Kau biru diufuk timur merayu
Tentang samudera dan perihal adamu.
Pada esok beriring fajar tak hendak dibungkus pilu. Pada deru ombak memeluk harap di jangkar kapalmu, atau laut yang berkenan menyapa sekoci mungilku.
Aku berkenalan dengan takdir tuhan dan angin musim yang masam.
 Kuat meruntuhkan layar dikapal.
membawa pesan pada palung dan karang.

Coba lihat rahasia tuhan pada ikan ikan dan mutiara didasar keindahan.
Pada air asin yang mencipta jejak tabu dan hilang.

Kau biru bak permadani di tepi netraku
Pada senja dibalut hembus angin merajut rindu
Mengajak daun nyiur menari bersamaku

Tuhan maha indah bukan, jingganya menyisakan rasa
Pada tiap buih ombak yang bertasbih
Menata cinta pada satu cerita

Ah, aku kehilangan birumu
Pada nestapa yang kutemui di bibir pantaiku
Menuai luka pada tangan yang mendayung sampan sedari dulu
Tapakku tak lagi seasik dulu
Indahmu bak tembang yang melantunkan ilusi kebohongan penipu
Tak kutemui kerang pada karang yang kau ceritakan
Atau dasar keindahan dan samudera yang dikisahkan
Ikan pada biru sejauh mata memandang
Jaring tempat nelayan mengais harapan
Atau alasan mengapa mereka menyapa tuhan

----Oleh : Desty Sri lestari


Apa kabar cita-cita?

Dulu, punya kebiasaan sebelum tidur mesti banget nulis—perihal apapun si, ya diary lah, catatan-catatan kecil kaya do to list, frasa yang bunyinya cenderung galau meskipun lagi ga galau si (tapi gegalauan itu nikmat deh), ya paling engga kalo mager nulis nengok list cita-cita jangka pendek deh. Iya, dulu semasa pondok menjadi rumah dan tempat cita-cita itu tumbuh.
Selepas toga wisuda pondok di pindah ke bagian kiri, kebiasaan itu mulai lalai aku jalankan. Lebih tepatnya karena esok harus persiapan mengemas materi yang akan di sampaikan di kegiatan belajar mengajar (KBM). Waktu satu tahun selepas tamat sekolah jenjang menengah atas membawa aku ke ranah dunia ajar mengajar, atau tepatnya pendidikan. Dari pengalaman itu aku mulai belajar banyak hal, tentu keluar dari zona yang selama ini aku anggap nyaman. Dari kesemua itu agaknya menuntut aku untuk lebih memfilter apa yang semestinya di lakukan terlebih dahulu. Akhirnya kebiasaan membuat catatan sebelum tidur menjadi korban. Lama tertinggalkan dan akhirnya terlupakan. Sekarang baru sadar kebiasaan itu sebetulnya amat sangat berguna, bagaimana tidak, saat memutuskan menulis mau tidak mau aku harus memutar memori seharian itu-tadi ngapain aja ya, kemana aja, dapet apa aja, setelah memutar otak baru sadar tadi dibagian mana kita melakukan kesalahan, bagaimana problem solving yang akan kita temukan. Sampai sini pahamkan bahwa kebiasaan ini sebetulnya penting. Sayangnya tiga tahun kebelakang jarang dilakukan.
And i thing lets begin our routine again, kurasa ini belum begitu terlambat untuk mulai lagi.


Ciputat 01.15

Bahkan sampai dimana kita bertemu
Puisi ku masih tentang mu
Tiap gores lukis ku
Masih saja tangis mu
Atau deru nafas masih perihal canda dahulu
Siapapun takkan pernah terpikir
Kamu yang lenyap
Kini kembali hadir
Sengaja tak ku hirau
Agar kamu hilang
Lalu aku merindu







Pukul 22.09 di kamar kosan

Selamat malam, lagi. Kebetulan ketika sedang menulis ini diluar baru saja reda hujan. Sebelumnya telah menyelesaikan rutinitas magang yang mewajibkan saya-atau kami, untuk segera mungkin mengumpulkan sebuah laporan di awal semester mendatang. Semester 6.

Sebelum isya berkumandang, bapak telpon katanya, aku apa kabar. Untuk orang yang seperti bapak, rasanya hal seperti itu saja amat sangat berkesan bagiku. Karena bapak bukan tipikal ayah yang romantis atau humoris pada anak-anaknya.
Bapak kecelakaan, lebih tepatnya jatuh dari motor menghindari kecelakaan.
Pilu, itu saja. Sederet kalimatpun tak mampu mendeskripsikan hatiku saat itu.
Bapak sudah semakin tua, rasanya aga sedikit merasa berdosa ketika tiba-tiba di hampiri kabar seperti itu.
Mengingat bapak pasti sendirian, alih-alih malah menambah rasa bersalah karena sudah jadi anak rantau selama bertahun-tahun, tapi bapak tetap bilang, "Syukuri saja", lantas mau bagaimana?
.
.
 


Selamat malam, semoga kita selalu bahagia dengan hal-hal sederhana maupun tidak.
Akhir-akhir ini merasa sangat menimbang kembali perihal cita-cita. Kadang berpikir apakah ini ambisi semata?
Ingat tidak 2 tahun lalu pernah bilang " kalo lolos di UIN pasti bisa ini itu" nyatanya, kesempatan itu kamu lewatkan cuma-cuma. Iya paham, kadang kondisi dan benturan sana sini aga sedikit menghambat etos kerja, namun apakah harus berhenti di tengah jalan seperti ini?
Bangun, buka catatanmu, buka lagi cita-cita yang sempat kamu tulis.
Kamu terlalu terlena dengan suasana.
Ini belum terlambat, masih ada 1 tahun kedepan, maksimalkan.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Arsip Blog

  • ▼  2025 (1)
    • ▼  Januari (1)
      • Hallo, sweet heart :)
  • ►  2021 (3)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2020 (15)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (4)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (9)
  • ►  2019 (6)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (3)
  • ►  2018 (2)
    • ►  Desember (2)
Foto saya
Desty Sri Lestari
Sedang belajar memahami banyak hal, antusias dengan berbagai macam pengalaman orang, sedang menyicil ketertinggalan :)
Lihat profil lengkapku

Pengikut

POPULAR POSTS

desty_dyfa

  • Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates